Sebuah Misteri, Mencari Makna Merak dan Ular
Kamis, 02 Juli 2020 - 06:20 WIB
loading...
A
A
A
"Aku, sebaliknya," kata Ular, sambil mendesis perlahan, "melambangkan hal-hal itu juga. Seperti manusia, aku terbatas pada bumi. Hal ini mengingatkan manusia tentang dirinya. Seperti pula manusia, aku lentur sehingga bisa meliuk menyusur tanah. Manusia sering kali melupakan hal itu juga. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Orang Berjalan di Atas Air )
Dalam dongeng, akulah penjaga harta yang tersembunyi di bumi." "Tetapi kau menjijikan," teriak Merak, "kau licik, dingin, dan berbahaya."
"Kau menyebut sifat-sifat manusiaku," kata Ular, "sedangkan aku lebih suka menampilkan sifat-sifatku yang lain, yang sudah kusebut tadi. Sekarang, lihat dirimu sendiri kau sombong, kegemukan, dan suaramu parau. Kakimu kebesaran, bulu-bulumu terlalu panjang."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin )
Pada saat itu, Adi menyela, "Hanya ketidakcocokan kalianlah yang telah membuatku mengetahui bahwa tak satu pun dari kalian yang benar. Dan sekalipun begitu, kita sama-sama jelas melihat, apabila kalian meninggalkan keasyikan diri sendiri, bahwa kalian bersama-sama telah memberi pesan bagi kemanusiaan."
Dan, sementara kedua binatang itu mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka masing-masing. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
"Manusia melata di tanah seperti Si Ular. Ia sanggup melayang tinggi bagai burung. Namun, seperti halnya ular yang tamak, ia memelihara keegoisannya ketika berusaha terbang, dan menjadi layaknya Merak, terlalu angkuh. Dalam diri Merak, kita bisa melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Dalam kemilau Ular, kita bisa menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak."
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata )
Dan kemudian terdengar suara dari dalam berbicara kepada Adi, "Bukan hanya itu. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan itulah faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah menjalani jenis kehidupannya sendiri, mengira bahwa itu merupakan perwujudan kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang satu menjagai harta karun, tetapi tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, suatu harta juga, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Meskipun tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang terbuka bagi mereka, mereka melambangkannya, bagi orang-orang yang bisa melihat dan mendengarnya."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
Dalam dongeng, akulah penjaga harta yang tersembunyi di bumi." "Tetapi kau menjijikan," teriak Merak, "kau licik, dingin, dan berbahaya."
"Kau menyebut sifat-sifat manusiaku," kata Ular, "sedangkan aku lebih suka menampilkan sifat-sifatku yang lain, yang sudah kusebut tadi. Sekarang, lihat dirimu sendiri kau sombong, kegemukan, dan suaramu parau. Kakimu kebesaran, bulu-bulumu terlalu panjang."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin )
Pada saat itu, Adi menyela, "Hanya ketidakcocokan kalianlah yang telah membuatku mengetahui bahwa tak satu pun dari kalian yang benar. Dan sekalipun begitu, kita sama-sama jelas melihat, apabila kalian meninggalkan keasyikan diri sendiri, bahwa kalian bersama-sama telah memberi pesan bagi kemanusiaan."
Dan, sementara kedua binatang itu mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka masing-masing. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
"Manusia melata di tanah seperti Si Ular. Ia sanggup melayang tinggi bagai burung. Namun, seperti halnya ular yang tamak, ia memelihara keegoisannya ketika berusaha terbang, dan menjadi layaknya Merak, terlalu angkuh. Dalam diri Merak, kita bisa melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Dalam kemilau Ular, kita bisa menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak."
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata )
Dan kemudian terdengar suara dari dalam berbicara kepada Adi, "Bukan hanya itu. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan itulah faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah menjalani jenis kehidupannya sendiri, mengira bahwa itu merupakan perwujudan kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang satu menjagai harta karun, tetapi tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, suatu harta juga, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Meskipun tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang terbuka bagi mereka, mereka melambangkannya, bagi orang-orang yang bisa melihat dan mendengarnya."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
(mhy)
Lihat Juga :