3 Hikmah Besar pada Penciptaan Matahari dan Bulan

loading...
3 Hikmah Besar pada Penciptaan Matahari dan Bulan
Allah menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya sebagai salah satu bukti kekuasaan-Nya. Foto ilustrasi/dok istockphoto
Selain menciptakan langit dan bumi, Allah menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya sebagai bukti kekuasaan-Nya. Setidaknya ada tiga hikmah besar yang patut kita ketahui pada penciptaan matahari dan bulan.

Matahari dan bulan adalah dua benda langit yang banyak disebut dalam Al-Qur'an. Kata bulan disebut dalam 27 ayat dan matahari dalam 33 ayat. Seringkali kedua benda ini disebut secara bersamaan dalam satu ayat. Terdapat 17 ayat menyebut matahari dan bulan secara beriringan.

Baca Juga: Hikmah Pergantian Siang dan Malam Menurut Al-Qur'an dan Sains

Kita perlu membedakan antara cahaya yang dipancarkan matahari dan yang dipantulkan oleh bulan. Yang dipancarkan oleh matahari disebut "dhiya" (sinar), sedang yang dipantulkan oleh bulan disebut "Nur" (cahaya).

Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta'ala melalui Al-Qur'an :

هُوَ الَّذِىۡ جَعَلَ الشَّمۡسَ ضِيَآءً وَّالۡقَمَرَ نُوۡرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعۡلَمُوۡا عَدَدَ السِّنِيۡنَ وَالۡحِسَابَ‌ؕ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالۡحَـقِّ‌ۚ يُفَصِّلُ الۡاٰيٰتِ لِقَوۡمٍ يَّعۡلَمُوۡنَ

Artinya: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." (QS Yunus Ayat 5)

3 Hikmah Besar
Ayat 5 dari Surat Yunus di atas merupakan contoh ayat yang menyebutkan matahari dan bulan secara beriringan. Mengutip tafsir Kemenag, ada tiga hikmah besar di balik penciptaan matahari dan bulan, yaitu:

1. Cahaya Matahari dan Bulan yang Berbeda
Allah menyebut matahari dan bulan dengan sebutan yang berbeda. Meskipun kedua benda langit ini sama-sama memancarkan cahaya ke bumi, namun sebutan cahaya dari keduanya disebut secara berbeda. Matahari disebut dengan sebutan dhiya dan bulan dengan sebutan Nur.

Hal ini untuk membedakan sifat cahaya yang dipancarkan oleh kedua benda ini. Dewasa ini, ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa cahaya matahari berasal dari reaksi nuklir yang menghasilkan panas yang sangat tinggi dan cahaya yang terang benderang. Sementara itu cahaya bulan hanya berasal dari pantulan cahaya matahari yang dipantulkan oleh permukaan bulan ke bumi.

Istilah yang berbeda ini menunjukkan bahwa memang Al-Qur'an berasal dari Allah, karena pada waktu Al-Quran diturunkan pengetahuan manusia belum mencapai pemahaman seperti ini. Pada ayat lain, matahari disebut sebagai siraj (lampu) dan bulan disebut sebagai munir (cerah berbinar-binar). (Al-Furqan: 61)

2. Matahari dan Bulan Selalu Berada pada Orbitnya
Matahari dan bulan senantiasa berada pada orbitnya atau garis edar tertentu (wa qaddarahu manazila). Garis edar ini tunduk pada hukum yang telah dibuat Allah, yaitu hukum gravitasi yang mengatakan bahwa ada gaya tarik menarik antara dua benda yang memiliki masa.

Besarnya gaya tarik menarik ini berbanding lurus dengan massa dari kedua benda tersebut dan berbanding terbalik dengan jarak antara keduanya. Dalam ilmu Sains, Newton memformulasikan hukum gravitasi pada abad ke-18. Perhitungan menggunakan hukum gravitasi ini telah berhasil menghitung secara akurat garis edar yang dilalui oleh bulan ketika mengelilingi bumi, maupun bumi ketika mengelilingi matahari.

Hukum gravitasi inilah yang dimaksud oleh Allah ketika Dia berfirman dalam Surat Al-Araf Ayat 54 yang artinya: "...(Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya."

Matahari, bulan, dan bintang tunduk kepada ketentuan Allah, yakni hukum gravitasi yang mengendalikan gerak benda. Di berbagai ayat lainnya sering disebutkan bahwa Allah-lah yang telah menundukkan bulan dan matahari bagi manusia. (Lihat Surat ar-Rad: 2, QS Ibrahim: 33, QS an-Nahl: 12, QS Luqman: 29, QS Fathir: 13, QS az-Zumar: 5).

3. Garis Edar yang Teratur untuk Perhitungan Tahun dan Ilmu Hisab
Hal berikutnya tentang penciptaan matahari dan bulan ini dimaksudkan agar manusia mengetahui perhitungan tahun dan ilmu hisab (litalamu adad as-sinina walhisab). Bisa dibayangkan, seandainya bulan dan matahari tidak berada pada garis edar yang teratur, atau dengan kata lain beredar secara acak, bagaimana kita dapat menghitung berapa lama waktu satu tahun atau satu bulan? Maha Suci Allah yang Maha Pengasih yang telah menetapkan segalanya bagi kemudahan manusia.

Terkait kegunaannya terdapat perbedaan antara sinar matahari dan cahaya bulan. Sinar matahari lebih keras dari cahaya bulan. Sinar matahari itu terdiri atas tujuh warna dasar sekalipun dalam bentuk keseluruhannya kelihatan berwarna putih, sedang cahaya bulan adalah lembut, dan menimbulkan ketenangan bagi orang yang melihat dan merasakannya.

Demikian pula kegunaannya. Sinar matahari seperti disebutkan di atas adalah sumber hidup dan kehidupan, sumber gerak tenaga dan energi. Sedang cahaya bulan adalah penyuluh di waktu malam.

Tidak terhitung banyak kegunaan dan faedah sinar matahari dan cahaya bulan itu bagi makhluk Allah pada umumnya, dan bagi manusia pada khususnya. Semuanya itu dapat dijadikan dalil tentang adanya Allah Yang Maha Esa bagi orang-orang yang mau menggunakan akal dan perasaannya.

Ketetapan Garis Edar
Allah menerangkan bahwa Dia telah menetapkan garis edar dari bulan dan menetapkan manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan-Nya. Pada tiap malam, bulan melalui suatu manzilah.

Sejak dari manzilah pertama sampai manzilah terakhir memerlukan waktu antara 29 atau 30 malam atau disebut satu bulan. Dalam sebulan itu bulan hanya dapat dilihat selama 27 atau 28 malam, sedang pada malam-malam yang lain bulan tidak dapat dilihat, sebagaimana firman Allah: "Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai tempat peredaranya yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua." (QS Yasin Ayat 39)
halaman ke-1
preload video