Kisah Tujuh Bersaudara yang Mengemban Tugas dari sang Ayah
Senin, 31 Oktober 2022 - 08:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Pelopor Tarekat
Tradisi Chisytiyah
Kisah tersebut dinukil Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Way of the Sufi". Idries Shah menyebut kisah tersebut adalah salah satu materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah .
Lalu, siapa sejatinya Chisytiyah itu? Menurut Idries Shah, Khwaja ('Guru') Abu Ishaq Chisyti, 'orang Syria', lahir di awal abad ke-10. Ia keturunan Nabi Muhammad SAW dan dinyatakan sebagai 'keturunan spritual' ajaran-ajaran batiniah Keluarga (Bani) Hasyim.
Pengikut-pengikutnya berkembang dan berasal dari "garis para guru", yang kemudian dikenal menjadi Naqsyabandiyah ('Orang-orang Bertujuan').
Komunitas Chisytiyah ini, berawal di Chisyt, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka. Kaum darwis pengelana dari tarekat ini, dikenal sebagai Chist atau Chisht.
Mereka akan memasuki sebuah kota dan meramaikan suasana dengan seruling dan genderang, untuk mengumpulkan orang-orang sebelum menceritakan dongeng atau legenda, sebuah permulaan yang penting.
Jejak tokoh ini ditemukan pula di Eropa, di mana chistu Spanyol ditemukan dengan pakaian dan instrumen serupa --semacam pelawak atau komedi keliling.
Bisa jadi demikian, dalam kamus etimologi Barat menghubungkan istilah Latin gerere, 'melakukan', sebagai asal kata 'pelawak' yang kenyataannya adalah sosok jenaka, dan asal mula itu berkaitan dengan Chisti Afghanistan.
Sebagaimana tarekat Sufi lainnya, metodologi khusus kaum Chisyti segera mengalami kristalisasi menjadi kecintaan sederhana terhadap musik; pembangkitan emosional yang dihasilkan musik dikacaukan dengan 'pengalaman spiritual'.
Pengaruh kaum Chisyti paling lama di India. Selama 900 tahun terakhir, musisi mereka dihargai di seluruh benua. Nah, berikut salah satu materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah itu.
Baca juga: Para Guru Desain dan Bagaimana Tarekat Diwujudkan
Tradisi Chisytiyah
Kisah tersebut dinukil Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Way of the Sufi". Idries Shah menyebut kisah tersebut adalah salah satu materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah .
Lalu, siapa sejatinya Chisytiyah itu? Menurut Idries Shah, Khwaja ('Guru') Abu Ishaq Chisyti, 'orang Syria', lahir di awal abad ke-10. Ia keturunan Nabi Muhammad SAW dan dinyatakan sebagai 'keturunan spritual' ajaran-ajaran batiniah Keluarga (Bani) Hasyim.
Pengikut-pengikutnya berkembang dan berasal dari "garis para guru", yang kemudian dikenal menjadi Naqsyabandiyah ('Orang-orang Bertujuan').
Komunitas Chisytiyah ini, berawal di Chisyt, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka. Kaum darwis pengelana dari tarekat ini, dikenal sebagai Chist atau Chisht.
Mereka akan memasuki sebuah kota dan meramaikan suasana dengan seruling dan genderang, untuk mengumpulkan orang-orang sebelum menceritakan dongeng atau legenda, sebuah permulaan yang penting.
Jejak tokoh ini ditemukan pula di Eropa, di mana chistu Spanyol ditemukan dengan pakaian dan instrumen serupa --semacam pelawak atau komedi keliling.
Bisa jadi demikian, dalam kamus etimologi Barat menghubungkan istilah Latin gerere, 'melakukan', sebagai asal kata 'pelawak' yang kenyataannya adalah sosok jenaka, dan asal mula itu berkaitan dengan Chisti Afghanistan.
Sebagaimana tarekat Sufi lainnya, metodologi khusus kaum Chisyti segera mengalami kristalisasi menjadi kecintaan sederhana terhadap musik; pembangkitan emosional yang dihasilkan musik dikacaukan dengan 'pengalaman spiritual'.
Pengaruh kaum Chisyti paling lama di India. Selama 900 tahun terakhir, musisi mereka dihargai di seluruh benua. Nah, berikut salah satu materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah itu.
Baca juga: Para Guru Desain dan Bagaimana Tarekat Diwujudkan
(mhy)
Lihat Juga :