Kisah Dramatis Ayuba Suleiman Diallo: Hafiz Al-Quran yang Menjadi Budak di Amerika

Jum'at, 16 Desember 2022 - 19:13 WIB
loading...
A A A
Pendeta Anglikan Thomas Bluett
Akhirnya setelah mengalami kendala bahasa, seorang Afrika yang mengerti bahasa Ayuba dan bahasa Inggris ditemukan, dia menjadi penerjemah bagi kedua belah pihak. Setelah mengetahui asal-usul Ayuba, pihak keamanan menghubungi Tuan pemilik Ayuba, Tolstoy, dan sambil menunggu dia datang, Ayuba ditahan di dalam penjara.

Sementara berada di dalam penjara, bagaimanapun, Ayuba menjadi terkenal di sana karena memiliki kemampuan menulis dalam bahasa Arab dan berasal dari garis keturunan bangsawan Afrika. Berita ini menyebar hingga ke luar penjara, hingga akhirnya menarik perhatian seorang pengacara yang kebetulan sedang bepergian di daerah itu.

Baca juga: Kisah Louis Farrakhan Yakin Didukung Allah Taala Membangun Islam di Amerika

Pengacara tersebut bernama Thomas Bluett, selain itu dia juga seorang pendeta Anglikan, dari sebuah organisasi keagamaan yang bernama Anglican Society for the Propagation of the Gospel. Setelah menghabiskan waktu bersamanya, Bluett menyimpulkan, bahwa pemuda ini jelas-jelas bukan budak Afrika-Amerika biasa.

Sebagaimana dikatakan oleh Bluett, “Setelah kami berbicara dan menggunakan bahasa isyarat kepadanya, dia menulis satu atau dua baris di hadapan kami, dan ketika dia membacanya, mengucapkan kata-kata Allah dan Mahommed (Muhammad); yang mana, dan dia menolak segelas anggur yang kami tawarkan kepadanya.

“Kami menduga bahwa dia adalah seorang Mahometan (pengikut Nabi Muhammad), tetapi tidak dapat memperkirakan dia berasal dari negara mana, atau bagaimana dia bisa sampai ke sini; karena dengan pembawaannya yang ramah, dan ketenangan yang terpancar dari wajahnya, kita bisa melihat bahwa dia bukan budak biasa.”

Di kemudian hari, Bluett menulis buku biografi Ayuba yang berjudul Some Memoirs of the Life of Job, the Son of Solomon, the High Priest of Boonda in Africa, Who Was a Slave About Two Years in Maryland (1734).

Reputasi baru Ayuba ini mungkin mempengaruhi Tolstoy, ketika dia mengambil Ayuba dari penjara dan membawanya kembali ke perkebunannya, dia memperlakukan Ayuba dengan lebih lembut. Beban kerjanya diringankan dan dia bahkan diberi tempat khusus untuk sholat, di mana dia bisa sholat di sana tanpa gangguan.

Segera seorang budak lain, yang bisa berbicara dan memahami bahasa ibu Ayuba dan bahasa Inggris, mengungkapkan kepada Tolstoy, bahwa Ayuba berasal dari keluarga bangsawan yang sangat kaya. Namun, untuk saat ini, kehidupan Ayuba masih belum berubah terlalu banyak, dia tetap masih menjadi seorang budak.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Serikat Rap Brown, Masuk Islam saat di Penjara

Mempertahankan Keyakinan
Selama dalam perbudakan, Ayuba terus mempertahankan keyakinannya, selain sholat, dia juga berpuasa dan mengikuti hukum dasar Islam tentang makanan. Dia tidak keberatan untuk memakan ikan, namun dia tidak mau memakan sedikit pun daging babi.

Selain itu, dia juga dikatakan telah menolak untuk memakan daging apa pun, kecuali ketika dia sendiri yang menyembelihnya, atau oleh seorang Muslim lain yang menyembelihnya, sehingga orang-orang di sekitarnya seringkali membiarkannya menyembelih untuk dirinya sendiri dan untuk mereka.

Kala itu, Ayuba sempat menulis surat kepada ayahnya di Senegal, menjelaskan kepadanya segala sesuatu yang telah terjadi, dan meminta keluarganya untuk menemukan cara untuk membebaskannya.

“Dia menulis surat dalam bahasa Arabick kepada ayahnya, memberi tahu tentang kemalangannya, berharap dia masih bisa menemukan cara untuk menebusnya,” tulis Thomas Bluett, penulis biografi Ayuba.

Ayuba, yang tetap berpegang teguh terhadap agamanya, menggunakan anugrah yang diberikan kepadanya langsung kepada pangkalnya. Dia adalah produk murni dari tradisi Islam dan kebangsawanan keluarganya dan, dengan demikian, dia menjadi sebuah contoh yang sempurna dari harga diri, kepercayadirian, dan iman yang tak tergoyahkan.

Selain itu, tidak seperti budak lainnya yang dianggap bodoh oleh para tuannya, Ayuba menggunakan kecerdasannya untuk mengamati dan memahami cara dan alur kerja jaringan perdagangan budak transatlantik. Dia hendak mencari celah dari jaringan tersebut. Ayuba mengatur agar surat yang dia buat dapat sampai kepada ayahnya dengan menggunakan rute yang sama persis pada saat dia pertama diculik dan dibawa dari Afrika ke Amerika.

Ayuba mengirim suratnya kepada Vachell Denton, seorang mediator perdagangan budak, dialah yang telah mengatur jual-beli Ayuba dari Kapten Pike kepada Tolstoy, Tuan pemilik Ayuba sekarang, ketika dia pertama kali tiba di Amerika.

Apa yang dilakukan oleh Ayuba adalah sebuah langkah yang sangat berani dan bukannya tanpa risiko. Ayuba menggunakan orang-orang yang sama yang telah memperbudaknya dan memperlakukannya seperti barang dagangan untuk mendapatkan kebebasannya.

Baca juga: Kisah Amir Khan, Perjuangan Petinju Muslim Kenalkan Wajah Islam di Amerika

Lalu apa yang membuat Ayuba berpkiran bahwa orang-orang ini mau membantu untuk mendapatkan kebebasannya? Jawabannya adalah karena ini semua urusannya dengan uang. Menurut Ayuba, mereka tidak pernah peduli tentang perbudakan itu sendiri. Mereka lebih peduli tentang uang yang mereka hasilkan darinya. Jika dia bisa meyakinkan mereka bahwa mereka akan diberi imbalan yang cukup untuk membantunya, mereka mungkin akan melakukannya.

Namun ketika surat itu hendak diberikan kepada Pike, dia sudah berangkat ke Inggris. Denton kemudian menitipkan surat itu kepada Kapten Hunt yang akan berangkat ke Inggris, untuk diberikan kepada Pike setibanya di sana. Sayangnya, ketika surat itu sampai di London, Kapten Pike sekali lagi sudah pergi ke pantai barat Afrika, untuk membawa pria, wanita, dan anak-anak Afrika lainnya ke dalam kapalnya.

Hunt kemudian menunjukkan surat itu kepada wakil gubernur Royal African Company, James Oglethorpe, mantan anggota Parlemen dan seorang dermawan. Oglethorpe juga merupakan seorang bangsawan Inggris yang telah mendirikan koloni Inggris di Georgia, Amerika, pada tahun 1732.

Melihatnya, keingintahuan Oglethorpe terusik, dia lalu meneruskan surat itu ke Universitas Oxford, untuk diterjemahkan oleh John Gagnier, seorang orientalis asal Prancis yang menjadi professor bahasa Ibrani dan Arab di universitas tersebut. Saat membaca terjemahannya, Oglethorpe memutuskan untuk membeli kebebasan Ayuba dari Tolstoy.

“Tidak ada baiknya bagi seorang Muslim hidup di negara Kristen,” itulah salah satu kutipan kalimat Ayuba dalam suratnya. Selain itu dia juga meminta agar diumumkan kepada orang-orang Bundu, bahwa dia masih hidup, dan dia memohon kepada penguasa negara dan keluarganya untuk memastikan bahwa kedua istrinya tidak menikah lagi.

Baca juga: Dinasti Ghaznawi, Kesultanan yang Didirikan Seorang Budak

Dua Ciri Khas
Pada Juni tahun 1732, setelah selama delapan belas bulan dalam masa perbudakan di Amerika, Ayuba ditebus seharga 45 poundsterling Inggris oleh Oglethorpe. Menurut sejarawan Sylviane A. Diouf, Ayuba dapat terbebas dari perbudakan karena dua ciri khas seorang Muslim.

Pertama, fakta bahwa dia telah menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim ketika dibawa keluar dari penjara memberi kesan pada orang-orang yang mencoba mencari tahu siapa dirinya. Kedua, karena, sebagai seorang Muslim, dia terpelajar dan dapat menggunakan pemahaman dan analisanya yang tidak dimiliki oleh pada umumnya budak-budak Afrika lainnya.

Sebagaimana ditekankan oleh beberapa penulis Eropa, ketika seorang Afrika menulis dalam bahasa Arab seperti Al-Quran, maka kedudukannya hampir mirip dengan orang Eropa yang mampu menulis dalam bahasa Latin, ada nilai lebih di sana.

Namun, sementara orang Eropa tidak secara rutin menulis korespondensi mereka dalam bahasa Latin, lain halnya dengan Muslim Afrika Barat yang memang menulis dalam bahasa Arab, bahkan bagi mereka yang diperbudak jauh dari tanah kelahiran mereka.

Demikianlah, setelah ditebus oleh James Oglethorpe, Ayuba Suleiman Diallo berlayar menuju London dari Amerika. Selama perjalanan dan sesampainya di London, orang-orang di sekitar Ayuba dapat melihat dengan jelas bahwa dia sangat terdidik dan taat terhadap agamanya.

Awak kapal mencatat, bahwa Ayuba terus menolak wine yang ditawarkan kepadanya dan tidak mau memakan daging yang disediakan kepadanya, kecuali daging itu disembelih menurut hukum Islam. Dia juga terus melaksanakan sholat lima waktu selama berada di atas kapal.

Baca juga: Ketika Bilal bin Rabah Tak Mampu Lagi Mengumandangkan Adzan

Thomas Bluett, pengacara asal Inggris yang pernah menemani Ayuba ketika di dalam penjara, ikut serta di dalam perjalanan ini. Semenjak bertemu dengan Ayuba, Bluett sangat tertarik dengan kisah hidupnya, dan dia berkeinginan untuk membantu Ayuba merdeka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Masjid At-Thohir Los...
Masjid At-Thohir Los Angeles: Simbol Harmoni, Dakwah, dan Kepedulian Diaspora Indonesia di AS
Pesan Menag pada Wisudawan...
Pesan Menag pada Wisudawan Santri Tahfiz 30 Juz, Jadilah Al-Qur’an Berjalan
Kematian : Takdir yang...
Kematian : Takdir yang Pasti Datang, Walaupun Bersembunyi dalam Benteng Tinggi dan Kokoh
Ketika 2 Podcaster Amerika...
Ketika 2 Podcaster Amerika Serikat Terkagum-kagum Dengar Suara Azan di Abu Dhabi
5 Perkara yang Menurunkan...
5 Perkara yang Menurunkan Azab Allah SWT di Dunia
Muktamar IMSA-MISG Diikuti...
Muktamar IMSA-MISG Diikuti 1.400 Muslim di Amerika Serikat, Hadirkan 21 Pembicara
Rekomendasi
Isi Bulan Terungkap,...
Isi Bulan Terungkap, Ternyata Ini yang Membuat Tak Bisa Bercahaya
Badai Matahari Dahsyat...
Badai Matahari Dahsyat Picu Fenomena Aurora di Seluruh Dunia
Fenomena Alam St. Elmos...
Fenomena Alam St. Elmo's Fire Menyelimuti Pesawat Airbus di Udara
Artikel Terkini
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah Muharram, Harian, Tasua dan Asyura
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Tahun Terombang-ambing Banjir
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Infografis
Jadi Buah yang Disebut...
Jadi Buah yang Disebut Al Quran, Ini 3 Manfaat Delima
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved