Mewujudkan Negeri Baldatun Thoyyibah
Kamis, 17 Desember 2020 - 14:02 WIB
Ustaz Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
Shamsi Ali Al-Kajangi
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Pada Hari Kamis 15 Desember kemarin, saya mendapat kehormatan menyampaikan ceramah agama pada acara Refleksi Akhir Tahun Gubernur Sulawesi Selatan. Acara ini dihadiri oleh Gubernur dan seluruh jajaran pemerintah propensi dan daerah/kota se-Sulsel, termasuk ketua dan anggota DPRD Sulsel, Kodam, Kapolda, dan Kajati Sul-Sel.
Acara yang awalnya direncanakan dilangsungkan secara langsung (in person atau inland) di Hotel Claro Makassar ini diubah menjadi virtual karena Covid di Kota Makassar dalam dua hari ini tiba-tiba meninggi. Karenanya Gubernur menyampaikan sambutan dan laporan capaian pembangunan dalam setahun terakhir dari Rujab. Sementara saya didampingi Bapak Sekda menyampaikan ceramah agama dari aula pertemuan kantor Gubernuran.
Berikut saya sampaikan beberapa poin dari presentasi yang saya sampaikan dengan tema "Mewujudkan daerah/negeri sebagai Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur". (Baca Juga: Membangun Ummat Terbaik di Amerika)
Pertama, saya membuka dengan mengingatkan kembali, khususnya para ustaz dan tokoh agama, agar membantu pemerintah dalam menghadapi Covid-19 ini. Mentaati protokol kesehatan, termasuk memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, bukan tanda lemahnya iman. Justru hal itu menjadi bagian dari ajaran Islam kita. Covid itu nyata dan semua punya tanggung jawab untuk memeranginya.
Kedua, cinta daerah atau negeri itu merupakan salah satu naluri dasar (tabiat) manusia. Dan karenanya sejauh-jauh kita berjalan, sebanyak negeri yang dikunjungi, ada kerinduan untuk kembali kepada daerah atau negeri sendiri. Ini sebuah kesadaran yang perlu dipertahankan sehingga anak-anak daerah/negeri di manapun harus punya komitmen untuk membangun daerah/negerinya.
Ketiga, sebagai bagian dari refleksi akhir tahun, kita perlu membangun kesadaran bahwa hidup ini adalah amanah. Dan salah satu aspek amanah itu adalah ketika kita di amanahi "posisi pengabdian" (tidak harus kekuasaan) kepada masyarakat. Ini adalah amanah Allah yang harus dijaga dan ditunaikan secara amanah dan penuh tanggung jawab. Karena pada akhirnya akan ada pertanggung jawaban, tidak saja di dunia ini. Tapi yang terpenting di akhirat nanti.
Keempat, daerah/negeri ini punya semua potensi untuk maju, kuat dan besar untuk sejajar dengan daerah/negeri hebat lainnya. Untuk Sulsel, selain sumber daya alam yang hebat, juga SDM yang handal dan berani. Karenanya mewujudkan Sul-Sel menjadi daerah kuat, makmur dan berkeadilan bukan tanpa dasar. Kekayaan alam dan kekayaan budaya, didukung oleh karakter manusia yang berani (terkadang nekat) menjadi modal tersendiri bagi kekuatan dan kemajuan daerah ini.
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Pada Hari Kamis 15 Desember kemarin, saya mendapat kehormatan menyampaikan ceramah agama pada acara Refleksi Akhir Tahun Gubernur Sulawesi Selatan. Acara ini dihadiri oleh Gubernur dan seluruh jajaran pemerintah propensi dan daerah/kota se-Sulsel, termasuk ketua dan anggota DPRD Sulsel, Kodam, Kapolda, dan Kajati Sul-Sel.
Acara yang awalnya direncanakan dilangsungkan secara langsung (in person atau inland) di Hotel Claro Makassar ini diubah menjadi virtual karena Covid di Kota Makassar dalam dua hari ini tiba-tiba meninggi. Karenanya Gubernur menyampaikan sambutan dan laporan capaian pembangunan dalam setahun terakhir dari Rujab. Sementara saya didampingi Bapak Sekda menyampaikan ceramah agama dari aula pertemuan kantor Gubernuran.
Berikut saya sampaikan beberapa poin dari presentasi yang saya sampaikan dengan tema "Mewujudkan daerah/negeri sebagai Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur". (Baca Juga: Membangun Ummat Terbaik di Amerika)
Pertama, saya membuka dengan mengingatkan kembali, khususnya para ustaz dan tokoh agama, agar membantu pemerintah dalam menghadapi Covid-19 ini. Mentaati protokol kesehatan, termasuk memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, bukan tanda lemahnya iman. Justru hal itu menjadi bagian dari ajaran Islam kita. Covid itu nyata dan semua punya tanggung jawab untuk memeranginya.
Kedua, cinta daerah atau negeri itu merupakan salah satu naluri dasar (tabiat) manusia. Dan karenanya sejauh-jauh kita berjalan, sebanyak negeri yang dikunjungi, ada kerinduan untuk kembali kepada daerah atau negeri sendiri. Ini sebuah kesadaran yang perlu dipertahankan sehingga anak-anak daerah/negeri di manapun harus punya komitmen untuk membangun daerah/negerinya.
Ketiga, sebagai bagian dari refleksi akhir tahun, kita perlu membangun kesadaran bahwa hidup ini adalah amanah. Dan salah satu aspek amanah itu adalah ketika kita di amanahi "posisi pengabdian" (tidak harus kekuasaan) kepada masyarakat. Ini adalah amanah Allah yang harus dijaga dan ditunaikan secara amanah dan penuh tanggung jawab. Karena pada akhirnya akan ada pertanggung jawaban, tidak saja di dunia ini. Tapi yang terpenting di akhirat nanti.
Keempat, daerah/negeri ini punya semua potensi untuk maju, kuat dan besar untuk sejajar dengan daerah/negeri hebat lainnya. Untuk Sulsel, selain sumber daya alam yang hebat, juga SDM yang handal dan berani. Karenanya mewujudkan Sul-Sel menjadi daerah kuat, makmur dan berkeadilan bukan tanpa dasar. Kekayaan alam dan kekayaan budaya, didukung oleh karakter manusia yang berani (terkadang nekat) menjadi modal tersendiri bagi kekuatan dan kemajuan daerah ini.
Lihat Juga :