Ulama Kurdistan Ikut Andil Memasukkan Tradisi Maulid ke Indonesia
Selasa, 04 Oktober 2022 - 18:22 WIB
loading...
Tradisi barzanji dibawa oleh ulama Kurdistan dan Yaman. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kiai Haji Muhammad Sholikhin mengatakan terdapat indikasi orang-orang Arab Yaman yang banyak datang di wilayah ini yang memperkenalkan kitab-kitab maulid di Indonesia. Selain itu para pendakwah dari Kurdistan juga ditengarai yang mengajarkan kasidah maulid .
Hanya saja, Kiai Muhammad Sholikhin mengaku, belum didapatkan keterangan yang memuaskan mengenai bagaimana perayaan maulid berikut pembacaan kitab-kitab maulid masuk ke Indonesia. "Indikasinya orang Arab Yaman dan pendakwah dari Kurdistan," kata Kiai Muhammad Sholikhin dalam bukunya berjudul "Ritual dan Tradisi Islam Jawa".
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi SAW, Diambil dari Tradisi Syiah?
Menurut dia, ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa sampai saat ini banyak dari keturunan mereka, maupun syaikh-syaikh mereka yang mempertahankan tradisi pembacaan maulid.
Di samping dua penulis kenamaan maulid berasal dari Yaman (al Diba') dan dari Kurdistan (al Barzanji), kata Kiai Muhammad Sholikhin, yang jelas kedua penulis tersebut menyandarkan dirinya sebagai keturunan Rasulullah SAW , sebagaimana terlihat dalam kasidah-kasidahnya.
Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa Kitab Barzanji dibawa oleh orang-orang Syiah yang datang dari Gujarat.
Hanya saja, berdasarkan catatan sejarah yang dikutip oleh Martin Van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul "Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia" pengarang Kitab Barzanji, Jafar Barzanji, bukanlah orang Syiah. Dia adalah seorang mufti mazhab Syafii di Madinah.
Selain Kitab Barzanji, ada satu lagi kitab karangan Jafar Barzanji yang begitu luas digunakan di Indonesia, yaitu Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani (Lujjain Al-Dani).
Baca juga: Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Menginginkan Kematian
Sekarang pembacaan manaqib tersebut utamanya dilakukan di kalangan tarekat Qadiriyah (tepatnya: Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, perpaduan dua tarekat yang khas Indonesia). Namun pada masa yang lebih awal, manaqib tersebut tampaknya sudah dibaca di lingkungan yang lebih luas daripada sekadar di lingkungan tarekat Qadiriyah saja.
Di Indonesia sendiri Tarekat Qadiriyah dikenal pada abad akhir abad ke-16 dan berkembang pesat dengan jumlah pengikut yang banyak baru pada abad ke-19. Tidak terdapat cukup bukti tentang posisi tarekat Qadiriyah dan penggunaan manaqib pada masa dua abad yang pertama.
Pada perkembangannya Kitab Barzanji (‘Iqd al-Jawahir) dan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani (Lujjain Al-Dani) terus dibuat ulang dan diadaptasikan oleh para pengarang asal Indonesia.
Baca juga: Azyumardi Azra: Islam Pemersatu Berbagai Suku di Nusantara
Hanya saja, Kiai Muhammad Sholikhin mengaku, belum didapatkan keterangan yang memuaskan mengenai bagaimana perayaan maulid berikut pembacaan kitab-kitab maulid masuk ke Indonesia. "Indikasinya orang Arab Yaman dan pendakwah dari Kurdistan," kata Kiai Muhammad Sholikhin dalam bukunya berjudul "Ritual dan Tradisi Islam Jawa".
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi SAW, Diambil dari Tradisi Syiah?
Menurut dia, ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa sampai saat ini banyak dari keturunan mereka, maupun syaikh-syaikh mereka yang mempertahankan tradisi pembacaan maulid.
Di samping dua penulis kenamaan maulid berasal dari Yaman (al Diba') dan dari Kurdistan (al Barzanji), kata Kiai Muhammad Sholikhin, yang jelas kedua penulis tersebut menyandarkan dirinya sebagai keturunan Rasulullah SAW , sebagaimana terlihat dalam kasidah-kasidahnya.
Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa Kitab Barzanji dibawa oleh orang-orang Syiah yang datang dari Gujarat.
Hanya saja, berdasarkan catatan sejarah yang dikutip oleh Martin Van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul "Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia" pengarang Kitab Barzanji, Jafar Barzanji, bukanlah orang Syiah. Dia adalah seorang mufti mazhab Syafii di Madinah.
Selain Kitab Barzanji, ada satu lagi kitab karangan Jafar Barzanji yang begitu luas digunakan di Indonesia, yaitu Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani (Lujjain Al-Dani).
Baca juga: Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Menginginkan Kematian
Sekarang pembacaan manaqib tersebut utamanya dilakukan di kalangan tarekat Qadiriyah (tepatnya: Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, perpaduan dua tarekat yang khas Indonesia). Namun pada masa yang lebih awal, manaqib tersebut tampaknya sudah dibaca di lingkungan yang lebih luas daripada sekadar di lingkungan tarekat Qadiriyah saja.
Di Indonesia sendiri Tarekat Qadiriyah dikenal pada abad akhir abad ke-16 dan berkembang pesat dengan jumlah pengikut yang banyak baru pada abad ke-19. Tidak terdapat cukup bukti tentang posisi tarekat Qadiriyah dan penggunaan manaqib pada masa dua abad yang pertama.
Pada perkembangannya Kitab Barzanji (‘Iqd al-Jawahir) dan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani (Lujjain Al-Dani) terus dibuat ulang dan diadaptasikan oleh para pengarang asal Indonesia.
Baca juga: Azyumardi Azra: Islam Pemersatu Berbagai Suku di Nusantara
Lihat Juga :