Makna Menjadikan Allah sebagai Wakil Menurut Quraish Shihab

Senin, 22 Juli 2024 - 14:24 WIB
Baca juga: Berlemah Lemah Lembut Kepada Perempuan adalah Akhlak yang Mulia

Jika Anda telah merasa yakin terhadap kesempurnaan Allah, dan segala yang dilakukan-Nya adalah baik serta terpuji, Anda pun harus percaya bahwa: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, itu dan (kesalahan) dirimu sendiri". ( QS An-Nisa' [4] : 79).

Al-Quran memberi contoh bagaimana seharusnya seorang Muslim mengekspresikan keyakinan itu dalam ucapan-ucapannya.

Perhatikan pengajaran Allah dalam Al-Quran surat Al-Fatihah: "Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan (jalan) mereka yang sesat." ( QS Al-Fatihah [1] : 7).

Di sini, petunjuk jalan menuju kebaikan dinyatakan bersumber dari Allah yang memberi nikmat. Perhatikan redaksi ayat di atas "yang telah Engkau anugerahi nikmat". Tetapi, ketika berbicara tentang jalan orang-orang sesat dan yang akan mendapat murka, tidak dinyatakan "jalan orang-orang yang Engkau murkai," tetapi "yang dimurkai," karena murka dapat mengandung makna negatif, sehingga tidak wajar disandar kepada Allah.

Perhatikan juga ucapan Nabi Ibrahim as: "Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku." ( QS Asy-Syu'ara' [26] : 80).

Baca juga: Inilah Hasil Manis dari Keimanan kepada Allah

Karena penyakit merupakan sesuatu yang buruk, tidak dinyatakan bahwa ia berasal dari Tuhan, tetapi, apabila aku sakit kesembuhan yang merupakan sesuatu yang terpuji, dinyatakan bahwa "Dia (Allah) yang menyembuhkan".

Sekali lagi, kata Quraish bacalah firman Allah dalam surat Al-Kahf yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa as bersama seorang hamba pilihan Allah (Khidir as).

Ketika sang hamba Allah itu membocorkan perahu, dia berucap "Aku ingin merusaknya" (ayat 79), ini disebabkan karena pembocoran perahu tampak sebagai sesuatu yang buruk. Tetapi ketika ia membangun kembali tembok yang hampir rubuh, kalimat yang digunakan adalah "Maka Tuhanmu menghendaki" (ayat 82), karena di sana amat jelas sisi positif pembangunan itu.

Ketika Khidhir membunuh seorang bocah dengan maksud agar Tuhan menggantikan dengan bocah yang lebih baik, redaksi yang digunakannya adalah "Maka kami berkehendak" (ayat 81).

Kehendaknya adalah pembunuhan, dan kehendak Tuhan adalah penggantian anak dengan yang lebih baik.

Baca juga: Hadis Qudsi: Berbaik Sangka kepada Allah Taala
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!