Kisah Bijak Para Sufi: Si Pengembara, Si Aneh, dan Si Hemat Waktu
Minggu, 12 Juli 2020 - 06:32 WIB
loading...
A
A
A
Akhirnya, hewan-hewan itu muncul, dipimpin seekor singa, raja mereka. Satu persatu mereka pun menyalami Raja Singa dan menceritakan kisah-kisah tentang perihal yang mereka ketahui tetapi tak dipahami oleh umat manusia.
Dari tempat persembunyiannya, Sang Darwis menyaksikan bahwa tak jauh dari sana, terdapat sebuah lobang besar penuh berlian, Harta Karun Karatash, Batu hitam yang sering dibicarakan orang. Salah satu binatang itu mengatakan di losmen tersebut ada seekor tikus yang menjaga penyimpanan uang emas; tikus itu tak bisa belanjakan atau pun terpisah darinya, dan diangkutnya keluar menjelang subuh.
Singa kedua mengisahkan bagaimana seorang putri raja mungkin bisa disembuhkan dari kegilaan yang telah menjangkitinya.
Hal itu merupakan kisah teraneh, hingga bahkan Si Aneh pun sulit mempercayainya. Di lembah sebelah sana ada seekor anjing penggembala yang menjaga sekawanan besar biri-biri. Bulu di balik telinga domba-domba itu bisa menyembuhkan Sang Putri; dan tak ada lain yang bisa. Namun, karena tak ada orang yang mengetahui obat itu atau pun Sang Putri yang terserang penyakit tersebut (yang kini diketahui Si Aneh), maka tak ada harapan bahwa pengetahuannya tentang kedua hal itu bisa dipergunakan. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
Sesaat sebelum fajar, kumpulan binatang itu bubar, dan Sang Darwis pun menanti kemunculan Si Tikus. Benar juga, tikus itu berlari ke tengah ruangan sambil menggelindingkan sekeping uang emas. Ketika hewan pengerat itu telah membawa keluar seluruh timbunan uang emas dan sedang menghitung jumlahnya, Sang Darwis pun muncul dari tempat persembunyiannya, dan mengambil tumpukan uang itu. Kemudian, ia mengadakan pejalanan ke Gua Karatash dan melihat harta karun itu. Dari sana, Si Aneh pun berangkat mencari anjing penggembala itu dan dipetiknya bulu di balik telinga hewan tersebut. Kemudian, ia melanjutkan perjalanannya lagi.
Baca juga: Air Surga dari Orang Badui untuk Baginda Harun Al-Rasyid
Dengan mengikuti petunjuk ganjil yang tak kasat mata bagi orang biasa, Si Darwis Aneh pun akhirnya sampai di perbatasan Kerajaan. Ketika memasuki kota yang asing dan aneh itu, Sang Darwis menyaksikan bahwa orang-orang sedang ribut memperbincangkan suatu hal. Ia pun bertanya ada apa gerangan. Mereka menjelaskan bahwa Putri Raja telah terserang penyakit aneh, dan tak ada orang yang bisa menyembuhkannya. Si Aneh pun bergegas menuju istana.
"Kalau kau bisa sembuhkan putriku," kata Sang Raja, "kau akan memiliki setengah kerajaanku, dan sisanya lagi ketika aku mati. Tetapi, kalau gagal, kau akan kugantung di menara paling tinggi." Si Aneh menyetujui syarat itu, dan Putri Raja pun dibawa kepadanya. Dilambaikannya bulu anjing penggembala tadi di depan Sang Putri, dan seketika itu juga gadis itu sembuh.
Demikianlah, Si Aneh menjadi seorang pangeran kerajaan dan mengajarkan pengetahuannya kepada banyak orang terhormat yang berkumpul ingin mendengarnya. (Baca juga: Jalan Gunung: Ahli Logika Cenderung Buram Matanya, Benarkan?)
Tetapi, pada suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dalam penyamaran, sebagaimana kebiasaannya, ia bertemu Si Darwis Hemat Waktu, yang semula tak mengingatnya karena ia bicara terus tanpa henti dan tak meluangkan sesaat pun untuk mengenali teman lamanya itu. Oleh karena itu, Si Aneh pun membawa Si Hemat Waktu ke istana, dan menantinya mengajukan pertanyaan.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Dari tempat persembunyiannya, Sang Darwis menyaksikan bahwa tak jauh dari sana, terdapat sebuah lobang besar penuh berlian, Harta Karun Karatash, Batu hitam yang sering dibicarakan orang. Salah satu binatang itu mengatakan di losmen tersebut ada seekor tikus yang menjaga penyimpanan uang emas; tikus itu tak bisa belanjakan atau pun terpisah darinya, dan diangkutnya keluar menjelang subuh.
Singa kedua mengisahkan bagaimana seorang putri raja mungkin bisa disembuhkan dari kegilaan yang telah menjangkitinya.
Hal itu merupakan kisah teraneh, hingga bahkan Si Aneh pun sulit mempercayainya. Di lembah sebelah sana ada seekor anjing penggembala yang menjaga sekawanan besar biri-biri. Bulu di balik telinga domba-domba itu bisa menyembuhkan Sang Putri; dan tak ada lain yang bisa. Namun, karena tak ada orang yang mengetahui obat itu atau pun Sang Putri yang terserang penyakit tersebut (yang kini diketahui Si Aneh), maka tak ada harapan bahwa pengetahuannya tentang kedua hal itu bisa dipergunakan. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )
Sesaat sebelum fajar, kumpulan binatang itu bubar, dan Sang Darwis pun menanti kemunculan Si Tikus. Benar juga, tikus itu berlari ke tengah ruangan sambil menggelindingkan sekeping uang emas. Ketika hewan pengerat itu telah membawa keluar seluruh timbunan uang emas dan sedang menghitung jumlahnya, Sang Darwis pun muncul dari tempat persembunyiannya, dan mengambil tumpukan uang itu. Kemudian, ia mengadakan pejalanan ke Gua Karatash dan melihat harta karun itu. Dari sana, Si Aneh pun berangkat mencari anjing penggembala itu dan dipetiknya bulu di balik telinga hewan tersebut. Kemudian, ia melanjutkan perjalanannya lagi.
Baca juga: Air Surga dari Orang Badui untuk Baginda Harun Al-Rasyid
Dengan mengikuti petunjuk ganjil yang tak kasat mata bagi orang biasa, Si Darwis Aneh pun akhirnya sampai di perbatasan Kerajaan. Ketika memasuki kota yang asing dan aneh itu, Sang Darwis menyaksikan bahwa orang-orang sedang ribut memperbincangkan suatu hal. Ia pun bertanya ada apa gerangan. Mereka menjelaskan bahwa Putri Raja telah terserang penyakit aneh, dan tak ada orang yang bisa menyembuhkannya. Si Aneh pun bergegas menuju istana.
"Kalau kau bisa sembuhkan putriku," kata Sang Raja, "kau akan memiliki setengah kerajaanku, dan sisanya lagi ketika aku mati. Tetapi, kalau gagal, kau akan kugantung di menara paling tinggi." Si Aneh menyetujui syarat itu, dan Putri Raja pun dibawa kepadanya. Dilambaikannya bulu anjing penggembala tadi di depan Sang Putri, dan seketika itu juga gadis itu sembuh.
Demikianlah, Si Aneh menjadi seorang pangeran kerajaan dan mengajarkan pengetahuannya kepada banyak orang terhormat yang berkumpul ingin mendengarnya. (Baca juga: Jalan Gunung: Ahli Logika Cenderung Buram Matanya, Benarkan?)
Tetapi, pada suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dalam penyamaran, sebagaimana kebiasaannya, ia bertemu Si Darwis Hemat Waktu, yang semula tak mengingatnya karena ia bicara terus tanpa henti dan tak meluangkan sesaat pun untuk mengenali teman lamanya itu. Oleh karena itu, Si Aneh pun membawa Si Hemat Waktu ke istana, dan menantinya mengajukan pertanyaan.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Lihat Juga :