7 Golongan yang Dinaungi Allah Saat Kiamat
Selasa, 07 Juli 2020 - 04:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (3)
Keikhlasan merupakan inti dari sedekah ini, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu sedekahnya. Hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahui secara persis, dan mungkin orang yang disedekahinya. Sedekah yang demikian tidak perlu diumumkan atau dicantumkan dalam sebuah lembaran yang dapat dibaca oleh orang lain.
Sebab jika demikian dapat menjadi sebab timbulnya sikap riya’ atau ujub pada diri sendiri. Dan akibat berikutnya tanpa disadarinya keikhlasannya luntur.
Sedekah dalam pengertian yang luas adalah seluruh kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR Bukhari Fi Adabil Mufrad).
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (1 )
Maka semua kebaikan yang kita lakukan syarat utamanya adalah ikhas, hanya karena Allah, bukan yang lainnya. Hal ini sangat penting karena menjadi penentu diterima tidaknya amal seseorang. Bukan kuantitasnya semata suatu ibadah itu diterima.
Sedekah yang dirahasiakan itu merupakan bagian yang terintgrasi dengan ibadah-ibadah lainnya. Dan hal ini menjadi indikator bahwa amaliah lainnya juga akan dilakukan karena Allah semata.
Itulah sebabnya orang yang bersedekah dengan ikhlash akan mendapat naungan dari Allah dihari yang tiada naungan selain naungan-Nya.
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (2-Habis)
Berdzikir Sendirian
Golongan ketujuh adalah seseorang yang berdzikir secara menyendiri dan berlinanglah air matanya, sebagai wujud aktivitas ber-taqarrub kepada Allah dan selalu menjaga keikhlasan.
Mereka selalu berusaha tazkiyatun nafs untuk membersihkan diri dari sifat tercela dengan menyandarkan dirinya kepada Allah. Proses di dalamnya adalah ber-mujahadah dengan berdzikir kepada Allah sembari menyadari betapa nistanya diri ini di atas kemuliaan Allah.
Baca juga: Cinta Kepada Allah, Ibrahim: Wahai Izrail, Ambillah Nyawaku (1)
Bukankah telah memberikan anugerah yang begitu melimpah tetapi kita enggan untuk berbakti kepada-Nya dalam arti yang sesungguhnya.
Padahal Allah juga telah memuliakan diri kita dari pandangan orang lain. Allah memuliakan kita dengan cara Allah manutup kekurangan dan kelemahan diri dari pandangan orang lain. Hanya kasih sayang Allah-lah sehingga semua itu tidak tersingkap bagi banyak orang.
Jadi siapapun diri kita sesungguhnya wajib menyadari akan kekurangan diri ini yang kemudian wajib berusaha berbenah dan berbenah.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Zikir Berjamaah Hanya Latihan
Sedangkan jika kita berdzikir secara berjamaah, bahkan juga kadang meneteskan air mata, belum termasuk dalam kriteria hadits di atas. Karena bisa jadi hal itu kita lakukan masih ada tendensi yang terselip di dalamnya, bukan semata-mata karena Allah.
Oleh karena itu dzikir yang demikian boleh dikatakan sebagai bentuk latihan yang mestinya ditindaklanjuti dengan berdzikir dengan keadaan sendirian di waktu yang senyap-sepi—dzikir yang benar-benar akan mengasah jiwa ini untuk senantiasa dalam ketakwaan kepada-Nya.
Baca juga: Cinta kepada Allah dan 7 Ujian ke Arah Sana (3-Habis
Termasuk di dalamnya adalah dzikir saat shalat lima waktu, yag memiliki keterkaitan dengan praktik dzikir sebagaimana maksud hadits di atas yaitu secara sendirian di saat sepi.
Dengan berdzikir secara benar insyaallah kita akan dapat berdzikir secara hakiki yakni dalam aplikasinya di kehidupan kita sehari-hari: selalu menyesuaikan dan menselaraskan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Semoga kita dapat memasuki paling tidak sebagian di antara tujuh kriteria yang akan mendapat naungan Allah SWT di Hari Kiamat—yang pada hari itu tiada yang dapat menaungi kita kecuali Dia, Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa. Amin! (Baca juga: Pengetahuan Tentang Dunia: Pasar yang Disinggahi Para Musafir )
Keikhlasan merupakan inti dari sedekah ini, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu sedekahnya. Hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahui secara persis, dan mungkin orang yang disedekahinya. Sedekah yang demikian tidak perlu diumumkan atau dicantumkan dalam sebuah lembaran yang dapat dibaca oleh orang lain.
Sebab jika demikian dapat menjadi sebab timbulnya sikap riya’ atau ujub pada diri sendiri. Dan akibat berikutnya tanpa disadarinya keikhlasannya luntur.
Sedekah dalam pengertian yang luas adalah seluruh kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR Bukhari Fi Adabil Mufrad).
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (1 )
Maka semua kebaikan yang kita lakukan syarat utamanya adalah ikhas, hanya karena Allah, bukan yang lainnya. Hal ini sangat penting karena menjadi penentu diterima tidaknya amal seseorang. Bukan kuantitasnya semata suatu ibadah itu diterima.
Sedekah yang dirahasiakan itu merupakan bagian yang terintgrasi dengan ibadah-ibadah lainnya. Dan hal ini menjadi indikator bahwa amaliah lainnya juga akan dilakukan karena Allah semata.
Itulah sebabnya orang yang bersedekah dengan ikhlash akan mendapat naungan dari Allah dihari yang tiada naungan selain naungan-Nya.
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (2-Habis)
Berdzikir Sendirian
Golongan ketujuh adalah seseorang yang berdzikir secara menyendiri dan berlinanglah air matanya, sebagai wujud aktivitas ber-taqarrub kepada Allah dan selalu menjaga keikhlasan.
Mereka selalu berusaha tazkiyatun nafs untuk membersihkan diri dari sifat tercela dengan menyandarkan dirinya kepada Allah. Proses di dalamnya adalah ber-mujahadah dengan berdzikir kepada Allah sembari menyadari betapa nistanya diri ini di atas kemuliaan Allah.
Baca juga: Cinta Kepada Allah, Ibrahim: Wahai Izrail, Ambillah Nyawaku (1)
Bukankah telah memberikan anugerah yang begitu melimpah tetapi kita enggan untuk berbakti kepada-Nya dalam arti yang sesungguhnya.
Padahal Allah juga telah memuliakan diri kita dari pandangan orang lain. Allah memuliakan kita dengan cara Allah manutup kekurangan dan kelemahan diri dari pandangan orang lain. Hanya kasih sayang Allah-lah sehingga semua itu tidak tersingkap bagi banyak orang.
Jadi siapapun diri kita sesungguhnya wajib menyadari akan kekurangan diri ini yang kemudian wajib berusaha berbenah dan berbenah.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Zikir Berjamaah Hanya Latihan
Sedangkan jika kita berdzikir secara berjamaah, bahkan juga kadang meneteskan air mata, belum termasuk dalam kriteria hadits di atas. Karena bisa jadi hal itu kita lakukan masih ada tendensi yang terselip di dalamnya, bukan semata-mata karena Allah.
Oleh karena itu dzikir yang demikian boleh dikatakan sebagai bentuk latihan yang mestinya ditindaklanjuti dengan berdzikir dengan keadaan sendirian di waktu yang senyap-sepi—dzikir yang benar-benar akan mengasah jiwa ini untuk senantiasa dalam ketakwaan kepada-Nya.
Baca juga: Cinta kepada Allah dan 7 Ujian ke Arah Sana (3-Habis
Termasuk di dalamnya adalah dzikir saat shalat lima waktu, yag memiliki keterkaitan dengan praktik dzikir sebagaimana maksud hadits di atas yaitu secara sendirian di saat sepi.
Dengan berdzikir secara benar insyaallah kita akan dapat berdzikir secara hakiki yakni dalam aplikasinya di kehidupan kita sehari-hari: selalu menyesuaikan dan menselaraskan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Semoga kita dapat memasuki paling tidak sebagian di antara tujuh kriteria yang akan mendapat naungan Allah SWT di Hari Kiamat—yang pada hari itu tiada yang dapat menaungi kita kecuali Dia, Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa. Amin! (Baca juga: Pengetahuan Tentang Dunia: Pasar yang Disinggahi Para Musafir )
(mhy)
Lihat Juga :