Kisah Penantian Orang yang Suka Tidur di Gerbang Surga
Minggu, 06 November 2022 - 19:22 WIB
loading...
Kisah ini oleh beberapa orang dianggap berasal dari Ali bin Abi Thalib. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah berikut merupakan bahan ajaran darwis yang disukai. Walaupun dikenal sebagai cerita rakyat, asal usulnya tidak diketahui. Beberapa orang menganggapnya berasal dari Hadrat Ali , Khalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah ini begitu penting sehingga disampaikan oleh Nabi sendiri, secara rahasia. "Yang pasti, kisah ini tidak ditemukan dalam Hadis Nabi yang sahih," ujar Idries Shah dalam buku berjudul Tales of The Dervishes.
Menurut Idries, bentuk sastra yang ditampilkan di sini berasal dari karya seorang darwis tak dikenal dari abad ke-17, Amil-Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa 'pengarang sejati adalah dia yang karangannya tanpa nama karena dengan cara itu tak ada yang berdiri di antara pelajar dan yang dipelajarinya.'
Berikut kisah yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi", (Kanisius) tersebut:
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Zaman dahulu ada seorang lelaki baik hati. Ia telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang memungkinkan orang masuk surga. Ia menolong orang miskin, mengasihi sesamanya, dan melayani mereka.
Mengingat pentingnya kesabaran, ia bertahan menanggung kesulitan besar yang terkadang tak terduga, dan sering kali ini dilakukannya demi kebahagian orang lain.
Ia pun berkelana ke berbagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahan hati dan perilakunya yang pantas ditiru dikenal dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan; orang-orang memujinya sebagai seorang bijaksana dan warga yang baik.
Segala kebajikan ia jalankan kapan pun ia ingat untuk melakukannya. Namun, ia mempunyai satu kekurangan yaitu kurang perhatian.
Kecenderungan ini memang tidak begitu kuat, ia menyadarinya, dan bila dibandingkan dengan semua kelebihannya, kekurangan itu sungguh hanyalah cacat kecil saja.
Ada sejumlah orang miskin yang belum ditolongnya, sebab dari waktu ke waktu ia kurang perhatian terhadap kebutuhan mereka. Cinta kasih dan pelayanan pun kadang terlupakan apabila apa yang dipikirkannya adalah keperluan atau hasrat pribadi yang muncul dalam dirinya.
Menurut Idries, bentuk sastra yang ditampilkan di sini berasal dari karya seorang darwis tak dikenal dari abad ke-17, Amil-Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa 'pengarang sejati adalah dia yang karangannya tanpa nama karena dengan cara itu tak ada yang berdiri di antara pelajar dan yang dipelajarinya.'
Berikut kisah yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi", (Kanisius) tersebut:
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Zaman dahulu ada seorang lelaki baik hati. Ia telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang memungkinkan orang masuk surga. Ia menolong orang miskin, mengasihi sesamanya, dan melayani mereka.
Mengingat pentingnya kesabaran, ia bertahan menanggung kesulitan besar yang terkadang tak terduga, dan sering kali ini dilakukannya demi kebahagian orang lain.
Ia pun berkelana ke berbagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahan hati dan perilakunya yang pantas ditiru dikenal dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan; orang-orang memujinya sebagai seorang bijaksana dan warga yang baik.
Segala kebajikan ia jalankan kapan pun ia ingat untuk melakukannya. Namun, ia mempunyai satu kekurangan yaitu kurang perhatian.
Kecenderungan ini memang tidak begitu kuat, ia menyadarinya, dan bila dibandingkan dengan semua kelebihannya, kekurangan itu sungguh hanyalah cacat kecil saja.
Ada sejumlah orang miskin yang belum ditolongnya, sebab dari waktu ke waktu ia kurang perhatian terhadap kebutuhan mereka. Cinta kasih dan pelayanan pun kadang terlupakan apabila apa yang dipikirkannya adalah keperluan atau hasrat pribadi yang muncul dalam dirinya.
Lihat Juga :