Kisah Sayyid Abdul Aziz, Keturunan Nabi Muhammad yang Jadi Raja Islam Pertama Nusantara
Minggu, 16 Oktober 2022 - 11:11 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Sebelum Islam Ahlus Sunnah, Aliran Syiah Lebih Dahulu Masuk ke Nusantara
Asal-usul Nahkoda Khalifah
Juga dikisahkan pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah Al Makmum bin Harun Al Rasyid, seorang keturunan Ali bin Abi Thalib yang bernama Muhammad bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainul Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap pemerintah Al Makmun yang berkedudukan di Baghdad. Ia memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah yang berkedudukan di Mekkah. Mendengar ini, Al Makmun segera mengirimkan pasukannya untuk menyerang Mekkah, dan meredam pemberontakan tersebut.
Menurut Prof Hasjmy, dengan berpedoman pada kitab kuno, konflik yang terjadi ini adalah respon atas penindasan yang dilakukan dinasti Umayah dan Abbasiyah terhadap para keturunan Ali bin Abi Thalib dan pendukungnya, yang kemudian dikenal dengan kelompok Syiah.
Namun berbeda dari para pendahulunya, setelah berhasil meredam pemberontakan Muhammad bin Ja’far Shadiq, Al Makmun terbilang lunak kepada kelompok Syiah, sehingga ia tidak membunuhnya. Melainkan menyuruhnya pergi dari negeri Arab dan meluaskan syiar agama Islam ke mana saja selain di wilayah kekuasaan Abbasiyah.
Atas maklumat Khalifah tersebut, maka pergilah Muhammad dan para pendukungnya dari negeri Arab ke wilayah Timur jauh dan akhirnya berhenti di pelabuhan Perlak.
Mereka inilah yang menurut Prof Hasjmy yang dimaksud oleh Kitab Idharul Haqq sebagai “Nahkoda Khalifah”. Dan salah satu orang penting dalam rombongan tersebut tidak lain adalah Ali bin Muhammad bin Jakfar Shaddiq yang kemudian menjadi pemimpin rombongan menggantikan ayahnya Muhammad bin Ja’far Shaddiq.
Sebagaimana dituturkan oleh Kitab Idharul Haqq, rombongan ini disambut dengan suka cita oleh Meurah Perlak dan rakyatnya. Mereka demikian baik akhlak dan perangainya, sehingga tidak kurang dari 50 tahun, Islam berhasil tersebar di Negeri Perlak.
Pada waktu rombongan ini sampai di Perlak, Meurah yang memerintah pada saat itu adalah Syahir Nuwi yang menggantikan ayahnya Pangeran Salman dari Persia. Melihat kemulian trah para pendatang ini, dan parangainya yang begitu baik, Meurah Nuwi akhirnya menjodohkan Ali bin Muhammad bin Jakfar Shadiq dengan adik kandungnya yang cantik jelita, Putri Makhdum Tansyuri.
Dari hasil pernikahan inilah, lahir Saiyid Abdullah Aziz. Dan pada saat Meurah Nuwi mangkat, maka diputuskan kedudukan Meurah Perlak diberikan kepada Sayyid Abdul Aziz, yang dinobatkan pada tanggal 1 Muharam 225 Hijriah, dengan gelar Sulthan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.
Baca juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara
Asal-usul Nahkoda Khalifah
Juga dikisahkan pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah Al Makmum bin Harun Al Rasyid, seorang keturunan Ali bin Abi Thalib yang bernama Muhammad bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainul Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap pemerintah Al Makmun yang berkedudukan di Baghdad. Ia memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah yang berkedudukan di Mekkah. Mendengar ini, Al Makmun segera mengirimkan pasukannya untuk menyerang Mekkah, dan meredam pemberontakan tersebut.
Menurut Prof Hasjmy, dengan berpedoman pada kitab kuno, konflik yang terjadi ini adalah respon atas penindasan yang dilakukan dinasti Umayah dan Abbasiyah terhadap para keturunan Ali bin Abi Thalib dan pendukungnya, yang kemudian dikenal dengan kelompok Syiah.
Namun berbeda dari para pendahulunya, setelah berhasil meredam pemberontakan Muhammad bin Ja’far Shadiq, Al Makmun terbilang lunak kepada kelompok Syiah, sehingga ia tidak membunuhnya. Melainkan menyuruhnya pergi dari negeri Arab dan meluaskan syiar agama Islam ke mana saja selain di wilayah kekuasaan Abbasiyah.
Atas maklumat Khalifah tersebut, maka pergilah Muhammad dan para pendukungnya dari negeri Arab ke wilayah Timur jauh dan akhirnya berhenti di pelabuhan Perlak.
Mereka inilah yang menurut Prof Hasjmy yang dimaksud oleh Kitab Idharul Haqq sebagai “Nahkoda Khalifah”. Dan salah satu orang penting dalam rombongan tersebut tidak lain adalah Ali bin Muhammad bin Jakfar Shaddiq yang kemudian menjadi pemimpin rombongan menggantikan ayahnya Muhammad bin Ja’far Shaddiq.
Sebagaimana dituturkan oleh Kitab Idharul Haqq, rombongan ini disambut dengan suka cita oleh Meurah Perlak dan rakyatnya. Mereka demikian baik akhlak dan perangainya, sehingga tidak kurang dari 50 tahun, Islam berhasil tersebar di Negeri Perlak.
Pada waktu rombongan ini sampai di Perlak, Meurah yang memerintah pada saat itu adalah Syahir Nuwi yang menggantikan ayahnya Pangeran Salman dari Persia. Melihat kemulian trah para pendatang ini, dan parangainya yang begitu baik, Meurah Nuwi akhirnya menjodohkan Ali bin Muhammad bin Jakfar Shadiq dengan adik kandungnya yang cantik jelita, Putri Makhdum Tansyuri.
Dari hasil pernikahan inilah, lahir Saiyid Abdullah Aziz. Dan pada saat Meurah Nuwi mangkat, maka diputuskan kedudukan Meurah Perlak diberikan kepada Sayyid Abdul Aziz, yang dinobatkan pada tanggal 1 Muharam 225 Hijriah, dengan gelar Sulthan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.
Baca juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara
(mhy)
Lihat Juga :