7 Golongan yang Dinaungi Allah Saat Kiamat
Selasa, 07 Juli 2020 - 04:18 WIB
loading...
A
A
A
Bersahabat karena Allah
Golongan keempat adalah dua orang yang bersahabat dan saling mencintai karena Allah, sehingga jika bertemu dan berpisah juga karena Allah. Persahabatan yang demikian jelas berdasarkan ketakwaan kepada Allah.
Maka mencari sahabat yang senantiasa mengedepankan nilai kebenaran merupakan kebutuhan penting dalam sebuah pergaulan, sebagaimana perintah dalam hadits di atas.
Sebaliknya sahabat yang tidak lagi mengindahkan nilai kebenaran harus dihindari. Karena pasti berdampak kepada buruknya pula kehidupan yang berkaitan dengan kualitas spritualitas diri.
Baca juga: Pengetahuan tentang Akhirat (1): Apa Itu Surga Rohaniah?
Membentuk komunitas pecinta ilmu atau komunitas taklim dalam rangka memahami ilmu-ilmu Allah juga merupakan bagian dari kriteria hadits tersebut. Sepanjang aktivitas di dalamnya dalam rangka di jalan Allah SWT.
Sahabat sejati selalu saling mencintai karena Allah. Bertemu dan berpisah karena Allah. Tidak tergantung dalam kondisi kaya atau miskin, sahabat sejati selalu setia dalam suka dan duka. Saling bahu-membahu dan menopang untuk tetap istikamah di jalan Allah. Apapun keadaan dan kondisinya.
Hal ini juga tergambar dalam Surat al-Ashr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.Kkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-Ashr 1-3)
Dalam konteks ayat di atas, dalam sahabat sejati tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Mereka duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Baca juga: Pengetahuan Tentang Tuhan (2-Habis): Enam Penyebab Kejahilan
Kesedihan yang dialami salah satunya menjadi kesedihan shabatnya. Demikian pula jika terdengar kebahagiaan maka akan membahagiakan bagi lainnya. Sungguh persahabatan yang indah karena Allah. Maka pantaslah Allah memberikan naungan pada mereka.
Menahan Nafsu Syahwat
Golongan kelima adalah seorang laki-laki yang diajak seorang perempuan yang cantik dan berpunya, tetapi dia menolak. Bahkan dia mengatakan, “Aku takut kepada Allah.”
Baca juga: Pengetahuan Tentang Tuhan (1): Miniatur Kekuasaan dan Cinta Sang Pencipta
Betapa luar biasa kuatnya iman seorang laki-laki tersebut. Nilai ketakwaannya telah mendarah-daging dalam jiwanya. Dia tidak mudah tergelincir oleh bujuk rayu keindahan dan kemewahan dunia.
Dia senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai ketakwaan kepada-Nya. Tidak akan mengorbankan keimanannya hanya demi tipu daya kehidupan dunia ini.
Sekalipun secara tekstual hadits di atas menyebut laki-laki, tetapi berlaku pula bagi perempuan. Yakni seorang perempuan yang diajak laki-laki yang gagah perkasa dan memiliki kekayaan melimpah tetapi, ia tetap menolaknya karena yakin telah melanggar syariat-Nya.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (1)
Ia merasa takut akan siksaan Allah akibat perbuatannya itu. Maka perempuan yang demikian insyaallah juga akan mendapatkan naungan di sisi Allah kelak.
Kecintaan lawan jenis harus lewat pernikahan yang sah, karana di baliknya ada sejuta hikmah bagi kehidupannya di kemudian hari dan juga bagi keturunannya.
Maka seorang wanita mulia tidak akan mengorbakan kehormatannya kecuali setelah dilangsungkannya akad nikah secara sah. Berzina merupakan tindakan terkutuk yang dilaknat oleh Allah. Karena dengan berzina maka kehidupan umat manusia tak ubahnya seperti binatang, dan bahkan lebih biadab lagi.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (2)
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32).
Ikhlas Bersedekah
Golongan keenam adalah seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga seolah-olah ketika tangan kanannya memberi, tangan kirinya tidak mengetahui.
Sedekah dalam pengertian khusus adalah mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang berhak menerimanya.
Golongan keempat adalah dua orang yang bersahabat dan saling mencintai karena Allah, sehingga jika bertemu dan berpisah juga karena Allah. Persahabatan yang demikian jelas berdasarkan ketakwaan kepada Allah.
Maka mencari sahabat yang senantiasa mengedepankan nilai kebenaran merupakan kebutuhan penting dalam sebuah pergaulan, sebagaimana perintah dalam hadits di atas.
Sebaliknya sahabat yang tidak lagi mengindahkan nilai kebenaran harus dihindari. Karena pasti berdampak kepada buruknya pula kehidupan yang berkaitan dengan kualitas spritualitas diri.
Baca juga: Pengetahuan tentang Akhirat (1): Apa Itu Surga Rohaniah?
Membentuk komunitas pecinta ilmu atau komunitas taklim dalam rangka memahami ilmu-ilmu Allah juga merupakan bagian dari kriteria hadits tersebut. Sepanjang aktivitas di dalamnya dalam rangka di jalan Allah SWT.
Sahabat sejati selalu saling mencintai karena Allah. Bertemu dan berpisah karena Allah. Tidak tergantung dalam kondisi kaya atau miskin, sahabat sejati selalu setia dalam suka dan duka. Saling bahu-membahu dan menopang untuk tetap istikamah di jalan Allah. Apapun keadaan dan kondisinya.
Hal ini juga tergambar dalam Surat al-Ashr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.Kkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-Ashr 1-3)
Dalam konteks ayat di atas, dalam sahabat sejati tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Mereka duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Baca juga: Pengetahuan Tentang Tuhan (2-Habis): Enam Penyebab Kejahilan
Kesedihan yang dialami salah satunya menjadi kesedihan shabatnya. Demikian pula jika terdengar kebahagiaan maka akan membahagiakan bagi lainnya. Sungguh persahabatan yang indah karena Allah. Maka pantaslah Allah memberikan naungan pada mereka.
Menahan Nafsu Syahwat
Golongan kelima adalah seorang laki-laki yang diajak seorang perempuan yang cantik dan berpunya, tetapi dia menolak. Bahkan dia mengatakan, “Aku takut kepada Allah.”
Baca juga: Pengetahuan Tentang Tuhan (1): Miniatur Kekuasaan dan Cinta Sang Pencipta
Betapa luar biasa kuatnya iman seorang laki-laki tersebut. Nilai ketakwaannya telah mendarah-daging dalam jiwanya. Dia tidak mudah tergelincir oleh bujuk rayu keindahan dan kemewahan dunia.
Dia senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai ketakwaan kepada-Nya. Tidak akan mengorbankan keimanannya hanya demi tipu daya kehidupan dunia ini.
Sekalipun secara tekstual hadits di atas menyebut laki-laki, tetapi berlaku pula bagi perempuan. Yakni seorang perempuan yang diajak laki-laki yang gagah perkasa dan memiliki kekayaan melimpah tetapi, ia tetap menolaknya karena yakin telah melanggar syariat-Nya.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (1)
Ia merasa takut akan siksaan Allah akibat perbuatannya itu. Maka perempuan yang demikian insyaallah juga akan mendapatkan naungan di sisi Allah kelak.
Kecintaan lawan jenis harus lewat pernikahan yang sah, karana di baliknya ada sejuta hikmah bagi kehidupannya di kemudian hari dan juga bagi keturunannya.
Maka seorang wanita mulia tidak akan mengorbakan kehormatannya kecuali setelah dilangsungkannya akad nikah secara sah. Berzina merupakan tindakan terkutuk yang dilaknat oleh Allah. Karena dengan berzina maka kehidupan umat manusia tak ubahnya seperti binatang, dan bahkan lebih biadab lagi.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (2)
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32).
Ikhlas Bersedekah
Golongan keenam adalah seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga seolah-olah ketika tangan kanannya memberi, tangan kirinya tidak mengetahui.
Sedekah dalam pengertian khusus adalah mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang berhak menerimanya.
Lihat Juga :