Bahaya Nifak, Lubang Tikus yang Membuat Sahabat Nabi Takut

Selasa, 20 Oktober 2020 - 05:00 WIB
Ia sangat kecewa ketika menyadari hal ini, dan sulit menerimanya. Dengan pikiran kalut, ia ke luar rumah seraya berkata, “Hanzhalah kamu telah munafik.” Saat itu Abu Bakar RA menyaksikan dan segera menghampirinya. Ia berkata kepada Abu Bakar RA, “Hanzhalah telah menjadi munafik.” Mendengar perkataan itu Abu Bakar tidak membenarkannya. (Baca juga: Cara Rasulullah Memimpin Pemerintahan Kedepankan Tawazun )


Kemudian Hanzhalah bercerita kepada Abu Bakar mengenai kegundahan yang ia alami. Abu Bakar menyahut, “Ya, hal itu juga terjadi pada kami (sahabat lainnnya).” Keduanya lantas menemui Rasulullah SAW.

Hanzhalah bercerita kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, jika kami berada di hadapanmu dan engkau menceritakan surga dan neraka kepada kami, seolah-olah keduanya berada di hadapan kami. Namun, jika kami berpisah dengan engkau dan bercanda dengan anak istri kami, maka apa yang terjadi dengan engkau kami lupakan.”

Rasulullah menjawab kegelisahan Hanzhalah, “Demi Dzat Yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika setiap saat keadaanmu selalu seperti ketika bersamaku, maka para malaikat akan menjabat tanganmu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan. Namun Hanzhalah, demikianlah keadaannya. Terkadang seperti ini, terkadang seperti itu.” (Baca juga: Taurat Anggap Nabi Luth Berzina dengan Dua Putrinya, Al-Qur'an dan Hadis Mengoreksi )


Perkataan Rasulullah kepada Hanzhalah menyiratkan bahwa mengingat surga dan neraka adalah hal yang penting, namun manusia tetap memiliki keperluan hidup yang harus ditunaikan. Makan, minum, anak, istri, bahkan bercakap-cakap dengan mereka pun penting. Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah bagaimana para sahabat sangat mengkhawatirkan setiap hal yang menyangkut urusan agama mereka.

Jenis Nifak

Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan dalam kitab ‘Aqîdatut Tauhîd menyebutkan nifak ada dua jenis: nifak i’tiqadi dan nifak ‘Amali.

Nifak i’tiqadi (keyakinan) yaitu nifak akbar (besar), di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifak ini menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam secara totalitas dan dia akan berada di dalam neraka yang paling bawah. (Baca juga: Ketika Allah Ta'ala Sakit dan Minta Dijenguk, Begini Takwilnya )


Allah Ta'ala menyemati para pelaku nifak ini dengan berbagai sifat buruk, seperti kufur, tidak beriman, suka mengolok-olok dan mencaci agama juga pemeluknya serta mereka sangat cenderung kepada musuh-musuh agama Islam ini untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam.

Orang-orang munafik jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman, terutama ketika kekuatan Islam mulai tampak dan mereka tidak mampu membendungnya secara terang-terangan. Dalam kondisi seperti itu, mereka memperlihatkan diri mereka telah menganut agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan menyelamatkan jiwa dan harta benda mereka.

Di awal surat al-Baqarah, Allah Ta'ala menyebutkan tiga golongan manusia yaitu kaum mukminin, kaum kuffar dan kaum munafik. Allah menyebutkan tentang kaum mukminin dalam empat ayat, tentang kaum kuffar dalam dua ayat dan tentang kaum munafik dalam tiga belas ayat. Ini karena banyaknya jumlah mereka dan meratanya ujian akibat prilaku mereka serta beratnya fitnah yang diakibat oleh mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin. Karena mereka dinisbatkan ke dalam Islam, sebagai penolongnya dan orang-orang yang loyal terhadap Islam, namun sejatinya mereka adalah musuh Islam. (Baca juga: Hikmah Penyakit dan Doa Menjenguk Orang Sakit yang Diajarkan Nabi )

Nifak jenis ini ada enam macam, yaitu: Mendustakan Rasulullah SAW, mendustakan sebagian ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, membenci Rasulullah, membenci sebagian ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, merasa gembira dengan kemunduran agama yang dibawa Rasulullah, tidak senang dengan kemenangan Islam.

Nifak ‘amali (perbuatan). Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafik, tetapi masih tetap memiliki iman di dalam hati. Nifak jenis ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama atau tidak menyebabkan murtad, namun itu merupakan wasilah (perantara) yang berpotensi mengantarkan kepada yang demikian. (Baca juga: Dahsyatnya Keutamaan Menjenguk Orang Sakit )

Pelakunya berada dalam iman dan nifak. Lalu jika perbuatan nifaknya banyak, maka akan bisa menjadi sebab yang menyeretnya ke dalam nifak yang sejati, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Ada empat hal yang jika keempat-empatnya ada pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafik sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki salah satu karakter kemunafikan sampai ia meninggalkannya: (1) jika dipercaya ia berkhianat, (2) jika berbicara ia berdusta, (3) jika berjanji ia memungkiri, dan (4) jika bertengkar ia melewati batas. (Muttafaq alaih dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu . HR. Al-Bukhâri, no. 34 dan Muslim, no. 207)

Terkadang pada diri seorang hamba terkumpul kebaikan dan keburukan, perbuatan iman dan perbuatan kufur serta nifak. Karena itu, ia berhak mendapatkan pahala dan siksa sesuai konsekuensi dari apa yang ia lakukan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!