Sebab-Sebab Ekstrem Keagamaan Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali

loading...
Sebab-Sebab Ekstrem Keagamaan Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali
Syaikh Muhammad al-Ghazali. (Foto/Ilustrasi/Ist)
Syaikh Muhammad al-Ghazal i menganggap sikap ekstrem dalam beragama sebagai penyimpangan. Menurutnya, keberagamaan yang menyimpang karena sebab-sebab psikologis . Hal ini ini bisa dicermati pada pernyataan dan perilaku seseorang serta ekspresi sikap seseorang terhadap orang lain dan segala sesuatu.

"Sebab-sebab itu mempunyai kadar masing-masing, yaitu lemah dan kuat, sedikit dan banyak. Akan tetapi, walau bagaimanapun kondisinya, sebab-sebab ini tetap mempunyai pengaruh yang dalam terhadap pandangan seseorang," ujarnya dalam bukunya berjudul "As-Shahwatul Islamiyah Ru'yatu Nuqadiyatu Minal Daakhili".

Menurutnya, ibadah-ibadah yang telah disyariatkan Allah kepada manusia seharusnya dapat menyucikan jiwa, memelihara cela-cela lahir dan batin, serta menjaga tingkah laku dari penyelewangan, durhaka, dan berbuat serampangan. Hal ini dapat terwujud jika orang-orang yang beribadah menghayati hakikat ibadahnya.

"Hati nurani dan mata hatinya bersujud kepada Allah semata ketika anggota badannya melakukan sujud serta bergetar jiwanya ketika lidahnya mengucapkan bacaan sholat," ujar Syaikh Muhammad al-Ghazali.

Akan tetapi, bila ibadah-ibadah yang selama ini dilakukannya baru sampai pada kulitnya, maka wajar jika ibadah-ibadah itu tidak memberikan pengaruh pada perilakunya.

Baca juga: Radikal dalam Menghakimi Radikalisme

Supaya tidak salah, Syaikh Muhammad al-Ghazali adalah salah seorang tokoh kebangkitan Islam moderat pada abad ke-20. Ia adalah penulis lebih dari 94 buku itu lahir di Desa Nakla al-‘Inab, Buhairah, Mesir, pada 22 September 1917. Tokoh ini berbeda dengan Imam al-Ghazali atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (1058-1111). Tokoh kedua adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Syaikh Muhammad al-Ghazali bercerita pada suatu hari, ia sedang menulis tentang "Kesalahan di Seputar Dakwah." Saat itu ia bertanya dalam hati, "Apa yang Anda harapkan dari orang yang bertabiat jelek kecuali nasihat-nasihat dengan kalimat yang pedas dan ungkapan-ungkapan yang kasar?"

Tabiat sebagian orang dapat mengubah agama dari sudut pandangnya yang orisinal menjadi agama dalam sudut pandang tabiatnya yang buruk. Maka orang itu dapat menggantikan agama, yang berfungsi sebagai petunjuk, menjadi penghalang datangnya petunjuk.

Al-Qur'an telah mengingatkan akan bahaya sekelompok penginjil dan pendeta yang menjadikan agama sebagai kerahiban yang dapat merusak fitrah dan menolak manfaat. Firman Allah:

"Sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah." ( QS at-Taubah : 34)

Sekelompok orang semacam ini berbahaya bagi eksistensi agama-agama, Sebuah syair menyatakan:

"Dan apakah yang merusak agama justru para raja, pendeta Yahudi, dan rahib-rahib Nasrani yang jahat ..."

"Maka mereka menjual diri dan tidak memperoleh untung. Padahal dalam jual beli, harga tidak dimahalkan ..."

Baca juga: Menag Yaqut: Jangan Gegabah Menilai Seseorang Radikal

Sebab-Sebab Psikologis
Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali, sebab-sebab psikologis mulai tumbuh sejak masa kanak-kanak, bahkan terkadang terwarisi secara genetis. Jika pendidikan tidak berhasil melenyapkan sebab-sebab psikologis ini, maka dia akan tumbuh terus pada diri sang anak sampai usia remaja dan tetap berakar dalam tabiatnya hingga masa tua.

Dia memberi contoh Abu Sufyan, pemimpin senior yang terkemuka di Mekkah pada masa jahiliah. Dia dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang gemar kemegahan.

Abbas ra pernah mengusulkan kepada Rasulullah SAW agar beliau berkenan menerangkan sesuatu yang dapat menenangkan hatinya setelah tauhid berhasil mendominasi kehidupan kota Mekkah. Nabi SAW mengabulkan keinginan pamannya dan bersabda:

"Ya, barangsiapa yang masuk ke dalam masjid, maka dia aman. Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka dia aman. Dan barangsiapa yang tinggal (berdiam) di rumahnya, maka dia aman." (al-Hadits)

Abu Sufyan bergembira karena disebut-sebut namanya dan membuka jalan untuk menyerahkan Mekkah tanpa pertempuran.

Kadangkala cela psikis bersembunyi di balik semangat memperjuangkan nilai-nilai dan ketegasan membela kebenaran. Contoh yang paling jelas adalah seseorang yang menyangsikan keadilan Rasulullah SAW dalam membagi harta rampasan perang. Orang tersebut berkata, "Pembagian tidak dilakukan karena Allah."

Hebatnya, Rasulullah SAW adalah pribadi muslim yang paling sabar dan bijak. Menghadapi masalah seperti itu, Nabi SAW menganggap kelemahan demikian disebabkan oleh godaan dunia karena belum kokohnya keyakinan dalam hati sebagian muslim. Sesungguhnya, terburu-buru menuduh hamba Allah yang paling mulia, Rasulullah SAW, adalah refleksi penyakit batin!

Baca juga: Macron Minta Dukungan untuk UU Pemberangus "Islamisme Radikal"
(mhy)
preload video