Tips Meraih Kelezatan dalam Ibadah, Nomor 2 Sangat Penting
Jum'at, 05 Agustus 2022 - 10:15 WIB
loading...
Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Iman itu rasanya manis dan bisa dirasakan oleh kita. Rasa manis ini tentu saja hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang jujur kecintaannya terhadap Allah dan RasulNya. Dalam artian, orang yang jujur dalam ibadah -nya maka akan merasakan kelezatan di dalamnya.
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman , yakni Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, ia membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim).
Baca juga: Ketika Kelezatan Ibadah Hilang Karena Maksiat
Dalam arti bahwa, ketika seseorang melakukan ibadah , tapi dia memikirkan sesuatu selain Allah Ta'ala dan rasul-Nya dalam ibadahnya, maka dijamin dia tidak akan menemukan kelezatan dalam ibadahnya. Dirinya mengaku cinta Allah dan rasul-Nya, tapi saat bersamaan dia berlebih-lebihan dalam mencintai hartanya, mencintai profesinya, berlebihan memikirkan kecintaan pada keluarganya, dan lain sebagainya.
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akanmerasakanmanisnyaiman, seorang yangridhaAllah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.”(HR. Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa hanya kecintaan pada Allah dan rasul-Nya lah yang akan memunculkan rasa lezat dan manisnya ibadah.
Al-Imam Ibnul Qayyimrahimahullahpernah menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullahdalam kitab Madarijus Saalikin, bahwa jika seseorang tidak mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan pada amalan yang dia kerjakan maka orang itu harus curiga (dengan amalanmu), karena Rabb (Allah) Ta’ala itu adalah yang Maha Mensyukuri.
Maksudnya, adalah Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Dan sekiranya ia belum mendapatkan semua itu, maka pasti ada kekurangan pada amalannya.
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman , yakni Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, ia membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim).
Baca juga: Ketika Kelezatan Ibadah Hilang Karena Maksiat
Dalam arti bahwa, ketika seseorang melakukan ibadah , tapi dia memikirkan sesuatu selain Allah Ta'ala dan rasul-Nya dalam ibadahnya, maka dijamin dia tidak akan menemukan kelezatan dalam ibadahnya. Dirinya mengaku cinta Allah dan rasul-Nya, tapi saat bersamaan dia berlebih-lebihan dalam mencintai hartanya, mencintai profesinya, berlebihan memikirkan kecintaan pada keluarganya, dan lain sebagainya.
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akanmerasakanmanisnyaiman, seorang yangridhaAllah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.”(HR. Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa hanya kecintaan pada Allah dan rasul-Nya lah yang akan memunculkan rasa lezat dan manisnya ibadah.
Al-Imam Ibnul Qayyimrahimahullahpernah menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullahdalam kitab Madarijus Saalikin, bahwa jika seseorang tidak mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan pada amalan yang dia kerjakan maka orang itu harus curiga (dengan amalanmu), karena Rabb (Allah) Ta’ala itu adalah yang Maha Mensyukuri.
Maksudnya, adalah Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Dan sekiranya ia belum mendapatkan semua itu, maka pasti ada kekurangan pada amalannya.
Lihat Juga :