Ali bin Abi Thalib Menikahi Fatimah di Bulan Muharram
Selasa, 09 Agustus 2022 - 16:14 WIB
loading...
A
A
A
Masyarakat Jawa biasanya melaksanakan hajatan pernikahan pada bulan Dzulhijjah (besar). Bulan tersebut dipercaya sebagai bulan keselamatan. Maka pada bulan ini, banyak digelar pernikahan.
Selain itu, bulan yang dianggap bagus untuk hajatan pernikahan adalah bulan Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban.
Kebiasaan orang Jawa sejak dulu, orang tua dari anak yang akan menikah pergi terlebih dahulu kepada orang yang dianggap ahli dalam ilmu primbon atau pada umumnya kepada kiai yang paham ilmu tersebut.
Tujuannya, mencari waktu baik untuk menikahkan anaknya, agar perjalanan hidupnya menjadi lancar. Tak heran kebiasaan dan kepercayaan hari buruk dan baik itu masih dipelihara.
Baca juga: Amalan-amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Sejatinya, kepercayaan seperti itu bukan hanya monopoli orang Jawa. Sejarah bangsa Arab jahiliyah mempunyai cerita yang sama perihal penentuan waktu pernikahan, yaitu tidak boleh menikah di bulan Syawal, karena dipercaya sebagai bulan yang sial.
Kemudian Islam membantah itu melalui pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah pada bulan Syawal. Hal tersebut seperti dalam sebuah hadis Imam Abi al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy al-Nisabury, Shahih Muslim, juz 1, bab Istihbab al-tazawwaj al-tazwij fi syawal wa istihbab al-dukhul fihi. Kitab Nikah. Bairut: DKI, 1991, halaman: 1039).
Rasulullah menikahi Siti Aisyah pada bulan Syawal dan berumah tangga pada bulan itu. Hal ini menunjukkan jika menikah di bulan Syawal tidak terjadi suatu kesialan apa pun. Rumah tangga pasangan ini berjalan bahagia dan romantis. Rasululah mencontohkan pada dirinya sendiri untuk membantah kepercayaan jahiliyah tersebut.
Di Aceh, juga masih ada yang mempercayai jika bulan Syawal adalah bulan sial. Sementara di sebagian wilayah di Pamekasan justru menikahkan putra-putrinya di bulan Syawal, ittiba’ terhadap pernikahan Nabi dengan Siti Aisyah.
Baca juga: Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan yang Dianjurkan
Selain itu, bulan yang dianggap bagus untuk hajatan pernikahan adalah bulan Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban.
Kebiasaan orang Jawa sejak dulu, orang tua dari anak yang akan menikah pergi terlebih dahulu kepada orang yang dianggap ahli dalam ilmu primbon atau pada umumnya kepada kiai yang paham ilmu tersebut.
Tujuannya, mencari waktu baik untuk menikahkan anaknya, agar perjalanan hidupnya menjadi lancar. Tak heran kebiasaan dan kepercayaan hari buruk dan baik itu masih dipelihara.
Baca juga: Amalan-amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Sejatinya, kepercayaan seperti itu bukan hanya monopoli orang Jawa. Sejarah bangsa Arab jahiliyah mempunyai cerita yang sama perihal penentuan waktu pernikahan, yaitu tidak boleh menikah di bulan Syawal, karena dipercaya sebagai bulan yang sial.
Kemudian Islam membantah itu melalui pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah pada bulan Syawal. Hal tersebut seperti dalam sebuah hadis Imam Abi al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy al-Nisabury, Shahih Muslim, juz 1, bab Istihbab al-tazawwaj al-tazwij fi syawal wa istihbab al-dukhul fihi. Kitab Nikah. Bairut: DKI, 1991, halaman: 1039).
Rasulullah menikahi Siti Aisyah pada bulan Syawal dan berumah tangga pada bulan itu. Hal ini menunjukkan jika menikah di bulan Syawal tidak terjadi suatu kesialan apa pun. Rumah tangga pasangan ini berjalan bahagia dan romantis. Rasululah mencontohkan pada dirinya sendiri untuk membantah kepercayaan jahiliyah tersebut.
Di Aceh, juga masih ada yang mempercayai jika bulan Syawal adalah bulan sial. Sementara di sebagian wilayah di Pamekasan justru menikahkan putra-putrinya di bulan Syawal, ittiba’ terhadap pernikahan Nabi dengan Siti Aisyah.
Baca juga: Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan yang Dianjurkan
Lihat Juga :