Tanda-Tanda Kenabian Muhammad Diungkap Pendeta di Dalam Gereja saat Berusia 12 Tahun
Senin, 10 Oktober 2022 - 05:15 WIB
loading...
Pertemuan antara Abu Thalib, Muhammad dan rahib atau pendeta Buhaira terjadi di dalam gereja Buhaira yang ada di Busra. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Tanda-tanda kenabian Muhammad SAW diungkap Pendeta Buhaira di dalam Gereja. Muhammad Husain Haekal menyebut kala itu Sayyidina Muhammad baru berusia 12 tahun.
Abu Thalib mengajak Muhammad membawa dagangannya pergi ke Syam. Sesampai kafilah di di Bushra, di sebelah selatan Syam, mereka bertemu dengan rahib Bahira ada juga yang menyebut Buhaira . "Rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad".
Baca juga: Rahasia dan Faedah Melihat Stempel Tanda Kenabian Muhammad SAW
Sebagian sumber menceritakan, bahwa rahib itu menasihati Abu Thalib supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap Sayyidina Muhammad.
Dalam kitab Adab Bizantium disebutkan, Buhaira adalah seorang rahib yang menganut aliran Airus Nasthuri, dan ia mengingkari Lahut al-Masih (Ketuhanan al-Masih) dan menyatakan bahwa penamaannya dengan sebutan tuhan tidak diperbolehkan.
Menurut sejumlah peneliti, pertemuan antara Abu Thalib dan Sayyidina Muhammad dengan rahib atau pendeta Buhaira itu terjadi di dalam kuil pendeta Buhaira yang ada di Busra.
Di tempat ini, terdapat sebuah tempat ibadah (gereja) yang diyakini banyak orang sebagai gereja Buhaira. Tempat tersebut berada di dekat kawasan Roman Theatre, yang dibangun pada masa pemerintah Romawi (Rum), oleh kaisar Julianus pada tahun 513-512 sebelum Masehi (SM).
Hanafi al-Mahlawi dalam bukunya "Al-Amakin Al-Masyhurah Fi hayati Muhammad SAW" (Harum Semerbak Tempat-tempat yang Dikunjungi Rasulullah SAW) menjelaskan, Rasul SAW pernah dua kali mengunjungi Syam, pertama saat bertemu dengan pendeta Buhaira, dan kedua ketika mengabarkan kemenangan Islam kepada penduduk setempat, sekitar tahun kelima kenabian.
Baca juga: Masa Kecil yang Pilu dan Tanda-Tanda Kenabian Saat Usia 12 Tahun
Awan yang Menaungi
Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibn Ishaq diceritakan, Abu Thalib pergi menuju Syam dalam rangka berdagang, dan tatkala telah siap melakukan perjalanan, tiba-tiba ia merasa rindu dengan keponakannya dan ia ingin membawanya ke Syam.
Abu Thalib pun berkata, ''Sungguh aku ingin sekali mengajaknya pergi, ia tidak boleh terpisah dariku, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya.''
Lalu mereka pergi bersama. Dan tatkala sampai di Bushra, mereka bertemu dengan seorang rahib Nasrani yang sedang berada di kuilnya, ia bernama Buhairi (tapi dalam kitab lain disebutkan bahwa namanya adalah Buhaira).
Sebelumnya, para kafilah dagang kerap bertemu dengannya, namun ia tidak pernah berkata sesuatu yang spesial kepada mereka. Akan tetapi, pada tahun itu, tatkala kafilah Abu Thalib berhenti di dekat kuilnya, sang rahib segera membuatkan banyak makanan untuk mereka.
Hal ini dikarenakan ada sesuatu yang ia terawang (lihat) dari dalam kuilnya. Mereka mengatakan, bahwa ia melihat utusan Allah sedang berada di atas tunggangan dan terdapat awan yang terus menaunginya dari panas matahari, padahal ia berada di antara banyak orang.
Abu Thalib mengajak Muhammad membawa dagangannya pergi ke Syam. Sesampai kafilah di di Bushra, di sebelah selatan Syam, mereka bertemu dengan rahib Bahira ada juga yang menyebut Buhaira . "Rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad".
Baca juga: Rahasia dan Faedah Melihat Stempel Tanda Kenabian Muhammad SAW
Sebagian sumber menceritakan, bahwa rahib itu menasihati Abu Thalib supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap Sayyidina Muhammad.
Dalam kitab Adab Bizantium disebutkan, Buhaira adalah seorang rahib yang menganut aliran Airus Nasthuri, dan ia mengingkari Lahut al-Masih (Ketuhanan al-Masih) dan menyatakan bahwa penamaannya dengan sebutan tuhan tidak diperbolehkan.
Menurut sejumlah peneliti, pertemuan antara Abu Thalib dan Sayyidina Muhammad dengan rahib atau pendeta Buhaira itu terjadi di dalam kuil pendeta Buhaira yang ada di Busra.
Di tempat ini, terdapat sebuah tempat ibadah (gereja) yang diyakini banyak orang sebagai gereja Buhaira. Tempat tersebut berada di dekat kawasan Roman Theatre, yang dibangun pada masa pemerintah Romawi (Rum), oleh kaisar Julianus pada tahun 513-512 sebelum Masehi (SM).
Hanafi al-Mahlawi dalam bukunya "Al-Amakin Al-Masyhurah Fi hayati Muhammad SAW" (Harum Semerbak Tempat-tempat yang Dikunjungi Rasulullah SAW) menjelaskan, Rasul SAW pernah dua kali mengunjungi Syam, pertama saat bertemu dengan pendeta Buhaira, dan kedua ketika mengabarkan kemenangan Islam kepada penduduk setempat, sekitar tahun kelima kenabian.
Baca juga: Masa Kecil yang Pilu dan Tanda-Tanda Kenabian Saat Usia 12 Tahun
Awan yang Menaungi
Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibn Ishaq diceritakan, Abu Thalib pergi menuju Syam dalam rangka berdagang, dan tatkala telah siap melakukan perjalanan, tiba-tiba ia merasa rindu dengan keponakannya dan ia ingin membawanya ke Syam.
Abu Thalib pun berkata, ''Sungguh aku ingin sekali mengajaknya pergi, ia tidak boleh terpisah dariku, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya.''
Lalu mereka pergi bersama. Dan tatkala sampai di Bushra, mereka bertemu dengan seorang rahib Nasrani yang sedang berada di kuilnya, ia bernama Buhairi (tapi dalam kitab lain disebutkan bahwa namanya adalah Buhaira).
Sebelumnya, para kafilah dagang kerap bertemu dengannya, namun ia tidak pernah berkata sesuatu yang spesial kepada mereka. Akan tetapi, pada tahun itu, tatkala kafilah Abu Thalib berhenti di dekat kuilnya, sang rahib segera membuatkan banyak makanan untuk mereka.
Hal ini dikarenakan ada sesuatu yang ia terawang (lihat) dari dalam kuilnya. Mereka mengatakan, bahwa ia melihat utusan Allah sedang berada di atas tunggangan dan terdapat awan yang terus menaunginya dari panas matahari, padahal ia berada di antara banyak orang.
Lihat Juga :