Hakikat Golongan Salaf Menurut Nurcholish Madjid
Kamis, 10 November 2022 - 15:38 WIB
loading...
A
A
A
(4) Kemudian terdapat kaum Rafidlah dari kalangan Syi'ah yang menolak keabsahan masa-masa kekhalifahan pertama itu kecuali masa 'Ali.
Cak Nur mengatakan, sebagaimana telah disinggung, masalah definisi kesejarahan tentang siapa yang disebut golongan Salaf dengan konotasi kewenangan dan otoritas di bidang keagamaan itu membawa serta problema teologis. Karena itu pengkajian masalah salaf ini akan dengan sendirinya melibatkan kita kepada berbagai kontroversi teologis yang berkepanjangan, dan yang sampai sekarang praktis belum selesai secara tuntas.
"Dengan meletakkan kontroversi teologis itu ke samping, maka kita terpaksa melakukan pilihan," ujar Cak Nur. "Pilihan itu pada permasalahan intinya bisa dinilai sebagai arbitrer, namun masih bisa dibenarkan dengan melihat segi kepraktisan pembahasan, misalnya berkenaan dengan konteks ruang dan waktu kita, di sini dan sekarang," jelasnya.
Baca juga: Polemik Salafi: Benarkah Tidak Cocok dengan Tradisi Islam Indonesia?
Menurut Cak Nur, dalam hal ini pilihan kita lakukan untuk membahas masalah salaf ini menurut pandangan Sunni, yaitu pandangan yang pertama, mengingat bahwa pandangan itu adalah yang paling meluas diikuti kaum Muslim, baik di dunia maupun di tanah air.
Dalam perkembangan lebih lanjut paham Sunni, golongan Salaf tidak saja terdiri dari kaum Muslim masa Nabi dan empat khalifah yang pertama, tetapi juga meliputi mereka yang biasa dinamakan sebagai kaum Tabi'un (kaum Pengikut, yakni, pengikut para sahabat Nabi, yang merupakan generasi kedua umat Islam).
Bahkan, kata Cak Nur, bagi banyak sarjana Sunni golongan salaf itu juga mencakup generasi ketiga, yaitu generasi Tabi'it al-Tabi'in (para Pengikut dari para Pengikut). Pandangan ini digambarkan secara ringkas dalam sebuah bait dari kitab kecil ilmu kalam Jawharat al-Tawhid karya Al-Syaykh Ibrahim al-Laqqani, yang merupakan salah satu kitab standar di pesantren-pesantren:
(Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik, maka dengarlah!
Lalu menyusul para Tabi'un, diiringi para Tabi'u al-Tabi'in)
Sebagai sandaran ada kewenangan dan otoritas pada ketiga generasi pertama umat Islam itu, kaum Sunni menunjuk kepada firman Allah:
Dan para perintis pertama yang terdiri dari kaum Muhajirun dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka itu dengan baik, Allah telah ridla kepada mereka, dan mereka pun telah ridla kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kebahagiaan yang agung. ( QS al-Tawbah/9 :100)
Cak Nur menjelaskan, jadi firman Ilahi itu menegaskan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu para sahabat Nabi yang berasal dari Mekkah dan Madinah, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (kaum Tabi'un), telah mendapat rida dari Tuhan dan, sebaliknya, mereka pun telah pula bersikap ridla kepada-Nya.
"Untuk mereka itu disediakan oleh Tuhan balasan surga yang akan menjadi kediaman abadi mereka. Dengan kata-kata lain, kaum Salaf itu seluruh tingkah lakunya benar dan mendapat perkenan di sisi Tuhan, jadi mereka adalah golongan yang berotoritas dan berwenang," jelas Cak Nur.
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Otoritas kepada Umat
Menurut Cak Nur, konsep demikian itu, seperti telah disinggung, lebih sesuai dengan paham Sunni ketimbang dengan paham Syi'i. Paham Sunni menyandarkan otoritas kepada umat atau "kolektiva", sementara kaum Syi'i menyandarkannya kepada keteladanan pribadi (examplary individual), dalam hal ini keteladanan pribadi 'Ali yang memang heroik, saleh dan alim (pious).
Cak Nur mengatakan, sebagaimana telah disinggung, masalah definisi kesejarahan tentang siapa yang disebut golongan Salaf dengan konotasi kewenangan dan otoritas di bidang keagamaan itu membawa serta problema teologis. Karena itu pengkajian masalah salaf ini akan dengan sendirinya melibatkan kita kepada berbagai kontroversi teologis yang berkepanjangan, dan yang sampai sekarang praktis belum selesai secara tuntas.
"Dengan meletakkan kontroversi teologis itu ke samping, maka kita terpaksa melakukan pilihan," ujar Cak Nur. "Pilihan itu pada permasalahan intinya bisa dinilai sebagai arbitrer, namun masih bisa dibenarkan dengan melihat segi kepraktisan pembahasan, misalnya berkenaan dengan konteks ruang dan waktu kita, di sini dan sekarang," jelasnya.
Baca juga: Polemik Salafi: Benarkah Tidak Cocok dengan Tradisi Islam Indonesia?
Menurut Cak Nur, dalam hal ini pilihan kita lakukan untuk membahas masalah salaf ini menurut pandangan Sunni, yaitu pandangan yang pertama, mengingat bahwa pandangan itu adalah yang paling meluas diikuti kaum Muslim, baik di dunia maupun di tanah air.
Dalam perkembangan lebih lanjut paham Sunni, golongan Salaf tidak saja terdiri dari kaum Muslim masa Nabi dan empat khalifah yang pertama, tetapi juga meliputi mereka yang biasa dinamakan sebagai kaum Tabi'un (kaum Pengikut, yakni, pengikut para sahabat Nabi, yang merupakan generasi kedua umat Islam).
Bahkan, kata Cak Nur, bagi banyak sarjana Sunni golongan salaf itu juga mencakup generasi ketiga, yaitu generasi Tabi'it al-Tabi'in (para Pengikut dari para Pengikut). Pandangan ini digambarkan secara ringkas dalam sebuah bait dari kitab kecil ilmu kalam Jawharat al-Tawhid karya Al-Syaykh Ibrahim al-Laqqani, yang merupakan salah satu kitab standar di pesantren-pesantren:
(Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik, maka dengarlah!
Lalu menyusul para Tabi'un, diiringi para Tabi'u al-Tabi'in)
Sebagai sandaran ada kewenangan dan otoritas pada ketiga generasi pertama umat Islam itu, kaum Sunni menunjuk kepada firman Allah:
Dan para perintis pertama yang terdiri dari kaum Muhajirun dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka itu dengan baik, Allah telah ridla kepada mereka, dan mereka pun telah ridla kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kebahagiaan yang agung. ( QS al-Tawbah/9 :100)
Cak Nur menjelaskan, jadi firman Ilahi itu menegaskan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu para sahabat Nabi yang berasal dari Mekkah dan Madinah, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (kaum Tabi'un), telah mendapat rida dari Tuhan dan, sebaliknya, mereka pun telah pula bersikap ridla kepada-Nya.
"Untuk mereka itu disediakan oleh Tuhan balasan surga yang akan menjadi kediaman abadi mereka. Dengan kata-kata lain, kaum Salaf itu seluruh tingkah lakunya benar dan mendapat perkenan di sisi Tuhan, jadi mereka adalah golongan yang berotoritas dan berwenang," jelas Cak Nur.
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Otoritas kepada Umat
Menurut Cak Nur, konsep demikian itu, seperti telah disinggung, lebih sesuai dengan paham Sunni ketimbang dengan paham Syi'i. Paham Sunni menyandarkan otoritas kepada umat atau "kolektiva", sementara kaum Syi'i menyandarkannya kepada keteladanan pribadi (examplary individual), dalam hal ini keteladanan pribadi 'Ali yang memang heroik, saleh dan alim (pious).
Lihat Juga :