alexametrics

Kisah Sufi

Jalan Gunung: Ahli Logika Cenderung Buram Matanya, Benarkah?

loading...
Jalan Gunung: Ahli Logika Cenderung Buram Matanya, Benarkah?
Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa dia tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya lewat sungai. Foto/Ilustrasi/Pinterest
"Orang-orang menganggap kemampuan dan berkah para Sufi sulit dipercaya. Tetapi, orang-orang semacam itu tidak memiliki pengetahuan tentang kepercayaan yang sebenarnya. Mereka mempercayai segala hal yang tidak benar karena kebiasaan atau karena diberitahu oleh penguasa." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Waktu, Tempat, dan Orang)

"Kepercayaan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang lain. Mereka yang mampu memiliki kepercayaan yang sebenarnya adalah yang pernah mengalami sesuatu. Ketika mereka telah mengalami kemampuan dan berkah yang sekadar dikabarkan tidak ada artinya bagi mereka." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Berharga dan Tak Berharga)

Kata-kata tersebut, menurut Sayed Shah (Qadiri, wafat tahun 1854) kadang-kadang mengawali kisah 'Jalan Gunung'.
Berikut adalah kisah 'Jalan Gunung' yang dimaksud. Kisah ini dinukil dari Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi yang diterjemahkan oleh Ahmad Bahar dari Idries Shah, Tales of The Dervishes.



Baca juga: Tiga Nasihat Berharga dari Burung yang Tertangkap

Jalan Gunung
Pada suatu hari, seorang yang cerdas, sarjana yang pikirannya terlatih, datang ke sebuah desa. Ia berikhtiar membandingkan, sebagai latihan dan pendalaman ilmunya, pandangan yang berbeda-beda yang mungkin ada di desa itu. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Raja Ingin Menjadi Dermawan)

Ia mendatangi sebuah penginapan dan bertanya kepada seorang yang paling jujur dan yang paling bohong di desa itu. Orang-orang di penginapan itu sepakat bahwa orang yang bernama Kazzab adalah pembohong terbesar, dan Rastgu adalah orang yang paling jujur. Secara bergantian ia pun menemui keduanya, dan mengajukan pertanyaan sederhana, "Jalan manakah yang terbaik untuk sampai ke desa tetangga?"

Rastgu Si Jujur berkata, "Jalan gunung."

Kazzab Si Pembohong juga berkata, "Jalan gunung." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Orang Berjalan di Atas Air)

Jawaban tersebut membingungkan musafir itu.

Maka, ia pun bertanya kepada orang-orang lain, penduduk desa biasa. Ada yang berkata, "Lewat sungai"; yang lain, "lewat padang."

Dan ada pula yang mengatakan, "Jalan gunung."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin)

Ia mengambil jalan gunung, tetapi berkenaan dengan tujuan perjalanannya tadi, masalah tentang orang jujur dan orang bohong di desa itu mengganggu pikirannya.

Ketika ia sampai ke desa berikutnya, diceritakannya kisahnya di sebuah penginapan, dan mengakhirinya dengan mengatakan, "Aku jelas telah membuat kekeliruan logis yang mendasar dengan menanyai orang-orang yang tidak tepat perihal Si Jujur dan Si Bohong. Toh, aku telah sampai di sini tanpa hambatan, lewat jalan gunung."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen)

Seorang bijaksana yang berada di situ berkata, "Harus diakui, para ahli logika cenderung buram matanya, dan mesti meminta orang lain membantunya. Tetapi, soal yang terjadi kali ini adalah sebaliknya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata)

Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya jalan termudah, maka Si Bohong menyarankan jalan gunung. Tetapi, Si Jujur itu tidak hanya jujur. Ia tahu bahwa Saudara membawa keledai yang memudahkan perjalanan Saudara. Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa Saudara tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya Saudara lewat sungai." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu)
(mhy)
cover top ayah
اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ فِى الدَّرۡكِ الۡاَسۡفَلِ مِنَ النَّارِ‌ ۚ وَلَنۡ تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيۡرًا
Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

(QS. An-Nisa:145)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak