Fitnah? Biar Nggak Gagal Paham, Begini Kata Al-Qur'an
Kamis, 03 November 2022 - 11:06 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, fitnah dalam arti penipuan, kesesatan atau penyimpangan. Hal ini disebutkan oleh Al-Qur'an dalam surah al-A’raf [7] ayat 27 yang berbunyi:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ ٢٧
“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” ( QS. al-A’raf [7] ayat 27).
Baca juga: Hikmah Al-Kahfi dan Fitnah Kehidupan
Kelima, fitnah dalam arti bencana. Hal ini telah disebutkan dalam surah al-Maidah [5] ayat 71 yang berbunyi:
وَحَسِبُوْٓا اَلَّا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ فَعَمُوْا وَصَمُّوْا ثُمَّ تَابَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوْا وَصَمُّوْا كَثِيْرٌ مِّنْهُمْۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ ٧١
“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, lalu banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” ( QS. Al-Maidah [5] ayat 71).
Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya, Tafsir Marah Labid, makna fitnah dalam surah al-Maidah [5] ayat 71 adalah bencana. Ayat ini berbicara tentang bani Israil yang mengira bahwa mereka tidak akan ditimpa bencana atas perbuatan jahat yang mereka lakukan, yakni membunuh para nabi dengan keji dan mendustakan ajarannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa makna fitnah dalam Al-Qur'an tidaklah tunggal, tetapi bervariatif sesuai konteks kalimat di mana ia berada. Meskipun demikian, mengutip Toshihiko Izutsu, setiap kata Al-Qur'an – dalam konteks ini fitnah – memiliki makna denotatif atau makna dasar yang melekat padanya sekalipun dibawa pada konteks berbeda. Wallahu a’lam.
Baca juga: Fitnah Syubhat, Merusakkan Ilmu dan Keyakinan
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ ٢٧
“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” ( QS. al-A’raf [7] ayat 27).
Baca juga: Hikmah Al-Kahfi dan Fitnah Kehidupan
Kelima, fitnah dalam arti bencana. Hal ini telah disebutkan dalam surah al-Maidah [5] ayat 71 yang berbunyi:
وَحَسِبُوْٓا اَلَّا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ فَعَمُوْا وَصَمُّوْا ثُمَّ تَابَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوْا وَصَمُّوْا كَثِيْرٌ مِّنْهُمْۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ ٧١
“Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi bencana apa pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, lalu banyak di antara mereka buta dan tuli. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” ( QS. Al-Maidah [5] ayat 71).
Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya, Tafsir Marah Labid, makna fitnah dalam surah al-Maidah [5] ayat 71 adalah bencana. Ayat ini berbicara tentang bani Israil yang mengira bahwa mereka tidak akan ditimpa bencana atas perbuatan jahat yang mereka lakukan, yakni membunuh para nabi dengan keji dan mendustakan ajarannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa makna fitnah dalam Al-Qur'an tidaklah tunggal, tetapi bervariatif sesuai konteks kalimat di mana ia berada. Meskipun demikian, mengutip Toshihiko Izutsu, setiap kata Al-Qur'an – dalam konteks ini fitnah – memiliki makna denotatif atau makna dasar yang melekat padanya sekalipun dibawa pada konteks berbeda. Wallahu a’lam.
Baca juga: Fitnah Syubhat, Merusakkan Ilmu dan Keyakinan
(mhy)
Lihat Juga :