Al-Shafh, Lapang Dada, dan Perintah Memberi Maaf Menurut Al-Qur'an
Rabu, 19 Mei 2021 - 14:56 WIB
Ilustrasi/Dok, SINDOnews
M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Wawasan Al-Qur’an , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, menjelaskan kata al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak delapan kali dalam Al-Quran. Kata ini pada mulanya berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan keluasannya.
Baca juga: Halal Bihalal Bisa Timbulkan Kebencian Allah, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Dari sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahat karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada.
Dari delapan kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.
Perhatikan ayat-ayat berikut:
Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang ( QS Al-Thaghabun [64]: 14 ).
Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24]: 22)
Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) ( QS Al-Ma-idah [5]: l3 . Juga baca surat Al-Baqarah [2]: 109 ).
Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani menyatakan bahwa al-shafa lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf). Pernyataan yang dikemukakan itu, kata Quraish, dapat dipahami melalui alasan kebahasaan sebagai berikut.
Baca juga: Sejarah Munculnya Istilah Halal Bihalal di Indonesia
Baca juga: Halal Bihalal Bisa Timbulkan Kebencian Allah, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Dari sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahat karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada.
Dari delapan kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.
Perhatikan ayat-ayat berikut:
Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang ( QS Al-Thaghabun [64]: 14 ).
Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24]: 22)
Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) ( QS Al-Ma-idah [5]: l3 . Juga baca surat Al-Baqarah [2]: 109 ).
Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani menyatakan bahwa al-shafa lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf). Pernyataan yang dikemukakan itu, kata Quraish, dapat dipahami melalui alasan kebahasaan sebagai berikut.
Baca juga: Sejarah Munculnya Istilah Halal Bihalal di Indonesia
Lihat Juga :