Kisah Dramatis Ayuba Suleiman Diallo: Hafiz Al-Quran yang Menjadi Budak di Amerika

Jum'at, 16 Desember 2022 - 19:13 WIB
loading...
Kisah Dramatis Ayuba...
Ayuba Suleiman Diallo, hafiz al-Quran bangsawan Muslim Afrika yang dijual sebagai budak di Amerika Serikat. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Ayuba Suleiman Diallo adalah seorang hafid, bangsawan Muslim asli asal Afrika Barat. Pada tahun 1730 saat ia berusia 31 tahun secara dramatis nasibnya berubah total. Pria berkulit hitam ini ditangkap dan dijual sebagai budak ke Amerika .

Edward E. Curtis IV dalam buku berjudul Muslims in America (Oxford University Press, 2009) menyebut sebagai budak, rambut dan janggutnya digunduli sehingga sebagai seorang bangsawan dia merasa terhina.

Meskipun masih dalam perdebatan, beberapa menganggap bahwa Ayuba adalah Muslim pertama yang berada di Amerika. Kelak, kehidupannya di Dunia Barat sebagai budak akan menginspirasi begitu banyak orang.

Baca juga: Kisah Muslim Amerika Akbar T. Salaam Jadi Juragan Sosis Halal

Putra Bangsawan
Ayuba Suleiman Diallo lahir pada tahun 1700 di kota Bundu, wilayah Senegambia (sekarang Senegal). Dia merupakan anak dari keluarga bangsawan Fulani yang sejahtera dan terhormat.

Ayahnya, Suleiman, adalah seorang ulama Muslim yang sangat dihormati. Dia diberi kepercayaan untuk menjadi guru bagi pangeran, putra sang Raja. Ketika ayahnya mengajar sang Pangeran, Ayuba juga hadir di dalam kelasnya.

Di tengah-tengah kehidupan istana dan dikelilingi oleh para ulama terkemuka, pada usia yang masih sangat muda, Ayuba telah menghafal seluruh isi Al-Quran, dia adalah seorang hafiz.

Catatan sejarah lain mengatakan bahwa pada waktu itu usianya baru 15 tahun, dan selain sebagai hafiz, dia juga telah menguasai fikih mazhab Maliki. Dengan kemampuan seperti itu, Ayuba diberi kepercayaan untuk membantu tugas-tugas ayahnya sebagai Imam.

Suleiman, ayah Ayuba, selain sebagai ulama, juga adalah sosok yang berperan penting dalam kancah perpolitikan, dia telah membantu mendirikan kota Bundu, kota tempat di mana Ayuba dibesarkan. Bundu adalah kota Islam orang-orang Fulani, sebuah kota yang diperjuangkan melalui “Fula Pertama”, atau jihad orang-orang Fulani.

Melalui peristiwa itu, orang-orang Fulani menjadikan kota tersebut sebagai negara-kota Islam. Peristiwa ini terjadi 10 tahun sebelum Ayuba dilahirkan. Sebelumnya, Bundu berada di bawah kendali seorang raja dari Mande.

Menginjak usia 31, Ayuba telah mencapai kemapanan, dia memiliki dua istri dan empat anak: Abdullah, Ibrahim, Sambo, dan Fatimah. Pada titik inilah, di puncak masa mudanya, hidupnya akan berubah secara dramatis.

Baca juga: Pengaruh Mansa Musa Orang Terkaya Sepanjang Masa dalam Penyebaran Islam di Afrika Barat

Pada tahun 1731, dia melakukan misi perjalanan dagang ke Gambia di pantai Atlantik, di mana Portugis dan Inggris telah mendirikan pelabuhan komersial. Ayuba datang ke sana dengan seorang penerjemah, Loumein Yoas, untuk membeli kertas, dan menjual dua orang budak.

Secara tradisional, orang-orang Fulani sebenarnya terbiasa membeli kertas dari Afrika Utara dan Timur Tengah, tetapi sekarang kertas itu dapat dibeli dengan lebih mudah dari orang-orang Eropa. Tetapi tidak semua orang Eropa datang ke sana untuk menjual kertas, banyak di antara mereka yang datang ke sana untuk membeli (atau menangkap) budak.

Setelah membeli kertas dan menjual dua orang budaknya, dalam perjalanan pulang ke Bundu, sebelum mereka mencapai tujuan, Ayuba dan Loumein ditangkap oleh para pedagang budak dari suku Afrika lainnya, yaitu suku Mandingo. Orang-orang ini kemudian menggunduli kepala Ayuba dan memangkas habis janggutnya.

Setelah itu Ayuba Suleiman Diallo dan penerjemahnya, Loumein Yoas, mereka dijual kepada Kapten Pike, seorang pedagang budak asal Inggris, pada 27 Februari 1731.

Ayuba meminta dengan amat sangat kepada Kapten Pike, memberi tahu bahwa ayahnya akan menebusnya, dan dia berhasil menulis surat kepada ayahnya untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Tetapi pada saat surat itu sampai di Bundu dan ayah Ayuba mengirim beberapa budaknya sendiri untuk menggantikan putranya, Kapten Pike sudah berlayar ke Amerika, dengan Ayuba di dalamnya.

Ayuba, seorang suami muda, dan ayah dari empat orang anak itu, dibawa menuju ke Annapolis, Maryland, Amerika, dan harus menempuh perjalanan yang panjang selama berbulan-bulan melintasi Samudra Atlantik.

Berdasarkan pengalaman orang Afrika lainnya yang diperbudak di Amerika dan tidak kembali lagi, Ayuba juga merasa mungkin kali ini dia melihat Afrika untuk terakhir kalinya.

Baca juga: Warith Deen Mohammed, Imam Amerika yang Ubah Nation of Islam Jadi Islam Sunni

Setelah perjalanan yang sulit ke Amerika, Kapten Pike menjual Ayuba kepada seorang petani yang bernama Tuan Tolstoy di Maryland. Kesepakatan jual beli budak itu diatur oleh Vachell Denton, seorang pria yang akan Ayuba temui lagi di masa depan. Tetapi untuk saat ini, dia dimiliki oleh Tolstoy, yang segera memberinya nama baru, “Simon” – sebuah langkah pertama dalam upaya untuk menghapus identitas dan asal muasal si budak.

Namun, Ayuba, bahkan dalam belenggu perbudakan, ingin mempertahankan setiap tetes terakhir identitasnya, dan sebagai gantinya dia memilih nama untuk dirinya sendiri. Ayuba memilih nama sebagai Job ben Solomon, yang mana merupakan terjemahan dari Ayyub bin Sulaiman (bahasa Arab) ke dalam bahasa Inggris (Ayyub = Job, bin = ben, Sulaiman = Solomon).

Namun pemilihan nama baru ini mungkin lebih dari sekadar masalah penerjemahan. Tuan barunya, Tolstoy, yang mungkin seorang Kristen, sudah terbiasa dengan nama-nama dan kisah-kisah yang ada di dalam Alkitab, yakni baik kisah tentang Job, maupun Solomon.

Meskipun ada perbedaan versi antara kisah Ayyub dan Sulaiman di Alkitab dan Al-Quran, tetapi Ayuba tampaknya berusaha mengatakan kepada Tuannya bahwa dia akan tetap bersabar sebagaimana Ayyub, dan bermartabat sebagaimana Sulaiman. Dan memang itulah yang dia lakukan.

Segera setelah tiba di Amerika, Ayuba dipekerjakan di ladang tembakau, namun pekerjaan ini terlalu berat baginya, hingga dia jatuh sakit dan mengeluh kepada Tuannya bahwa dia tidak cocok dengan pekerjaan semacam ini. Melihat Ayuba memang memiliki keterbatasan dalam tenaga fisik, Tolstoy kemudian memindahkan Ayuba, yang kini dipanggil Job, ke bagian lain, yakni mengurus hewan ternak sapi. Di bagian ini pekerjaan Ayuba menjadi lebih ringan.

Meskipun Tuannya mungkin tidak menyadarinya, namun Ayuba menikmati pekerjaan barunya (sebisa mungkin yang bisa dinikmati dengan posisinya sebagai budak) karena berternak sapi adalah pekerjaan tradisional orang-orang suku Fulani di Afrika.

Namun lebih dari semua itu, Ayuba kini memiliki kesempatan untuk dapat sholat, yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan di ladang tembakau, karena dia selalu diawasi. Sekarang, Ayuba di sela-sela pekerjaannya dan dengan tingkat kebebasan yang lebih longgar, dapat pergi secara diam-diam ke hutan terdekat untuk sholat.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Robert Dickson Crane, Mulanya Muak terhadap Islam

Pada suatu hari, seorang anak laki-laki kulit putih menemukan Ayuba sedang sholat di hutan, anak itu lalu mengolok-ngoloknya dan melemparkan kotoran ke wajahnya. Mungkin karena alasan ini dan insiden-insiden menyedihkan lainnya, Ayuba tidak tahan, sehingga dia memutuskan untuk melarikan diri setelah melayani Tuannya hanya dalam beberapa bulan.

Tidak lama setelah pelariannya, Ayuba tertangkap di Kent County, Pennsylvania, peristiwa ini terjadi pada Juni tahun 1731. Ketika Ayuba ditangkap, dia tidak bisa berbicara bahasa Inggris dan tidak bisa mengatakan dari mana dia berasal atau dia “dimiliki” oleh Tuan siapa.

“Allah... Muhammad...” Hanya dengan mengulang kata-kata inilah Ayuba menjawab ketika diinterogasi oleh penangkapnya.

Ketika berhadapan dengan situasi yang tidak diketahui, dan berpotensi berbahaya yang tidak dapat dia kendalikan, Ayuba menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan menegaskan keyakinan Islamnya.

Dia menjadikan syahadat sebagai definisi keberadaannya sendiri, tentang pribadinya. Apa yang dia lakukan pada saat itu tepat, karena pada akhirnya, iman dan pendidikan Islamnya lah yang akan menyelamatkannya, membebaskannya dari perbudakan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Masjid At-Thohir Los...
Masjid At-Thohir Los Angeles: Simbol Harmoni, Dakwah, dan Kepedulian Diaspora Indonesia di AS
Pesan Menag pada Wisudawan...
Pesan Menag pada Wisudawan Santri Tahfiz 30 Juz, Jadilah Al-Qur’an Berjalan
Kematian : Takdir yang...
Kematian : Takdir yang Pasti Datang, Walaupun Bersembunyi dalam Benteng Tinggi dan Kokoh
Ketika 2 Podcaster Amerika...
Ketika 2 Podcaster Amerika Serikat Terkagum-kagum Dengar Suara Azan di Abu Dhabi
5 Perkara yang Menurunkan...
5 Perkara yang Menurunkan Azab Allah SWT di Dunia
Muktamar IMSA-MISG Diikuti...
Muktamar IMSA-MISG Diikuti 1.400 Muslim di Amerika Serikat, Hadirkan 21 Pembicara
Rekomendasi
Fakta Gunung Bergerak,...
Fakta Gunung Bergerak, Berikut Penjelasan Al-Qur'an dan Sains
Penemuan Struktur Raksasa...
Penemuan Struktur Raksasa Misterius di Segitiga Bermuda Jadi Teka-teki Terbaru
5 Tempat Dua Air Laut...
5 Tempat Dua Air Laut yang Tidak Bercampur, Bukan Hanya Selat Gibraltar
Artikel Terkini
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Ucapkan Selamat Tahun...
Ucapkan Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah, Menag Ajak Umat Jaga Persatuan
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Infografis
Turkiye Perintahkan...
Turkiye Perintahkan Penangkapan untuk Pembakar Al-Quran di Swedia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved