alexametrics

Kisah Sufi

Cara Jitu Menjebak Anak-Anak Serakah ke Jalan yang Benar

loading...
Cara Jitu Menjebak Anak-Anak Serakah ke Jalan yang Benar
Menggali. Foto/Ilustrasi/Pixels
PADA zaman dahulu, ada seorang petani yang suka bekerja keras dan murah hati, yang memiliki beberapa anak laki-laki pemalas dan serakah. Menjelang ajalnya, petani itu mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau mereka mau menggali di suatu ladang tertentu.

Baca juga: Jalan Gunung: Ahli Logika Cenderung Buram Matanya, Benarkan?

Segera setelah orang tua itu meninggal, anak-anaknya bergegas ke ladang tersebut, menggalinya dari satu sisi ke sisi lain, dengan keputusasaan dan konsentrasi yang semakin meningkat manakala tak kunjung mereka temukan emas di tempat yang ayahnya sebut itu. (Baca juga: Air Surga dari Orang Badui untuk Baginda Harun Al-Rasyid)

Mereka sama sekali tidak menemukan emas. Menyadari bahwa karena kemurahan hatinya, ayah mereka pasti telah membagi-bagikan emasnya semasa hidupnya, mereka pun berhenti mencari. Akhirnya, terpikir oleh mereka bahwa, karena ladang itu sudah terlanjur digarap, tak ada salahnya bila ditanami benih. Mereka pun menanam gandum, yang menghasilkan panen berlimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan pada tahun itu juga hidup mereka makmur. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen)



Setelah musim panen lewat, mereka berpikir-pikir kembali tentang kemungkinan bahwa harta karun itu terluput dari penggalian mereka. Mereka pun menggali lagi ladang mereka, tetapi hasilnya sama saja.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Waktu, Tempat, dan Orang)

Setelah bertahun-tahun lamanya, mereka menjadi terbiasa bekerja keras dan mengenali musim, sesuatu yang belum pernah mereka pahami sebelumnya. Sekarang, mereka mengerti cara sang ayah melatih mereka, dan mereka pun menjadi petani yang jujur dan bahagia. Pada akhirnya, mereka memiliki cukup kekayaan sehingga tak lagi risau perihal harta terpendam itu. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Berharga dan Tak Berharga)



Demikianlah ajaran tentang pemahaman terhadap nasib manusia dan takdir kehidupan. Guru, yang menghadapi ketidaksabaran, kebingungan, dan keserakahan murid-murid, harus mengarahkan mereka kepada suatu kegiatan yang diketahuinya bisa bermanfaat dan konstruktif bagi mereka, tetapi yang kegunaan dan tujuannya sering kali tersembunyi dari mereka karena sifat kekanak-kanakan mereka sendiri.

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Raja Ingin Menjadi Dermawan

Menurut Idries Shah, Tales of The Dervishes yang diterjemahkan Ahmad Bahar dengan judul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi-- kisah ini, yang menggarisbawahi pernyataan bahwa seseorang mungkin mengembangkan kemampuan tertentu meskipun sebenarnya ia bermaksud mengembangkan kemampuannya yang lain, cukup dikenal luas.

Baca juga
: Tiga Nasihat Berharga dari Burung yang Tertangkap
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِىۡ سِتَّةِ اَيَّامٍ‌ۖ وَّمَا مَسَّنَا مِنۡ لُّغُوۡبٍ
Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun.

(QS. Qaf:38)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak