Kisah Dramatis Ayuba Suleiman Diallo: Hafiz Al-Quran yang Menjadi Budak di Amerika
Jum'at, 16 Desember 2022 - 19:13 WIB
loading...
A
A
A
Selama di dalam kapal, Bluett juga mengajari Ayuba bahasa Inggris, sehingga pada saat dia tiba di London, dia bisa mulai menceritakan kisahnya kepada mereka yang tertarik (dan tampaknya ada banyak dari mereka yang tertarik).
Salinan Al-Quran
Setibanya di London, Ayuba tetap melaksanakan ajaran Islam. Selain itu, Ayuba juga memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang Muslim yang telah menempa pendidikan agama dari sejak usia muda, sebagaimana yang dilaporkan oleh Bluett pada tahun 1734, di Inggris Ayuba menulis tiga buah salinan Al-Quran.
Dia menulis Al-Quran “tanpa bantuan salinan (Al-Quran) lainnya, dan tanpa melihat ke salah satu dari ketiganya ketika dia menulis yang lain,” catat Bluett. Artinya, dia menulis benar-benar mengandalkan ingatannya.
Ayuba juga membantu Sir Hans Sloane, seorang dokter, yang juga merupakan seorang kolektor, pendiri Museum Inggris, dan Presiden the Royal Geographical Society. Di museum, Ayuba membantunya untuk mengorganisir koleksi-koleksi naskah berbahasa Arabnya. Bukan hanya sebatas itu, karena Ayuba sudah bisa berbahasa Inggris, dia juga membantu Sir Hans untuk menerjemahkan bahasa Arab ke Inggris.
Di Inggris Ayuba menjadi benar-benar terkenal setelah orang-orang membaca tentang kisah hidupnya. Ayuba adalah seorang selebritis alamiah dengan segala yang dimilikinya, sehingga menjadikan buku tentang kisah hidupnya menjadi buku terlaris pada abad ke-18.
Baca juga: Pekik Bilal Bin Rabah dalam Perang Badar, Ahad... Ahad... Ahad...
Ajakan Pindah Agama
Penasaran dengan kemampuan literasi, latar belakang kebangsawanan, dan perilaku Ayuba yang santun, salah satu keluarga kerajaan Inggris menjadi sangat ingin bertemu dengannya. Ayuba diundang menjadi tamu kehormatan Duke of Montagu, dia diajak ke rumahnya dan menjadi bersahabat dengannya.
Suatu waktu, beberapa penyokong dana selama Ayuba di Inggris berharap dapat mengajak Ayuba untuk pindah ke agama Kristen, dan mereka memberinya salinan Perjanjian Baru dalam terjemahan bahasa Arab. Tapi Ayuba sudah akrab dengan kisah Yesus, yang digambarkan dalam Al-Quran sebagai seorang nabi dan bukan sebagai penjelmaan Tuhan dalam bentuk manusia.
Ayuba, seperti kebanyakan Muslim lainnya, setuju dengan para sponsor Kristennya bahwa Yesus dilahirkan dari Perawan Maria, memiliki mukjizat, dan akan datang kembali pada akhir zaman. Tetapi dia menolak doktrin Kristen tentang Tritunggal, kepercayaan bahwa Allah, meskipun pada intinya satu, tapi juga merupakan tiga “pribadi”, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus), dan Allah Roh Kudus.
Lalu setelah Ayuba membaca Injil dengan teliti dan sangat berhati-hati, Ayuba memberi tahu teman-teman Kristennya, secara akurat, bahwa dia tidak menemukan penyebutan “Tritunggal” dalam kitab suci itu. Ayuba dengan cepat, menggunakan teks suci Kristen itu sendiri untuk mendukung pandangan teologis Islamnya tentang monoteisme, kepercayaan pada satu Tuhan.
Dan memang, menurut Edward E. Curtis IV, seorang sejarawan yang menulis kisah tentang Ayuba, meskipun Injil Matius memerintahkan pengikut Yesus untuk membaptis seluruh dunia dalam nama “ayah, anak, dan roh kudus,” kata “tritunggal” itu sendiri tidak pernah diucapkan dalam Perjanjian Baru.
Ayuba juga lalu memperingatkan mereka untuk menghindari penggambaran citra manusia dengan Tuhan, bahkan terhadap Yesus itu sendiri, yang mana dalam perspektifnya adalah seorang nabi (Isa). Ayuba sangat kritis — paling tidak menurut Bluett yang merupakan seorang pendeta Anglikan — terhadap tradisi “penyembahan berhala” Katolik Roma, yang mana sebelumnya telah dia amati di suatu kota di Afrika Barat.
Namun demikian, dengan segala hal yang dia dapat di Inggris, sebagaimana telah diduga Ayuba sebelumnya, kedatangannya ke Inggris bukanlah sesuatu yang gratis. Dunia perbudakan sejatinya adalah sebuah bisnis. Orang-orang yang telah membebaskannya kelak akan meminta imbalan balik kepada Ayuba.
Baca juga: Adzan Terakhir Bilal Bin Rabah dan Dialog Jelang Sakaratul Maut
Pulang ke Afrika
Setelah sekian lama tinggal di Inggris, pada tahun 1734 Ayuba Suleiman Diallo akhirnya berlayar pulang ke negaranya dengan bantuan dari Royal African Company, sebuah perusahaan asal Inggris yang memiliki bisnis utama perdagangan emas, perak, dan budak dari Afrika Barat.
Seperti yang telah diduga oleh Ayuba sebelumnya, bahwa kebebasan yang dia peroleh – yang dibantu oleh orang-orang Royal African Company – bukanlah sesuatunya yang gratis. Sebelum kepulangannya, di London, para kolonialis Royal African Company meminta Ayuba bekerja untuk mereka.
Mereka berharap koneksi Ayuba di Afrika Barat dapat membantu mereka dalam membangun hubungan yang lebih kuat untuk perdagangan di wilayah Senegambia, khususnya perdagangan gading, getah pohon karet, dan emas. Ayuba memenuhi permintaan mereka.
Ayuba pulang ke tanah kelahirannya dengan membawa surat-surat dari Royal African Company yang merekomendasikan kepada para petugas mereka di Gambia untuk mendampingi Ayuba “dengan rasa hormat terbesar dan segala keramahan yang mungkin kalian bisa.”
Ayuba menapakkan kakinya dengan selamat di Afrika pada 8 Agustus 1734 di Fort James, Gambia. “Atas izin Allah,” tulis Ayuba. Dari sana dia memulai perjalanannya kembali ke kota asalnya di Bundu, Senegal. Dia ditemani oleh Francis Moore, seorang Inggris, petugas Royal African Company.
Dalam suatu ketidaksengajaan yang luar biasa, pada malam pertama perjalanan mereka, Ayuba bertemu dengan orang-orang yang telah menculiknya tiga tahun sebelumnya. Francis Moore memberikan kesaksiannya ketika peristiwa ini terjadi.
“Job (panggilan Ayuba ketika di Amerika dan Inggris), seseorang yang sangat tenang pada waktu-waktu lain, tidak bisa menahan diri ketika melihat mereka, tetapi jatuh ke dalam hasrat yang paling mengerikan, dan hendak membunuh mereka dengan pedang lebar dan pistolnya, yang mana selalu dia bawa untuk menjaga dirinya,” tulis Moore.
Namun Ayuba urung melakukannya, dia malah berbicara kepada bekas para penculiknya itu. Dia bertanya tentang raja mereka dan dari sana dia mengetahui bahwa “di antara barang-barang dari hasil penjualan Job kepada Kapten Pyke terdapat sebuah pistol, yang biasa dikenakan oleh sang Raja dengan cara digantung di lehernya memakai seutas tali…., suatu hari (pistol) ini tidak sengaja meletus, dan pelurunya bersarang di tenggorokannya, dia tewas seketika.”
Ayuba kemudian berlutut dan “mengembalikan rasa syukurnya kepada Nabi Muhammad karena telah membuat orang ini mati oleh barang-barang dari hasil penjualannya ke dalam perbudakan.”
Ada banyak yang harus disyukuri, karena Ayuba hanyalah orang kedua, seperti yang dikatakan oleh seorang Pulo (Fulani) kepada Moore, yang pernah diketahui kembali ke negara ini, setelah dibawa menjadi budak oleh orang kulit putih.
Baca juga: Bilal bin Rabah, Budak yang Disebut Pemimpin Kita oleh Umar bin Khattab
Perang yang Mengerikan
Sewaktu masih di Inggris, Ayuba mengirim surat kepada ayahnya, memberitahunya bahwa dia masih hidup dan kini telah merdeka dari perbudakan, dan dalam waktu dekat dia akan segera pulang. Surat ini sampai kepada ayahnya dan keluarganya tahu bahwa Ayuba akan pulang dalam waktu yang telah ditentukan.
Kini, setelah tiba di tanah Afrika, karena ada beberapa urusan terkait pekerjaannya di Royal African Company, Ayuba dan Moore harus mengurus beberapa hal terlebih dahulu di sekitar Sungai Gambia, sebelum dia sampai di rumahnya, dia mengirim kurir untuk menyampaikan pesan bahwa dia sudah tiba di Afrika.
Ketika kurir itu kembali, Ayuba menerima berita menyedihkan dari keluarganya, mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal saat dia masih di Inggris, dan Bundu telah hancur lebur karena perang mengerikan yang bahkan tidak menyisakan “seekor sapi pun.”
Mendengar berita ini, Ayuba menangis sedih. Tetapi paling tidak, dia juga menerima berita baik, bahwa keempat anaknya baik-baik saja.
Meskipun dikelilingi oleh bahaya peperangan dan perampokan, pada tahun 1735, Ayuba ditemani oleh teman Inggrisnya akhirnya tiba di kota kelahirannya. Ketika Ayuba tiba di sana, dalam sebuah selebrasi, dia menembakkan senjatanya ke udara dan memacu kudanya berputar-putar dengan kencang.
Ayuba mendapatkan semua anak-anaknya sehat, dan dia berpuasa dari fajar hingga senja selama sebulan penuh, mungkin untuk memenuhi sumpah yang telah dia buat jika suatu waktu dia dapat bebas kembali ketika pertama kali ditangkap pada tahun 1730 atau 1731.
Baca juga: Tangis Waraqah bin Naufal dan Pembebasan Bilal bin Rabah dari Siksaan Kafir Quraisy
Salinan Al-Quran
Setibanya di London, Ayuba tetap melaksanakan ajaran Islam. Selain itu, Ayuba juga memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang Muslim yang telah menempa pendidikan agama dari sejak usia muda, sebagaimana yang dilaporkan oleh Bluett pada tahun 1734, di Inggris Ayuba menulis tiga buah salinan Al-Quran.
Dia menulis Al-Quran “tanpa bantuan salinan (Al-Quran) lainnya, dan tanpa melihat ke salah satu dari ketiganya ketika dia menulis yang lain,” catat Bluett. Artinya, dia menulis benar-benar mengandalkan ingatannya.
Ayuba juga membantu Sir Hans Sloane, seorang dokter, yang juga merupakan seorang kolektor, pendiri Museum Inggris, dan Presiden the Royal Geographical Society. Di museum, Ayuba membantunya untuk mengorganisir koleksi-koleksi naskah berbahasa Arabnya. Bukan hanya sebatas itu, karena Ayuba sudah bisa berbahasa Inggris, dia juga membantu Sir Hans untuk menerjemahkan bahasa Arab ke Inggris.
Di Inggris Ayuba menjadi benar-benar terkenal setelah orang-orang membaca tentang kisah hidupnya. Ayuba adalah seorang selebritis alamiah dengan segala yang dimilikinya, sehingga menjadikan buku tentang kisah hidupnya menjadi buku terlaris pada abad ke-18.
Baca juga: Pekik Bilal Bin Rabah dalam Perang Badar, Ahad... Ahad... Ahad...
Ajakan Pindah Agama
Penasaran dengan kemampuan literasi, latar belakang kebangsawanan, dan perilaku Ayuba yang santun, salah satu keluarga kerajaan Inggris menjadi sangat ingin bertemu dengannya. Ayuba diundang menjadi tamu kehormatan Duke of Montagu, dia diajak ke rumahnya dan menjadi bersahabat dengannya.
Suatu waktu, beberapa penyokong dana selama Ayuba di Inggris berharap dapat mengajak Ayuba untuk pindah ke agama Kristen, dan mereka memberinya salinan Perjanjian Baru dalam terjemahan bahasa Arab. Tapi Ayuba sudah akrab dengan kisah Yesus, yang digambarkan dalam Al-Quran sebagai seorang nabi dan bukan sebagai penjelmaan Tuhan dalam bentuk manusia.
Ayuba, seperti kebanyakan Muslim lainnya, setuju dengan para sponsor Kristennya bahwa Yesus dilahirkan dari Perawan Maria, memiliki mukjizat, dan akan datang kembali pada akhir zaman. Tetapi dia menolak doktrin Kristen tentang Tritunggal, kepercayaan bahwa Allah, meskipun pada intinya satu, tapi juga merupakan tiga “pribadi”, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus), dan Allah Roh Kudus.
Lalu setelah Ayuba membaca Injil dengan teliti dan sangat berhati-hati, Ayuba memberi tahu teman-teman Kristennya, secara akurat, bahwa dia tidak menemukan penyebutan “Tritunggal” dalam kitab suci itu. Ayuba dengan cepat, menggunakan teks suci Kristen itu sendiri untuk mendukung pandangan teologis Islamnya tentang monoteisme, kepercayaan pada satu Tuhan.
Dan memang, menurut Edward E. Curtis IV, seorang sejarawan yang menulis kisah tentang Ayuba, meskipun Injil Matius memerintahkan pengikut Yesus untuk membaptis seluruh dunia dalam nama “ayah, anak, dan roh kudus,” kata “tritunggal” itu sendiri tidak pernah diucapkan dalam Perjanjian Baru.
Ayuba juga lalu memperingatkan mereka untuk menghindari penggambaran citra manusia dengan Tuhan, bahkan terhadap Yesus itu sendiri, yang mana dalam perspektifnya adalah seorang nabi (Isa). Ayuba sangat kritis — paling tidak menurut Bluett yang merupakan seorang pendeta Anglikan — terhadap tradisi “penyembahan berhala” Katolik Roma, yang mana sebelumnya telah dia amati di suatu kota di Afrika Barat.
Namun demikian, dengan segala hal yang dia dapat di Inggris, sebagaimana telah diduga Ayuba sebelumnya, kedatangannya ke Inggris bukanlah sesuatu yang gratis. Dunia perbudakan sejatinya adalah sebuah bisnis. Orang-orang yang telah membebaskannya kelak akan meminta imbalan balik kepada Ayuba.
Baca juga: Adzan Terakhir Bilal Bin Rabah dan Dialog Jelang Sakaratul Maut
Pulang ke Afrika
Setelah sekian lama tinggal di Inggris, pada tahun 1734 Ayuba Suleiman Diallo akhirnya berlayar pulang ke negaranya dengan bantuan dari Royal African Company, sebuah perusahaan asal Inggris yang memiliki bisnis utama perdagangan emas, perak, dan budak dari Afrika Barat.
Seperti yang telah diduga oleh Ayuba sebelumnya, bahwa kebebasan yang dia peroleh – yang dibantu oleh orang-orang Royal African Company – bukanlah sesuatunya yang gratis. Sebelum kepulangannya, di London, para kolonialis Royal African Company meminta Ayuba bekerja untuk mereka.
Mereka berharap koneksi Ayuba di Afrika Barat dapat membantu mereka dalam membangun hubungan yang lebih kuat untuk perdagangan di wilayah Senegambia, khususnya perdagangan gading, getah pohon karet, dan emas. Ayuba memenuhi permintaan mereka.
Ayuba pulang ke tanah kelahirannya dengan membawa surat-surat dari Royal African Company yang merekomendasikan kepada para petugas mereka di Gambia untuk mendampingi Ayuba “dengan rasa hormat terbesar dan segala keramahan yang mungkin kalian bisa.”
Ayuba menapakkan kakinya dengan selamat di Afrika pada 8 Agustus 1734 di Fort James, Gambia. “Atas izin Allah,” tulis Ayuba. Dari sana dia memulai perjalanannya kembali ke kota asalnya di Bundu, Senegal. Dia ditemani oleh Francis Moore, seorang Inggris, petugas Royal African Company.
Dalam suatu ketidaksengajaan yang luar biasa, pada malam pertama perjalanan mereka, Ayuba bertemu dengan orang-orang yang telah menculiknya tiga tahun sebelumnya. Francis Moore memberikan kesaksiannya ketika peristiwa ini terjadi.
“Job (panggilan Ayuba ketika di Amerika dan Inggris), seseorang yang sangat tenang pada waktu-waktu lain, tidak bisa menahan diri ketika melihat mereka, tetapi jatuh ke dalam hasrat yang paling mengerikan, dan hendak membunuh mereka dengan pedang lebar dan pistolnya, yang mana selalu dia bawa untuk menjaga dirinya,” tulis Moore.
Namun Ayuba urung melakukannya, dia malah berbicara kepada bekas para penculiknya itu. Dia bertanya tentang raja mereka dan dari sana dia mengetahui bahwa “di antara barang-barang dari hasil penjualan Job kepada Kapten Pyke terdapat sebuah pistol, yang biasa dikenakan oleh sang Raja dengan cara digantung di lehernya memakai seutas tali…., suatu hari (pistol) ini tidak sengaja meletus, dan pelurunya bersarang di tenggorokannya, dia tewas seketika.”
Ayuba kemudian berlutut dan “mengembalikan rasa syukurnya kepada Nabi Muhammad karena telah membuat orang ini mati oleh barang-barang dari hasil penjualannya ke dalam perbudakan.”
Ada banyak yang harus disyukuri, karena Ayuba hanyalah orang kedua, seperti yang dikatakan oleh seorang Pulo (Fulani) kepada Moore, yang pernah diketahui kembali ke negara ini, setelah dibawa menjadi budak oleh orang kulit putih.
Baca juga: Bilal bin Rabah, Budak yang Disebut Pemimpin Kita oleh Umar bin Khattab
Perang yang Mengerikan
Sewaktu masih di Inggris, Ayuba mengirim surat kepada ayahnya, memberitahunya bahwa dia masih hidup dan kini telah merdeka dari perbudakan, dan dalam waktu dekat dia akan segera pulang. Surat ini sampai kepada ayahnya dan keluarganya tahu bahwa Ayuba akan pulang dalam waktu yang telah ditentukan.
Kini, setelah tiba di tanah Afrika, karena ada beberapa urusan terkait pekerjaannya di Royal African Company, Ayuba dan Moore harus mengurus beberapa hal terlebih dahulu di sekitar Sungai Gambia, sebelum dia sampai di rumahnya, dia mengirim kurir untuk menyampaikan pesan bahwa dia sudah tiba di Afrika.
Ketika kurir itu kembali, Ayuba menerima berita menyedihkan dari keluarganya, mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal saat dia masih di Inggris, dan Bundu telah hancur lebur karena perang mengerikan yang bahkan tidak menyisakan “seekor sapi pun.”
Mendengar berita ini, Ayuba menangis sedih. Tetapi paling tidak, dia juga menerima berita baik, bahwa keempat anaknya baik-baik saja.
Meskipun dikelilingi oleh bahaya peperangan dan perampokan, pada tahun 1735, Ayuba ditemani oleh teman Inggrisnya akhirnya tiba di kota kelahirannya. Ketika Ayuba tiba di sana, dalam sebuah selebrasi, dia menembakkan senjatanya ke udara dan memacu kudanya berputar-putar dengan kencang.
Ayuba mendapatkan semua anak-anaknya sehat, dan dia berpuasa dari fajar hingga senja selama sebulan penuh, mungkin untuk memenuhi sumpah yang telah dia buat jika suatu waktu dia dapat bebas kembali ketika pertama kali ditangkap pada tahun 1730 atau 1731.
Baca juga: Tangis Waraqah bin Naufal dan Pembebasan Bilal bin Rabah dari Siksaan Kafir Quraisy
(mhy)
Lihat Juga :