Purgatorio Ramadhan dan Aku-Fitri

Selasa, 21 Mei 2019 - 19:30 WIB
Purgatorio Ramadhan...
Purgatorio Ramadhan dan Aku-Fitri
A A A
Muhammad Sabri
Direktur Pengkajian Materi BPIP RI

Agama selalu bermuasal dari Yang Numinous, Yang Tak Tercakapkan: dimulai dari senyap dan saat yang dahsyat dan berakhir dengan konstruksi. Agama juga diawali dengan gigil cinta yang ganjil, ada harapan, ada ketakutan --ada amor dan horor-- yang bertaut. Ada momen tak lazim, unik, tapi juga terpuncak, ketika seseorang mengalami kehadiran Yang Maha Lain, yang dilukiskan Rudolf Otto sebagai mysterium -tremendum, fascinosum.

Pada Abad 5 M, Santo Agustinus dikerkah pengalaman yang mirip: "Dan aku gemetar dengan kasih dan ngeri". Di lekukan sejarah yang dingin, di abad pertengahan, pun penyair Dante mengeja kembali pesan-senyap itu dalam Divine Comedy, sebuah karya sastra-mistik yang dianyamnya dalam semesta kode yang sublim, yang mengandaikan seseorang mengalami "ketercelupan ontologis" ke Yang Numinous melalui fase: inferno-purgatorio-paradiso.

Ramadhan identik dengan purgatorio, semakna pembakaran atau penempaan. Ibarat emas, terpisah dari logam yang merengkuhnya justru ketika dibakar dengan titik didih tertentu. Atau, sebilah keris menampakkan tuahnya setelah ditempa ketelitian dan kesabaran yang agung seorang empu. (Baca Juga: Perjalanan Cinta Burung-burung dalam Manthiq Al-Thayr)

Di bulan semesta-cahaya ini, Allah melimpahkan kasih-Nya agar manusia segera membersihkan diri dari selubung kegelapan dosa (zhulmani) atau inferno: fase dimana manusia tercerabut dari kebahagiaan sejati (paradiso) dan kesucian primordialnya (fitrah).Itu sebabnya, alegorisme Alquran mengandaikan manusia-tercerahkan adalah mereka yang bergegas bangkit meluruhkan selubung "aku-inferno" yang kelam-pekat menuju "aku-paradiso" yang cahaya: min al-zhulumati ila al-nur.

Alam purgatorio-ramadhan, sebab itu, mengandaikan ide latihan (riyadhah), yaitu latihan sang-aku dalam menyelami "pusat" dirinya yang tuah, fitri dan autentik agar tidak terjatuh ke lembah inferno. Dalam tradisi Abrahamic Religions -Yahudi, Nasrani, dan Islam- simbol "kejatuhan" manusia primordial dan terusir dari paradiso, mengalir dalam narasi tentang Adam dan Hawa.

Meski kedua insan pertama -kakek dan nenek buyut seluruh manusia- itu pada urutannya mendapatkan magfirah Allah swt karena teguh menjalankan kalimat-kalimat-Nya (QS 2: 37). Namun mereka mewariskan anak cucu yang kesucian primordialnya selalu terancam jatuh perdetik. Sebab itu, setiap orang berpotensi jatuh martabat kemuliannya dan tersandera pada aku-tak-autentik alias aku-palsu.

Latihan menahan diri (shiyam) di alam purgatorio-ramadhan bersumbu pada latihan untuk membakar aku-palsu agar menemukan aku-autentik yakni aku-fitri yang sepenuhnya merasakan "Kemahahadiran Allah" dalam segenap detak hidup: sebuah episentrum cahaya yang membawa aku-puasa menemukan kesucian asalnya dan kembali ke fitrah (‘id al-fithr).

Pada momen ini aku-puasa berada pada "puncak-terdalam" kebahagiaan sejati paradiso atau dalam tradisi Budhisme disebut sunyata, karena sukses menemukan dirinya yang tuah, asli, dan fitri. Penemuan kembali aku-fitri menjadi sesuatu yang penting, karena kehidupan kita kini tengah dikepung oleh jejaring simulakrum, arena dimana simulasi diri-palsu menemukan pijakannya.Akibatnya, pencarian sungguh-sungguh terhadap autentisitas diri pun, dengan sendirinya, termangsa oleh imperium citra, galaksi kode, jagat lambang, dan semesta imajinasi. Hal itu senapas dengan apa yang digalaukan Adorno dalam The Jargon of Authenticity (1983) sebagai "suasana penuh jebakan dan perangkap yang menyesatkan, karena dunia citra dan simulakrum dipenuhi oleh jargon-jargon semu, termasuk jargon keautentikan:".

Realitas kontemporer kita kini tengah tersedot ke dalam lorong gelap post-realitas: sebuah realitas palsu yang tidak lagi setia terhadap ada-sejati dan autentik. Pada titik ini, purgatorio Ramadhan hadir sebagai pelecut aku-puasa agar kian menemukan aku-autentiknya yang fitri dan selalu dihimpit rasa rindu dan cinta kepada Yang Numinous.

Resapilah kalam-Nya yang kudus: "Dia (Allah) bersama kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha Awas akan segala sesuatu yang kamu perbuat" (QS. 57:4). Aku-puasa, sebab itu, selalu merasa dalam rengkuhan cinta-Nya yang muthmainnah, karena "Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah". "Kami (Allah) lebih dekat dari urat lehernya sendiri (QS 50:16). Cinta yang menautkan kesatuan ontologis antara Allah swt dan hamba-Nya.

Diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi Dawud AS: "Wahai Dawud ketahuilah bahwa dzikir-Ku/Kuperuntukkan para pendzikir/surga-Ku buat orang-orang yang taat/cinta-Ku buat orang yang merindukan-Ku/sedangkan diri-Ku/Kuistimewakan buat mereka yang mencintai-Ku.

Dalam shahifah Nabi Idris juga disebutkan: "Sungguh beruntung suatu kaum yang menyembah-Ku karena cinta kepada-Ku/menjadikan-Ku Tuhan mereka/menghabiskan malam dan siangnya untuk berbakti kepada-Ku/semata karena cinta kepada-Ku/dan penyerahan diri mutlak untuk-Ku/dan menihilkan segala sesuatu selain-Ku.

Pengalaman sublim "Kemahahadiran Allah" Yang Numinous, dalam detak-detik jantung para perindu dan pecinta, pada urutannya menyalakan spirit ketakwaan aku-puasa dalam aktus pencerahan dan ikhtiar pemeliharaan kesucian primordialnya yang autentik. Di sini pula inti mengapa puasa dan takwa terpaut dalam buhul yang erat.

Kualitas aku-takwa, sebab itu, adalah aku-fitri yang tercerahkan visun sosiokultural, moral, intelektual, dan spiritualnya: lokus kesadaran aku-autentik yang sejauh ini justru terbungkam sorak-sorai kehidupan hedonistik yang "menuhankan" materi.
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Spirit Iqra untuk Kemajuan...
Spirit Iqra untuk Kemajuan Peradaban
Kemenangan Idul Fitri...
Kemenangan Idul Fitri di Tengah Pandemi
Aulia Cendekia, Pondok...
Aulia Cendekia, Pondok Pesantren Terbuka, Modern, dan Digital
Merawat Kesalehan di...
Merawat Kesalehan di Luar Ramadhan
Raih Keutamaan Sepuluh...
Raih Keutamaan Sepuluh Hari Akhir Ramadhan
Raih Kemuliaan dengan...
Raih Kemuliaan dengan Berbagi kepada Sesama
Rekomendasi
Ini Penyebab Permukaan...
Ini Penyebab Permukaan Bulan Bopeng dan Punya 9.000 Kawah
Mengapa Pelangi Terlihat...
Mengapa Pelangi Terlihat Ada 7 Warna? Ini Fakta Sebenarnya
Super Blue Blood Moon...
Super Blue Blood Moon 2018, Gerhana Bulan Terindah Sepanjang Sejarah yang Sangat Jarang Terjadi
Artikel Terkini
Asal Usul Nama Surat...
Asal Usul Nama Surat Al-Baqarah: Kisah Sapi Betina yang Mengungkap Misteri Pembunuhan
Ayat-ayat Istimewa Surat...
Ayat-ayat Istimewa Surat Al Baqarah : Mengapa Ayat 255 Disebut Ayat Kursi?
Asbabun Nuzul 2 Ayat...
Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
Bacaan 2 Ayat Terakhir...
Bacaan 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah dan 3 Manfaatnya yang Dahsyat
Rahasia 2 Ayat Terakhir...
Rahasia 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Dibaca Malam Hari, Pahalanya Luar Biasa
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Infografis
Umat Muslim Dianjurkan...
Umat Muslim Dianjurkan Memperbanyak Doa Sambut Ramadhan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved