Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam
Jum'at, 04 November 2022 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
Umat lslam --seperti halnya orang Arab-- mewakili kelompok-kelompok yang masing-masing berkeinginan keras untuk independen dan memainkan pluralisme dengan cara yang tidak mungkin ditolerir atau dibiarkan oleh gereja.
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Bisa jadi, rasa tidak senang ini timbul karena Islam tidak mengenal praktik ritus-ritus suci. Hal ini seperti yang terdapat dalam agama Kristen, sekaligus dengan tuntutan-tuntutan kependetaan dan keuskupan --praktik-praktik ritus suci dan hierarki kependetaan seringkali digunakan untuk memperkuat persatuan dan kedisplinan.
Islam menyatakan meskipun hal itu dalam sistem khilafah --sampai beberapa waktu setelah PD II usai-- toleransi yang besar dalam masalah-masalah penafsiran dan yang berkaitan dengan ushuluddin (teologi).
Sudah tentu, vonis murtad terhadap seorang muslim selama berpegang teguh terhadap dasar-dasar Islam dan mengakui keislamannya adalah di antara faktor-faktor penting yang mempengaruhi terciptanya situasi ini.
Karena, jarang kita temui pelarangan kegiatan-kegiatan kelompok yang mengatasnamakan Islam secara resmi, seperti yang terjadi terhadap kelompok Ahmadiyah di Pakistan.
Umat Islam selalu memandang kemajemukan mereka sebagai sumber kekuatan, bukan sumber kelemahan. Hal itu bisa dipahami, karena latar belakang lahirnya empat mazhab, tarekat-tarekat sufi (seperti Qadiriyah, Baktasyiah, dan Naqsyabandiah) dan kelompok-kelompok keagamaan (seperti Syiah dengan segala ordonya).
Di Barat friksi umat Islam menjadi beberapa kelompok, semakin bertambah atas dasar keanggotan ganda dan bahasa. Hasilnya adalah kombinasi acak-acakan dari oraganisasi-organisasi, budaya-budaya, dan akidah-akidah Islam di bawah kubah besar Islam.
Jika kelompok-kelompok ini memperhatikan saran Ahmad Denver, maka umat Islam di seluruh negara. Eropa dan Amerika Utara akan segera menyadari bahwa mereka menumpang kapal yang sama dan menuju arah yang sama.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Bisa jadi, rasa tidak senang ini timbul karena Islam tidak mengenal praktik ritus-ritus suci. Hal ini seperti yang terdapat dalam agama Kristen, sekaligus dengan tuntutan-tuntutan kependetaan dan keuskupan --praktik-praktik ritus suci dan hierarki kependetaan seringkali digunakan untuk memperkuat persatuan dan kedisplinan.
Islam menyatakan meskipun hal itu dalam sistem khilafah --sampai beberapa waktu setelah PD II usai-- toleransi yang besar dalam masalah-masalah penafsiran dan yang berkaitan dengan ushuluddin (teologi).
Sudah tentu, vonis murtad terhadap seorang muslim selama berpegang teguh terhadap dasar-dasar Islam dan mengakui keislamannya adalah di antara faktor-faktor penting yang mempengaruhi terciptanya situasi ini.
Karena, jarang kita temui pelarangan kegiatan-kegiatan kelompok yang mengatasnamakan Islam secara resmi, seperti yang terjadi terhadap kelompok Ahmadiyah di Pakistan.
Umat Islam selalu memandang kemajemukan mereka sebagai sumber kekuatan, bukan sumber kelemahan. Hal itu bisa dipahami, karena latar belakang lahirnya empat mazhab, tarekat-tarekat sufi (seperti Qadiriyah, Baktasyiah, dan Naqsyabandiah) dan kelompok-kelompok keagamaan (seperti Syiah dengan segala ordonya).
Di Barat friksi umat Islam menjadi beberapa kelompok, semakin bertambah atas dasar keanggotan ganda dan bahasa. Hasilnya adalah kombinasi acak-acakan dari oraganisasi-organisasi, budaya-budaya, dan akidah-akidah Islam di bawah kubah besar Islam.
Jika kelompok-kelompok ini memperhatikan saran Ahmad Denver, maka umat Islam di seluruh negara. Eropa dan Amerika Utara akan segera menyadari bahwa mereka menumpang kapal yang sama dan menuju arah yang sama.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Lihat Juga :