Ahli Kitab pada Masa Turunnya Al-Qur'an Menurut Quraish Shihab
Senin, 09 September 2024 - 12:22 WIB
loading...
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
SEBELUMmembuka lembaran ayat-ayat Al-Qur'an perlu kiranya kita menoleh ke sejarah dakwah Islamiah yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW . Sepuluh tahun lamanya beliau melaksanakan misi kerasulan di Makkah , dan yang dihadapi di sana adalah kaum musyrik penyembah berhala.
"Di kota Makkah sendiri penganut agama Yahudi sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada. Musuh pertama dan utama ketika itu adalah orang-orang Makkah, dan mereka itu disebut oleh Al-Qur'an sebagai al-musyrikun," tulis Prof Dr Quraish Shihab dalambukunya berjudul "Wawasan al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat".
Penindasan kaum musyrik di Makkah terhadap kaum Muslim, memaksa sebagian kaum Muslim melakukan hijrah pertama ke Ethiopia . Di sana mereka disambut dengan baik oleh Negus, penguasa yang beragama Nasrani .
Baca juga: Menikah dengan Perempuan Ahli Kitab Boleh, Ini Syaratnya!
Masyarakat Madinah terdiri dari dua kelompok besar, yaitu Aus dan Khazraj, serta orang-orang Yahudi yang memiliki kekuatan ekonomi yang cukup memadai. Aus dan Khazraj saling bermusuhan dan berperang. Tidak jarang pula terjadi
perselisihan dan permusuhan antara mereka dengan orang Yahudi. Pertempuran dan perselisihan itu melelahkan semua pihak; sayang tidak ada di antara mereka yang memiliki wibawa yang dapat mempersatukan kelompok-kelompok yang bertikai ini.
Orang-orang Yahudi sering mengemukakan kepada Aus dan Khazraj, bahwa akan datang seorang Nabi (dari kelompok mereka), dan bila ia datang pastilah kaum Yahudi akan mengalahkan musuh-musuhnya. Dalam konteks ini Al-Qur'an menyatakan - menyangkut orang Yahudi - bahwa:
"Setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dan Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (demi kedatangan Nabi yang dijanjikan) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu" ( QS Al-Baqarah [2] : 89).
Menurut Quraish, yang dimaksud dengan "membenarkan apa yang ada pada mereka" adalah kehadiran seorang Nabi, yang dalam hal ini Nabi Muhammad SAW. Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjelaskan apa yang dimaksud dengan "padahal sebelumnya mereka biasa memohon" adalah bahwa orang Yahudi Khaibar berperang melawan Arab Gathfan, tetapi mereka dikalahkan, maka ketika itu orang-orang Yahudi berdoa: "Kami bermohon kepada-Mu demi Nabi Ummi yang engkau janjikan untuk mengutusnya kepada kami di akhir zaman, menangkanlah kami atas mereka" sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka."
Baca juga: Perkawinan Beda Agama: Hukum Menikahi Perempuan Ahli Kitab
Al-Qur'an juga menginformasikan bahwa keengganan mereka beriman disebabkan oleh karena "kedengkian dan iri hati mereka" ( QS Al-Baqarah [2] : 109). Tadinya mereka menduga bahwa Nabi tersebut dari Bani Israil, tetapi ternyata dari golongan Arab yang merupakan seteru mereka.
"Di kota Makkah sendiri penganut agama Yahudi sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada. Musuh pertama dan utama ketika itu adalah orang-orang Makkah, dan mereka itu disebut oleh Al-Qur'an sebagai al-musyrikun," tulis Prof Dr Quraish Shihab dalambukunya berjudul "Wawasan al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat".
Penindasan kaum musyrik di Makkah terhadap kaum Muslim, memaksa sebagian kaum Muslim melakukan hijrah pertama ke Ethiopia . Di sana mereka disambut dengan baik oleh Negus, penguasa yang beragama Nasrani .
Baca juga: Menikah dengan Perempuan Ahli Kitab Boleh, Ini Syaratnya!
Masyarakat Madinah terdiri dari dua kelompok besar, yaitu Aus dan Khazraj, serta orang-orang Yahudi yang memiliki kekuatan ekonomi yang cukup memadai. Aus dan Khazraj saling bermusuhan dan berperang. Tidak jarang pula terjadi
perselisihan dan permusuhan antara mereka dengan orang Yahudi. Pertempuran dan perselisihan itu melelahkan semua pihak; sayang tidak ada di antara mereka yang memiliki wibawa yang dapat mempersatukan kelompok-kelompok yang bertikai ini.
Orang-orang Yahudi sering mengemukakan kepada Aus dan Khazraj, bahwa akan datang seorang Nabi (dari kelompok mereka), dan bila ia datang pastilah kaum Yahudi akan mengalahkan musuh-musuhnya. Dalam konteks ini Al-Qur'an menyatakan - menyangkut orang Yahudi - bahwa:
"Setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dan Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (demi kedatangan Nabi yang dijanjikan) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu" ( QS Al-Baqarah [2] : 89).
Menurut Quraish, yang dimaksud dengan "membenarkan apa yang ada pada mereka" adalah kehadiran seorang Nabi, yang dalam hal ini Nabi Muhammad SAW. Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjelaskan apa yang dimaksud dengan "padahal sebelumnya mereka biasa memohon" adalah bahwa orang Yahudi Khaibar berperang melawan Arab Gathfan, tetapi mereka dikalahkan, maka ketika itu orang-orang Yahudi berdoa: "Kami bermohon kepada-Mu demi Nabi Ummi yang engkau janjikan untuk mengutusnya kepada kami di akhir zaman, menangkanlah kami atas mereka" sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka."
Baca juga: Perkawinan Beda Agama: Hukum Menikahi Perempuan Ahli Kitab
Al-Qur'an juga menginformasikan bahwa keengganan mereka beriman disebabkan oleh karena "kedengkian dan iri hati mereka" ( QS Al-Baqarah [2] : 109). Tadinya mereka menduga bahwa Nabi tersebut dari Bani Israil, tetapi ternyata dari golongan Arab yang merupakan seteru mereka.
Lihat Juga :