alexametrics

Fashion dan Kecantikan Muslimah

Ternyata Ilmuwan Muslim Berkontribusi Banyak Pada Teknologi Kecantikan

loading...
Ternyata Ilmuwan Muslim Berkontribusi Banyak Pada Teknologi Kecantikan
Ternyata banyak kontribusi ilmuwan Muslim dalam pengembangan teknologi dan produk kecantikan saat ini. Foto ilustrasi/islamicity/ist
Muslimah dan kecantikan, sepertinya dua sisi yang selalu beriringan. Tampil cantik dan menarik, adalah hasil akhir yang diinginkan dari penampilan kaum Hawaini. Untuk mendapatkan kecantikan tersebut, banyak cara dilakukan, baik secara tradisional maupun cara moderen.

Di era modern saat ini, tak dipungkiri kaum wanita yang melakukan perawatan kecantikandengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada seperti sulam alis, extension bulu mata, sedot lemak hingga operasi plastik. Teknologi kecantikan ini sebenarnya memiliki biaya lebih besar ketimbang menggunakan cara alami. Tetapi karena hasilnya jauh lebih cepat dan praktis maka banyak perempuan yang merasa tidak keberatan dengan biaya yang akan dikeluarkan. Oleh sebab itu teknologi kecantikan pada saat ini menjadi salah satu fenomena di era modern, terutama di kalangan wanita termasuk muslimah.

Pada dasarnya, Islam tidak melarang muslimah untuk mempercantik diri. Namun demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang perbuatan yang berlebihan, terlebih sampai mencelakai diri sendiri. Mempercantik diri boleh saja selama hal itu tidak ditujukan untuk dosa dan kemaksiatan serta tidak mendatangkan kemudharatan. (Baca juga : Operasi Kecantikan Dalam Pandangan Syariat)

Bicara soal kesehatan kecantikan atau kosmetika kecantikan, ternyata banyak kontribusi ilmuwan Muslimdi sana. Parfum misalnya. Parfum telah dikenal di Jazirah Arab sejak sebelum datangnya Islam, kemudian oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam disunnahkan dipakai oleh laki-laki setiap akan ke masjid, dan oleh wanita setiap akan bertemu suaminya.



Beberapa peletak ilmu dasar teknologi kecantikan:

1. Parfum



Ahli kimia Jabir al-Hayan (lahir 722 M) dan Al-Kindi (lahir 801 M) mengembangkan banyak sekali teknik untuk membuat parfum dan kosmetik sebagaimana obat-obatan. Mereka mengembangkan teknik destilasi, evaporasi dan filtrasi untuk mendapatkan koleksi bau harum berbagai jenis bunga, buah, kulit buah, kulit pohon, daun hingga akar dari ratusan jenis tumbuhan. Sebagian zat ini ada yang larut di air, ada pula yang di minyak.

2. Sabun

Sebenarnya produk utama ilmu kimia adalah sabun. Sabun ini awalnya dibuat dari reaksi kimia yang melibatkan minyak sesam, potassium, alkali, kapur dan tanah lumpur. Namun sabun modern yang dibuat dari minyak nabati dan aromatik, resep awalnya juga ditemukan oleh ilmuwan Muslim. Sabun ini berbeda dari sabun awal yang berubah menjadi deterjen. Al-Kindi menyediakan resep paling awal untuk memproduksi zat-zat ini dalam bukunya Kitab Kimiya’ al-‘Itr (Book of the Chemistry of Perfume). Pekerjaan al-Kindi ini dilanjutkan terus sampai ke masa Abu Ali ibn Sina di abad 11 M.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
اَمۡ اَمِنۡتُمۡ مَّنۡ فِى السَّمَآءِ اَنۡ يُّرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبًا‌ ؕ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ كَيۡفَ نَذِيۡرِ
Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.

(QS. Al-Mulk:17)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak