Abu Nawas Lapang Dada Kendati Dihina dan Dicaci Sesama Penyair
Selasa, 30 Juni 2020 - 07:43 WIB
loading...
Jangan main-main dengan Abu Nawas. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Kisah ini disarikan dari kitab Abu Nuwas fi nawadirihi wa ba’di qasaidihi, karya Salim Samsuddin. (Baca juga: Abu Nawas Bikin Sensasi Agar Dipanggil Baginda )
Alkisah, salah seorang penyair dengan terang-terangan mencaci, mengejek, dan menghina Abu Nawas. Tentu ia melakukannya tidak di hadapan Abu Nawas secara langsung. Dalam kisah ini nama penyair ini tidak disebutkan.
Namun, peristiwa itu pun akhirnya sampai juga di telinga Abu Nawas. Abu Nawas biasa saja, sepertinya ia telah menyusun rencana yang matang.(Baca juga: Urusan Pusar ke Bawah Sampai Cara Membagi Telur Gaya Abu Nawas )
Singkat cerita, suatu hari digelarlah suatu perayaan. Perayaan ini dihadiri oleh para tokoh, pemuka kerajaan, dan juga para penyair sekaligus sastrawan. Akhirnya, di perayaan itu bertemulah keduanya, Abu Nawas dan penyair yang mengejeknya.
(Baca juga: Abu Nawas, Abu Wardah, dan Seorang Pengemis )
Kini Abu Nawas membuka pembicaraan, “Wahai saudaraku, apa kau kira cacianmu dan hinaanmu itu merugikanku? Apa kau kira namaku akan redup? Apa kau kira anakku mati mendengar cacianmu?” sergah Abu Nawas bertanya.
“Tidak,” jawab si penyair singkat.
“Apa rumahku hancur mendengar cacianmu?” sergah Abu Nawas lagi.
“Tidak,” jawab si penyair singkat. (Baca juga: Bohongi Prajurit Kerajaan, Abu Nawas Ditangkap dan Diborgol )
“Kalau begitu, selagi kakiku masih menopang badanku, cacianmu tak dapat mengubah apapun dalam hidupku, sampai kapan pun,” tegas Abu Nawas.
Kini penyair itu mulai tersulut dengan perkataan Abu Nawas.
Alkisah, salah seorang penyair dengan terang-terangan mencaci, mengejek, dan menghina Abu Nawas. Tentu ia melakukannya tidak di hadapan Abu Nawas secara langsung. Dalam kisah ini nama penyair ini tidak disebutkan.
Namun, peristiwa itu pun akhirnya sampai juga di telinga Abu Nawas. Abu Nawas biasa saja, sepertinya ia telah menyusun rencana yang matang.(Baca juga: Urusan Pusar ke Bawah Sampai Cara Membagi Telur Gaya Abu Nawas )
Singkat cerita, suatu hari digelarlah suatu perayaan. Perayaan ini dihadiri oleh para tokoh, pemuka kerajaan, dan juga para penyair sekaligus sastrawan. Akhirnya, di perayaan itu bertemulah keduanya, Abu Nawas dan penyair yang mengejeknya.
(Baca juga: Abu Nawas, Abu Wardah, dan Seorang Pengemis )
Kini Abu Nawas membuka pembicaraan, “Wahai saudaraku, apa kau kira cacianmu dan hinaanmu itu merugikanku? Apa kau kira namaku akan redup? Apa kau kira anakku mati mendengar cacianmu?” sergah Abu Nawas bertanya.
“Tidak,” jawab si penyair singkat.
“Apa rumahku hancur mendengar cacianmu?” sergah Abu Nawas lagi.
“Tidak,” jawab si penyair singkat. (Baca juga: Bohongi Prajurit Kerajaan, Abu Nawas Ditangkap dan Diborgol )
“Kalau begitu, selagi kakiku masih menopang badanku, cacianmu tak dapat mengubah apapun dalam hidupku, sampai kapan pun,” tegas Abu Nawas.
Kini penyair itu mulai tersulut dengan perkataan Abu Nawas.
Lihat Juga :