Surga yang Dihuni Adam dan Hawa, Kesejahteraan Sosial yang Didambakan Al-Qur'an
Senin, 22 Agustus 2022 - 10:43 WIB
loading...
Kesejahteraan sosial yang didambakan Al-Quran tecermin dari surga yang dihuni oleh Adam dan Hawa, sesaat sebelum turunnya mereka melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi.. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Sebagian pakar menyatakan bahwa kesejahteraan sosial yang didambakan Al-Qur'an tecermin dari surga yang dihuni oleh Adam dan Hawa , sesaat sebelum turunnya mereka melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi. Al-Qur'an telah menginformasikan bahwa sebelum Adam dan istrinya diperintahkan turun ke bumi, mereka terlebih dahulu ditempatkan di surga.
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" mengatakan surga diharapkan menjadi arah pengabdian Adam dan Hawa, sehingga bayang-bayang surga itu diwujudkannya di bumi, serta kelak dihuninya secara hakiki di akhirat. Masyarakat yang mewujudkan bayang-bayang surga itu adalah masyarakat yang berkesejahteraan.
Baca juga: Sebelum Diturunkan ke Bumi, Dimanakah Surga yang Ditinggali Nabi Adam dan Hawa?
Kesejahteraan surgawi dilukiskan antara lain dalam peringatan Allah kepada Adam: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang akibatnya engkau akan bersusah payah. Sesungguhnya engkau tidak akan kelaparan di sini (surga), tidak pula akan telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan merasa dahaga maupun kepanasan". ( QS Thaha [20] : 117- 119)
Quraish Shihab menjelaskan dari ayat ini jelas bahwa pangan, sandang, dan papan yang diistilahkan dengan tidak lapar, dahaga, telanjang, dan kepanasan semuanya telah terpenuhi di sana. "Terpenuhinya kebutuhan ini merupakan unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial," ujarnya.
Menurut Quraish Shihab, dari ayat lain diperoleh informasi bahwa masyarakat di surga hidup dalam suasana damai, harmonis, tidak terdapat suatu dosa, dan tidak ada sesuatu yang tidak wajar, serta tiada pengangguran ataupun sesuatu yang sia-sia:
"Mereka tidak mendengar di dalamnya (surga) perkataan sia-sia; tidak pula (terdengar adanya) dosa, tetapi ucapan salam dan salam (sikap damai)". ( QS Al-Waqi'ah [56] : 25 dan 26).
Mereka hidup bahagia bersama sanak keluarganya yang beriman. (Baca surat Ya Sin [36] : 55-58, dan Al-Thur [52] : 21).
Baca juga: Adam dan Hawa Terpedaya Karena Ingin Hidup Kekal di Surga
Adam bersama istrinya diharapkan dapat mewujudkan bayang-bayang surga itu di permukaan bumi ini dengan usaha sungguh-sungguh, berpedoman kepada petunjuk-petunjuk Ilahi.
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" mengatakan surga diharapkan menjadi arah pengabdian Adam dan Hawa, sehingga bayang-bayang surga itu diwujudkannya di bumi, serta kelak dihuninya secara hakiki di akhirat. Masyarakat yang mewujudkan bayang-bayang surga itu adalah masyarakat yang berkesejahteraan.
Baca juga: Sebelum Diturunkan ke Bumi, Dimanakah Surga yang Ditinggali Nabi Adam dan Hawa?
Kesejahteraan surgawi dilukiskan antara lain dalam peringatan Allah kepada Adam: "Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang akibatnya engkau akan bersusah payah. Sesungguhnya engkau tidak akan kelaparan di sini (surga), tidak pula akan telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan merasa dahaga maupun kepanasan". ( QS Thaha [20] : 117- 119)
Quraish Shihab menjelaskan dari ayat ini jelas bahwa pangan, sandang, dan papan yang diistilahkan dengan tidak lapar, dahaga, telanjang, dan kepanasan semuanya telah terpenuhi di sana. "Terpenuhinya kebutuhan ini merupakan unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial," ujarnya.
Menurut Quraish Shihab, dari ayat lain diperoleh informasi bahwa masyarakat di surga hidup dalam suasana damai, harmonis, tidak terdapat suatu dosa, dan tidak ada sesuatu yang tidak wajar, serta tiada pengangguran ataupun sesuatu yang sia-sia:
"Mereka tidak mendengar di dalamnya (surga) perkataan sia-sia; tidak pula (terdengar adanya) dosa, tetapi ucapan salam dan salam (sikap damai)". ( QS Al-Waqi'ah [56] : 25 dan 26).
Mereka hidup bahagia bersama sanak keluarganya yang beriman. (Baca surat Ya Sin [36] : 55-58, dan Al-Thur [52] : 21).
Baca juga: Adam dan Hawa Terpedaya Karena Ingin Hidup Kekal di Surga
Adam bersama istrinya diharapkan dapat mewujudkan bayang-bayang surga itu di permukaan bumi ini dengan usaha sungguh-sungguh, berpedoman kepada petunjuk-petunjuk Ilahi.
Lihat Juga :