Golongan Pertama yang Dinaungi Allah di Hari Kiamat

loading...
Golongan Pertama yang Dinaungi Allah di Hari Kiamat
Golongan Pertama yang Dinaungi Allah di Hari Kiamat
Menjadi pemimpin adil itu memang berat, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengembannya. Allah Ta'ala menempatkan pemimpin adil sebagai orang pertama yang mendapat naungan-Nya pada hari kiamat.

"Orang pertama yang dipilih untuk diselamatkan di hari kiamat adalah pemimpin adil. Kenapa harus pemimpin adil? Karena pemimpin yang adil mampu menghadirkan suatu hal yang tidak bisa kita hadirkan," kata Dai muda Ustaz Hilmi Firdausi saat mengisi kajian di Masjid Permata Qalbu, Pos Pengumben, Jakarta Barat.

Para Sahabat Nabiketika diangkat menjadi pemimpin, mereka langsung beristirja' mengucap kalimat "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali." (Al-Baqarah: 156)

Ustaz Hilmi Firdausi bercerita, ketika Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu (RA) diangkat menjadi pemimpin sempat berkata "musibah, musibah, musibah". Kemudian ketika SayyidinaUmar bin Khatthab RA wafat seharusnya yang diangkat menggantikannya adalah Sayyidina Abdurrahman bin Auf RA.



Namun, ketika Sayyidina Abdurrahman diangkat Beliau mengambil belati dan berpesan "Jika kalian ingin aku menjadi memimpin, maka sebaiknya kalian tusukkan belati ini sehingga aku menjadi orang mati". Sehingga para Sahabat bertanya kepada Sayyidina Abdurrahman "Jika engkau tak mau, maka tunjuklah di antara kami dan kami akan taat dengan pendapatmu". Maka ditunjuklah Sayyidina Utsman bin AffanRA menjadi pemimpin (khalifah ketiga).

Ketika Sayyidina Utsman ditunjuk banyak yang tidak menyukainya karena beliau lembut dan berbanding terbalik dengan Sayyidina Umar yang sangat tegas. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) pernah berpesan andai ada Nabi setelah aku, maka itu adalah Umar bin Khaththab RA karena itu setiap Umar berpendapat ikutilah.

Begitulah sahabat Nabi terdahulu selalu takut ketika akan menjadi seorang pemimpin. Berbanding terbalik dengan sekarang di mana ketika diangkat menjadi pemimpin membuat tasyakuran, mengadakan pesta dan lainnya.



Pemimpin dalam Islam itu Tugasnya 2, yaitu:
1. Menjaga Agama.
2. Mengurus Rakyat.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَ ذَا النُّوۡنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّـقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنۡ لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ‌ۖ اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‌
Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.”

(QS. Al-Anbiya:87)
cover bottom ayah
preload video