Para Guru Desain dan Bagaimana Tarekat Diwujudkan
Selasa, 03 November 2020 - 12:31 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist/mhy
A
A
A
SEKOLAH darwis yang disebut Khajagan ('Para Guru') muncul di Asia Tengah dan berpengaruh besar terhadap perkembangan kerajaan India dan Turki . Tarekat mengembangkan banyak sekolah khusus, yang mengambil nama-nama individu. Banyak penulis menganggapnya sebagai awal dari seluruh 'mata rantai penyebaran' mistik. (Baca juga: Tiga Calon Sufi, Kearifan, dan Ilham dari Ilmu Perbintangan )
Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi dan diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha menjadi "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat" menyebutkan Khaja Bahauddin Naqsyabandi (wafat kira-kira 1389) adalah salah seorang dari tokoh-tokoh besar sekolah ini. Setelah masanya, dikenal sebagai Rangkaian Naqsyabandi; 'Para Perancang', atau 'Para Guru Desain.' (Baca juga: Guru dan Muridnya: Perumpamaan Tuan Rumah dan Tamu )
Bahauddin menghabiskan waktu tujuh tahun sebagai kerabat istana, tujuh tahun memelihara binatang dan tujuh tahun dalam pembangunan jalan. Ia belajar di bawah bimbingan Baba as-Samasi yang mengagumkan, dan dihargai setelah kembali pada prinsip dan praktik Sufisme. Para syaikh Naqsyabandi sendiri mempunyai kewenangan untuk menuntun murid ke tarekat-tarekat darwis yang lain.
Karena mereka tidak pernah mengenakan busana aneh di depan umum, dan karena anggota mereka tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian, para sarjana tidak merekonstruksi sejarah tarekat, dan sering kesulitan mengidentifikasi anggota-anggotanya. Sebagian karena tradisi 'Para Guru' bekerja sepenuhnya di dalam kerangka kerja sosial dan kultur di mana mereka bertugas, penganut Naqsyabandi di Timur Tengah dan Asia Tengah memperoleh reputasi sebagai ummat Muslim yang taat. (Baca juga: Kisah Hidup Abadi Nazhar bin Yusuf Si Tukang Kayu )
BAGAIMANA TAREKAT DIWUJUDKAN
Tiga darwis pergi ke Perjalanan Terpanjang.
Ketika kembali, orang-orang berkata kepada mereka:
"Apa yang membantu kalian dalam menyelesaikan perjalanan, berusaha sendiri, menahan kekurangan dan menyempurnakan kepulangan?"
Yang pertama menjawab, "Kucing dan tikus; karena mengamati mereka dalam dunia yang umum mengajari aku suatu kepentingan yang seimbang antara kesunyian dan kegiatan."
Yang kedua menjawab, "Makanan; karena membuatku dapat bertahan dan memahami."
Yang ketiga menjawab, "Latihan; karena mengajari aku untuk aktif dan bersatu."
Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi dan diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha menjadi "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat" menyebutkan Khaja Bahauddin Naqsyabandi (wafat kira-kira 1389) adalah salah seorang dari tokoh-tokoh besar sekolah ini. Setelah masanya, dikenal sebagai Rangkaian Naqsyabandi; 'Para Perancang', atau 'Para Guru Desain.' (Baca juga: Guru dan Muridnya: Perumpamaan Tuan Rumah dan Tamu )
Bahauddin menghabiskan waktu tujuh tahun sebagai kerabat istana, tujuh tahun memelihara binatang dan tujuh tahun dalam pembangunan jalan. Ia belajar di bawah bimbingan Baba as-Samasi yang mengagumkan, dan dihargai setelah kembali pada prinsip dan praktik Sufisme. Para syaikh Naqsyabandi sendiri mempunyai kewenangan untuk menuntun murid ke tarekat-tarekat darwis yang lain.
Karena mereka tidak pernah mengenakan busana aneh di depan umum, dan karena anggota mereka tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian, para sarjana tidak merekonstruksi sejarah tarekat, dan sering kesulitan mengidentifikasi anggota-anggotanya. Sebagian karena tradisi 'Para Guru' bekerja sepenuhnya di dalam kerangka kerja sosial dan kultur di mana mereka bertugas, penganut Naqsyabandi di Timur Tengah dan Asia Tengah memperoleh reputasi sebagai ummat Muslim yang taat. (Baca juga: Kisah Hidup Abadi Nazhar bin Yusuf Si Tukang Kayu )
BAGAIMANA TAREKAT DIWUJUDKAN
Tiga darwis pergi ke Perjalanan Terpanjang.
Ketika kembali, orang-orang berkata kepada mereka:
"Apa yang membantu kalian dalam menyelesaikan perjalanan, berusaha sendiri, menahan kekurangan dan menyempurnakan kepulangan?"
Yang pertama menjawab, "Kucing dan tikus; karena mengamati mereka dalam dunia yang umum mengajari aku suatu kepentingan yang seimbang antara kesunyian dan kegiatan."
Yang kedua menjawab, "Makanan; karena membuatku dapat bertahan dan memahami."
Yang ketiga menjawab, "Latihan; karena mengajari aku untuk aktif dan bersatu."
Lihat Juga :