Janganlah Menunda-Nunda Taubat

loading...
Janganlah Menunda-Nunda Taubat
Menunda taubat merupakan salah satu dosa yang wajib dimohonkan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Taala. Foto ilustrasi/ist
Sesungguhnya taubat adalah suatu kewajian. Taubat ialah titik penentu bagi kelangsungan hidup seorang hambah di akhirat. Taubat juga merupakan setinggi-tingginya derajat penghambaan seorang kepada Rabb-nya.

Setiap anak Adam tidak akan bisa lepas dari kesalahan dan dosa, sedangkan sebaik-baknya orang yang berdosa adalah mereka yang bertaubat. Maka dari itu tolok ukurnya adalah kesempurnaan di akhir, bukan kekurangan di awal.
Namun demikian, faktanya banyak sekali kesalahan dalam bertaubat yang terjadi pada sebagian orang akibat dari ketidaktahuan tentang arti taubat atau karena kelalaian dan kurang perhatian terhadap masalah taubat ini. (Baca juga : Belajar Patriotisme dan Hak Asasi Wanita dari Nusaibah binti Ka’ab Al-Ansariyah )

Salah satunya, seringkali orang menunda-nunda taubat itu sendiri. Di antara manusia terdapat segolongan orang yang mengetahui kesalahannya dan memahami keharaman perbuatan yang dilakukannya. Namun dia masih saja menunda-nunda taubat dan selalu mengatakan: 'Nanti dulu'.

Di antara mereka ada yang menundanya sampai menikah, lulus sekolah, bahkan sampai menginjak usia senja, dan karena berbagai alasan penundaan yang lainnya. Ini merupakan kesalahan besar sebab bertaubat wajib dilakukan secara langsung. Pasalnya, semua perintah Allah dan Rasul-Nya menyatakan bahwa bertaubat itu wajib dilkasanakan secara langsung, selama tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehan menunda pelaksanaanya. Bahkan menunda taubat merupakan salah satu dosa yang wajib dimohonkan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, "Tidak ada keraguan mengenai kewajiban bertaubat secara langsung. Sebab mengenali berbagai kemaksiatan sebagai sesuatu yang membinasakan merupakan sebagian dari iman. Maka itu wajib dilakukan segera".

Pendapat lain, dari Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: "Bertaubat dengan segera merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan dan tidak boleh ditunda. Setiap kali seorang hamba menunda taubat, berarti ia telah berbuat maksiat kepada Allah dan apabila sudah bertaubat dari dosa yang dilakukannya, maka tinggal kewajiban untuk bertaubat dari perbuatan menunda pelaksanaan taubat.

Jarang sekali hal ini terlintas dalam pikiran orang yang bertaubat, bahkan menurutnya, apabila sudah bertaubat dari dosa yang ia lakukan, berarti tidak ada lagi kewajiban lain yang harus ia lakukan. Padahal, masih ada satu lagi kewajiban yang harus ia laksanakan yaitu bertaubat dari perbuatan menunda-nundanya.

Dalam kitab Qisharul Amal, Ibnu Abid Dunya rahimahullah menyebutkan, dari ikrimah rahimahullah dalam firman Allah Ta'ala :

وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِهِۦ مِن قَبْلُ ۖ وَيَقْذِفُونَ بِٱلْغَيْبِ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ

"Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh". (QS Saba : 53)

Ia juag berkata : Apabaila dikatakan kepada mereka: "Bertaubatlah, maka mereka menjawab: Nanti dulu".

Seharusnya seorang hamba segera bertaubat sebab ini memang kewajiban baginya. Tujuannya agar dosa-dosanya tidak menjadi pembungkus hatinya sehingga sulit atau ia tidak didahului oleh angan-angan yang selalu mengiringi dosanya. Selain itu, menunda taubat justru merupakan penyebab sulitnya bertaubat dan pendorong untuk melakukan dosa yang lainnya. (Baca juga : Meninggalkan Maksiat Adalah Jalan Menuju Ma'rifatullah )

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya jika seorang Mukmin melakukan dosa, maka tertorehlah noda hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat dan berhenti dari dosa itu dan memohon ampun kepada Allah, maka hatinya menjadi bersih dari noda tersebut, Apabila dosanya bertambah, maka bertambah pula noda tersebut sampai menutupi seluruh hatinya".

Itulah noda yang disebutkan oleh Allah dalam firman-nya :

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." ((QS. Al-Muthaffifiin: 14)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: "Wahai, orang-orang yang menyia-nyiakan usianya, sampai kapan engkau meminta taubat? Tidak ada alasan bagimu untuk menundanya! Sampai kapan orang akan berkata kepadamu: 'Hai orang yang terfitnah dan tertipu?" Kasihan sekali kamu ini! Bulan-bulan kebaikan telah berlalu, namun kamu masih menghitung bulan-bulan itu. Apakah kamu tahu amalan itu diterima atau ditolak? Apakah kamu tahu bahwa dirimu adalah orang yang menyambung tali silaturahmi atau yang memutuskannya? Apakah kamu tahu kelak akan meniti kebahagiaan atau pada mukamu tergambar penyesalan? Apakah kamu mengetahui bahwa dirimu adalah seorang penguni neraka atau istana?

Ia juga berkata : "Kelalaian apakah ini, padahal kalian bisa menyaksikan? ketidaksadaran apakah ini, padahal kalian masih terjaga? Bagaimana bisa kalian melupakan perbekalan, sementara kalian sedang bepergian? Berapa banyak orang-orang terdahulu sebelum kalian telah meninggal, apakah kalian tidak berpikir? Tidakkah kalian menyaksikan bagaimana Allah menempatkan mereka pada posisi yang merugikan? Mereka tidak mampu memberikan satu wasiat pun dan tidak juga bisa kembali kepada keluarganya.

Maka hendaknya setiap muslim untuk memprioritaskan taubat dalam kehidupannya. Karena satu dosa yang diampuni lebih baik dibanding dunia dan seluruh isinya. Betapa rugi jika mengabaikan hakikat taubat. Apalagi jika kita melihat bahwa begitu mudahnya Allah mengampuni dosa hamba-nya. Jika kita tidak bergegas meminta ampun kepada Allah Ta'ala maka bisa termasuk golongan yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Jika manusia menumpuk dosa, meremehkan taubat, dan bahkan meremehkan ampunan Allah maka dia akan ditimpa kegelapan dalam kehidupannya. Karena itulah, yuk, kita segerakan mendekat kepada Allah meraih cinta-Nya dengan perbanyak istighfar dan bertaubat. (Baca juga : Pola Makanan Sehat Menurut Al-Qur’an dan Hadis (2) )

Wallahu A'lam
(wid)
preload video