Kisah Bangsawan Inggris Sir Archibald Watkin Hamilton Mengatasi Keimanan yang Membuta
Senin, 12 Desember 2022 - 05:15 WIB
loading...
Sir Abdullah Archibald Hamilton (kanan). Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Sebelum memeluk agama Islam bernama Sir Charles Edward Archibald Watkin Hamilton. Memeluk agama Islam pada tanggal 20 Desember 1923. Namanya pun diganti menjadi Sir Abdullah Archibald Hamilton.
Beliau adalah seorang negarawan Inggris yang terkenal, mencapai tingkat kebangsawanan bermacam-macam. Beliau lahir pada tanggal 10 Desember 1876, seorang Letnan dalam Royal Defence Corp dan President Salsy Conservative Association.
Berikut penuturuan Hamilton tentang perjalannya menjadi seorang muslim sebagaimana dinukil dalam buku berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam"oleh Rabithah Alam Islamy Mekkah yang dialih bahasakan Bachtiar Affandie (PT Alma'arif Bandung, 1981).
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Sejak saya menginjak usia dewasa, keindahan, kemudahan dan kemurnian Islam itu selalu menarik perhatian saya. Walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan sebagai orang Kristen, sebenarnya saya tidak bisa percaya kepada dogma-dogma yang diajarkan oleh Gereja, dan saya selalu menggunakan akal dan pikiran untuk mengatasi keimanan yang membuta.
Berbareng dengan majunya zaman, saya menginginkan kedamaian dengan Maha Pencipta saya, dan ternyata bahwa baik Gereja Roma maupun Gereja Inggris, tidak ada yang bisa memberikan kepuasan kepada saya.
Saya memeluk agama Islam, hanyalah untuk memenuhi panggilan hati nurani saya, dan sejak itu saya merasa telah menjadi orang yang lebih baik dan lebih benar dari pada sebelumnya.
Tidak ada satupun agama yang dimusuhi orang-orang jahil dan berprasangka seperti agama Islam. Padahal jika orang tahu, Islam itu adalah agama yang memberikan kekuatan kepada orang yang lemah, dan memberikan rasa kecukupan kepada orang yang miskin. Dan ternyata bahwa alam kemanusiaan itu terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Golongan yang dianugerahi Tuhan dengan harta kekayaan.
2. Golongan yang harus bekerja berat untuk mencukupi keperluan hidupnya.
3. Golongan penganggur yang tidak mendapat lapangan kerja atau mereka yang jatuh pailit bukan karena kesalahan mereka sendiri.
Baca juga: Kisah Mualaf Inggris Rayakan Idul Fitri di Tengah Lockdown
Beliau adalah seorang negarawan Inggris yang terkenal, mencapai tingkat kebangsawanan bermacam-macam. Beliau lahir pada tanggal 10 Desember 1876, seorang Letnan dalam Royal Defence Corp dan President Salsy Conservative Association.
Berikut penuturuan Hamilton tentang perjalannya menjadi seorang muslim sebagaimana dinukil dalam buku berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam"oleh Rabithah Alam Islamy Mekkah yang dialih bahasakan Bachtiar Affandie (PT Alma'arif Bandung, 1981).
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Sejak saya menginjak usia dewasa, keindahan, kemudahan dan kemurnian Islam itu selalu menarik perhatian saya. Walaupun saya dilahirkan dan dibesarkan sebagai orang Kristen, sebenarnya saya tidak bisa percaya kepada dogma-dogma yang diajarkan oleh Gereja, dan saya selalu menggunakan akal dan pikiran untuk mengatasi keimanan yang membuta.
Berbareng dengan majunya zaman, saya menginginkan kedamaian dengan Maha Pencipta saya, dan ternyata bahwa baik Gereja Roma maupun Gereja Inggris, tidak ada yang bisa memberikan kepuasan kepada saya.
Saya memeluk agama Islam, hanyalah untuk memenuhi panggilan hati nurani saya, dan sejak itu saya merasa telah menjadi orang yang lebih baik dan lebih benar dari pada sebelumnya.
Tidak ada satupun agama yang dimusuhi orang-orang jahil dan berprasangka seperti agama Islam. Padahal jika orang tahu, Islam itu adalah agama yang memberikan kekuatan kepada orang yang lemah, dan memberikan rasa kecukupan kepada orang yang miskin. Dan ternyata bahwa alam kemanusiaan itu terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Golongan yang dianugerahi Tuhan dengan harta kekayaan.
2. Golongan yang harus bekerja berat untuk mencukupi keperluan hidupnya.
3. Golongan penganggur yang tidak mendapat lapangan kerja atau mereka yang jatuh pailit bukan karena kesalahan mereka sendiri.
Baca juga: Kisah Mualaf Inggris Rayakan Idul Fitri di Tengah Lockdown
Lihat Juga :