Inilah 11 Amalan Penting pada Bulan Ramadhan

loading...
Inilah 11 Amalan Penting pada Bulan Ramadhan
Inilah 11 Amalan Penting pada Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan syahrul-'ibadah yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan pahala berlipat. Umat Islam dianjurkan menghidupkan amalan-amalan sunnah sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat pada bulan Ramadhan.

Direktur Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat, merangkum 11 amalan penting di bulan Ramadhan seperti dilansir dari www.rumahfiqih.com:
1). Makan Sahur dengan Mengakhirkannya
Para ulama telah sepakat tentang sunnahnya sahur untuk puasa. Meski demiian, tanpa sahur pun puasa tetap boleh. Dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Makan Sahurlah, karena sahur itu barakah". (HR Bukhari 1923 dan Muslim 1095).

Dasarnya lainnya adalah hadits berikut ini dengan sanad jayyid.
Dari al-Miqdam bin Ma‘dikarb dari Nabi SAW bersabda, "Hendaklah kamu makan sahur karena sahur itu makanan yang diberkati." (HR An-Nasa'i: 4/146).

Dari Abi Said al-Khudri RA. "Sahur itu barakah maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur. (HR Ahmad: 3:12)

Disunnahkan untuk mengakhirkan makan sahur hingga mendekati waktu shubuh. Dari Abu Zar Al-Ghifari RA dengan riwayat marfu', "Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan buka puasa dan mengakhirkan sahur.(HR Ahmad: 1/547)". Di dalam sanad hadits ini adalah Sulaiman bin Abi Utsman yang majhul.

2). Berbuka dengan Menyegerakannya

Disunnahkan dalam berbuka puasa untuk menta'jil atau menyegerakan berbuka sebelum shalat Maghrib. Meski hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma.

Dari Sahl bin Saad bahwa Nabi SAW bersabda, "Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan berbuka." (HR Bukhari 1957 dan Muslim 1058)



Dari Anas RA Berkata bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum salat. Bila tidak ada maka dengan kurma. Bila tidak ada maka dengan minum air. (HR Abu Daud, Hakim dan Tirmizy)

3). Berdoa Ketika Berbuka

Disunnahkan membaca do'a yang ma'tsur dari Rasulullah SAW ketika berbuka puasa. Karena do'a orang yang puasa dan berbuka termasuk doa yang tidak tertolak.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bagi orang yang berpuasa ketika sedang berbuka ada doa yang tak akan ditolak." (HR Tirmidzy)

Sedangkan teks doa yang diajarkan Rasulullah SAW antara lain
"Ya Allah, kepada Engkaulah aku berpuasa dan dengan rizki dari-Mu aku berbuka". Doa ini didasarkan oleh sebuah hadits mursal riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqy. "Telah hilang haus dan telah basah tenggorakan dan telah pasti balasan Insya Allah." Lafaz doa ini didasarkan atas hadits Abu Daud 2358 dan An-Nasa'i 3329 serta Al-Hakim: 1/422)

4). Memberi Makan Orang Berbuka

Memberi makan saat berbuka bagi orang yang berpuasa sangat dianjurkan karena balasannya sangat besar sebesar pahala orang yang diberi makan itu tanpa dikurangi. Bahkan meski hanya mampu memberi sabutir kurma atau seteguk air putih saja. Tapi lebih utama bila dapat memberi makanan yang cukup dan bisa mengenyangkan perutnya.

Sabda Rasulullah SAW: "Siapa yang memberi makan (saat berbuka) untuk orang yang puasa, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang diberi makannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya." (HR At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaemah).

5). Mandi Sebelum Waktu Fajar
Disunnahkan untuk mandi baik dari janabah, haidh atau nifas sebelum masuk waktu fajar. Agar berada dalam kondisi suci saat melakukan puasa dan terlepas dari khilaf Abu Hurairah yang mengatakan bahwa orang yang berhadats besar tidak syah puasanya.

"Orang yang masuk waktu shubuh dalam keadaan junub, maka puasanya tidak sah." (HR Bukhari)

Meski demikian, menurut jumhur ulama apabila seseorang sedang mengalami junub dan belum sempat mandi, padahal waktu subuh sudah masuk, maka puasanya syah. Namun hadits ini ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan junub adalah seseorang meneruskan jima' setelah masuk waktu shubuh.

Adalah Rasulullah SAW pernah masuk waktu subuh dalam keadaan junub karena jima' bukan karena mimpi, kemudian beliau mandi dan berpuasa. (HR Muttafaq 'alaihi)

6). Menjaga Lidah dan Anggota Tubuh
Disunnahkan untuk meninggalkan semua perkataan kotor dan keji serta perkataan yang membawa kepada kefasikan dan kejahatan. Termasuk di dalamnya ghibah (bergunjing), namimah (menagdu domba), dusta dan kebohongan. Meski tidak sampai membatalkan puasanya, namun pahalanya hilang di sisi Allah SWT. Sedangkan perbuatan itu sendiri hukumnya haram baik dalam bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang tidak meninggalkan perkataan kotor dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia untuk meninggalkan makan minumnya (puasanya). (HR Bukhari, Abu Daud, At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah)

Apabila kamu berpuasa, maka jangan berkata keji dan kotor. Bila ada orang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah dia berkata, "Sungguh aku sedang puasa."

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu melakukan rafats dan khashb pada saat berpuasa. Bila orang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah dia berkata, "Aku sedang puasa." (HR Bukhari dan Muslim)

Menurut para ulama, mengatakan aku sedang puasa lebih tepat bila dilakukan bila saat itu sedang puasa Ramadhan yang hukumya wajib. Tetapi bila saat itu sedang puasa sunnah, maka tidak perlu mengatakan sedang puasa agar tidak menjadi riya'. Karena itu cukup dia menahan diri dan mengatakannya dalam hati.

7). Meninggalkan Nafsu dan Syahwat

Ada nafsu dan syahawat tertentu yang tidak sampai membatalkan puasa, seperti menikmati wewangian, melihat sesuatu yang menyenangkan dan halal, mendengarkan dan meraba. Meski pada dasarnya tidak membatalkan puasa selama dalam koridor syar'i, namun disunnahkan untuk meninggalkannya.
halaman ke-1
cover top ayah
اِنَّ الۡاِنۡسَانَ خُلِقَ هَلُوۡعًا ۙ‏
Sesungguhnya, manusia diciptakan dengan sifat suka mengeluh.

(QS. Al-Ma'arij:19)
cover bottom ayah
preload video