Mewujudkan Negeri Baldatun Thoyyibah

Kamis, 17 Desember 2020 - 14:02 WIB
Kelima, untuk mewujudkan sebuah daerah menjadi daerah kuat, makmur dan berkeadilan (baldatun thoyyibatun) diperlukan beberapa perangkat dasar. Semua perangkat ini menjadi tanggung jawab pemerintah, tokoh agama/masyarakat dan tentunya masyarakat secara umum.

Perlunya membangun self confidence. Bahwa potensi yang ada itu, baik SDA maupun SDM, jika tidak dibarengi oleh sebuah rasa percaya diri (self confidence) dan keberanian pastinya tidak akan maksimal. Percaya diri itu bukan dengan karakter superman atau superwoman. Tapi terbangun di atas asas iman kepada Allah SWT. Bahwa dengan iman itu manusia memiliki kekuatan untuk mengembangkan potensi yang ada untuk mewujudkan daerah/negeri yang sukses dan kuat.

Pembangunan yang menghubungkan antara nilai-nilai langit dan bumi. Dalam pandangan Islam pembangunan yang berhasil terlihat ketika dua sisi keberkahan menyatu. Yaitu keberkahan langit dan bumi. Al-Qur'an manggaris bawahi: "Sekiranya penduduk kota (negeri) itu beriman dan bertakwa niscaya Kami (Allah) akan bukakan keberkahan langit dan bumi."

Membangun infrastruktur dengan jalan-jalan dan jembatan penting. Tapi semua itu akan bermakna ketika infrastruktur (jalan dan jembatan) ke langit juga terbangun.

Untuk mewujudkan pembangunan yang kuat dan berkemajuan diperlukan kebersamaan dan persatuan semua pihak. Persatuan adalah kekuatan. Bercerai berai itu adalah kelemahan yang sangat berbahaya. Kebersamaan itu bukan menyamakan. Maka yang diperlukan adalah keragaman, bukan keseragaman. Karenanya dalam sebuah tatanan masyarakat akan selalu perbedaan-perbedaan. Dengan perbedaan itu terjalin kesatuan dan kebersamaan. Sebab jika tidak ada lagi perbedaan maka persatuan dan kebersamaan bukan lagi isu yang perlu dibicarakan.

Pembangunan itu harusnya berlandaskan kepada "kesadaran sosial" yang tinggi. Yaitu adanya rasa tanggung jawab untuk bersama-sama merawat kebaikan dan kesalehan (Al-Ma'ruf) dan melawan kebatilan dan penyelewengan (Al-Mungkar). Kesadaran Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar menjadi tuntutan mendasar dalam kehidupan publik. Dan karenanya pembangunan tidak boleh mengesampingkan kesadaran tersebut. Satu di antara bentuk kesadaran sosial itu adalah semangat masyarakat untuk meluruskan yang salah dari pemerintahnya. Jika tidak maka pemerintah dapat melakukan kesemenaan yang akan merugikan warganya.

Pembangunan dalam Islam itu memiliki orientasi ukhrawi (akhirah oriented development). Pandangan ini sekaligus merupakan antithesis dari konsep pembangunan yang sekedar berorientasi material. Islam memandang bahwa pembangunan yang bertujuan ukhrawi akan memperkokoh semangat dan tanggung jawab membangun dunia. Dengan wawasan akhirat dunia dengan sendirinya akan mengikut. Tapi memburu dunia justeru rentang menelantarkan akhirat. Karenanya akhirat harus menjadi tujuan mendasar dari pembangunan.

Pembangunan dalam Islam itu terbangun di atas asas kebenaran dengan kesadaran tanggung jawab. Kebenaran dan tanggung jawab itulah yang terangkum dalam terminologi publik yang dikenal dengan integritas. Karenanya pembangunan dalam Islam harus memiliki karakter integritas. Integritas inilah yang dikenal dalam agama dengan "moral ground" (landasan moral) atau akhlak mulia.

Pembangunan dalam Islam harus berorientasi "the excellence" (terbaik atau the best). Dalam istilah Al-Qur'an membangun masyarakat itu berwawasan "Khaer Ummah". Inilah yang kemudian harus diterjemahkan Ke dalam pembangunan yang bercirikan "the excellence" itu.

Untuk mewujudkan pembangunan yang berorientasi "Khaer" atau "excellence" itu perlu dibangun wawasan global yang menjadi karakter dasar dunia kita saat ini. Wawasan global ini minimal diterjemahkan dalam bentuk kesadaran akan dunia yang "interconnnected" (saling tergantung) dan kompetitif (persaingan ketat).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!