Jalan Gunung: Ahli Logika Cenderung Buram Matanya, Benarkah?
Rabu, 01 Juli 2020 - 06:15 WIB
loading...
A
A
A
Dan ada pula yang mengatakan, "Jalan gunung."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin )
Ia mengambil jalan gunung, tetapi berkenaan dengan tujuan perjalanannya tadi, masalah tentang orang jujur dan orang bohong di desa itu mengganggu pikirannya.
Ketika ia sampai ke desa berikutnya, diceritakannya kisahnya di sebuah penginapan, dan mengakhirinya dengan mengatakan, "Aku jelas telah membuat kekeliruan logis yang mendasar dengan menanyai orang-orang yang tidak tepat perihal Si Jujur dan Si Bohong. Toh, aku telah sampai di sini tanpa hambatan, lewat jalan gunung."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
Seorang bijaksana yang berada di situ berkata, "Harus diakui, para ahli logika cenderung buram matanya, dan mesti meminta orang lain membantunya. Tetapi, soal yang terjadi kali ini adalah sebaliknya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata )
Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya jalan termudah, maka Si Bohong menyarankan jalan gunung. Tetapi, Si Jujur itu tidak hanya jujur. Ia tahu bahwa Saudara membawa keledai yang memudahkan perjalanan Saudara. Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa Saudara tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya Saudara lewat sungai." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
Ia mengambil jalan gunung, tetapi berkenaan dengan tujuan perjalanannya tadi, masalah tentang orang jujur dan orang bohong di desa itu mengganggu pikirannya.
Ketika ia sampai ke desa berikutnya, diceritakannya kisahnya di sebuah penginapan, dan mengakhirinya dengan mengatakan, "Aku jelas telah membuat kekeliruan logis yang mendasar dengan menanyai orang-orang yang tidak tepat perihal Si Jujur dan Si Bohong. Toh, aku telah sampai di sini tanpa hambatan, lewat jalan gunung."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
Seorang bijaksana yang berada di situ berkata, "Harus diakui, para ahli logika cenderung buram matanya, dan mesti meminta orang lain membantunya. Tetapi, soal yang terjadi kali ini adalah sebaliknya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata )
Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya jalan termudah, maka Si Bohong menyarankan jalan gunung. Tetapi, Si Jujur itu tidak hanya jujur. Ia tahu bahwa Saudara membawa keledai yang memudahkan perjalanan Saudara. Si Bohong kebetulan tidak memperhatikan bahwa Saudara tak punya perahu: kalau ia tahu, tentu akan disuruhnya Saudara lewat sungai." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
(mhy)
Lihat Juga :