Jejak Sayyidah Ruqayyah dan Nasib Ummu Kultsum Putri Rasulullah

Jum'at, 29 Mei 2020 - 17:30 WIB
Setelah melihat sikap Abu Thalib, mereka sepakat untuk mengucilkan Bani Hasyim dan Bani Muththalib, dua anak Abdu Manaf, dan mengusir mereka dari bumi Makkah serta menekan kehidupan mereka.

Kaum Quraisy tidak boleh menjual kepada atau membeli apa pun dari Bani Hasyim sampai mereka mau menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh. Mereka menulis kesepakatan tersebut dalam sebuah dokumen yang digantungkan di pintu Kakbah.

Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam

Akibatnya, Bani Hasyim mengungsi ke tanah Abu Thalib, diikuti para Bani Muththalib, baik yang muslim maupun kafir, kecuali Abu Lahab yang bergabung bersama kelompok Quraisy.

Dalam pemboikotan ini, kaum muslimin dan Bani Hasyim yang berpihak kepada mereka mengalami kesulitan serta tekanan ekonomi dan sosial yang sangat berat.

Bahkan, mereka sampai memakan daun-daun pepohonan. Mereka bertahan dalam keadaan demikian sekitar tiga tahun tanpa ada bekal yang sampai kepada mereka, kecuali yang datang secara diam-diam.

Menggambarkan kelaparan ini, Sa`d ibn Abi Waqqash menceritakan, “Aku mengalami kelaparan sampai suatu malam aku menyentuh sesuatu yang basah lalu kuambil dan kumasukkan ke dalam mulut. Sampai saat ini, aku tidak tahu apakah sesuatu itu.”

Mereka menceritakan bahwa Hisyam ibn `Amar ibn Rabi`ah al-`Amiri pada suatu malam mengirim seekor unta yang mengangkut makanan. Ketika unta itu memasuki daerah kaum muslimin, Hisyam melepaskan tali kekang unta dan menghelanya.

Unta itu pun membawa masuk makanan yang diangkutnya ke tengah-tengah Bani Hasyim dan Bani Muththalib.

Di tengah peristiwa pemboikotan itu, Ummu Kultsum r.a. harus memikul tanggung jawab yang paling berat. Sang ibu yang suci, Khadijah, jatuh sakit hingga terbaring di atas ranjang karena sakitnya kian parah.

Sementara itu, adik kecilnya, Fathimah az-Zahra, sangat membutuhkan perhatian dan perlindungan. Tidak ada orang lain selain dirinya yang mungkin memberikan perawatan kepada sang ibu dan memberikan perhatian kepada adiknya, ditambah dengan tugas untuk meringankan beban duka dan kesedihan sang ayah, Rasulullah.

Baca juga: Inilah Masjid Pertama yang Dibangun di Muka Bumi

Akhirnya, kaum muslimin keluar dari pemboikotan dengan iman yang semakin kuat. Pengalaman pahit itu pun justru semakin meneguhkan tekat mereka.

Di dalam rumah Nabi, di Makkah al-Mukarramah, Ummul Mukminin nan suci, Khadijah sedang menjalani detik-detik akhir masa hidupnya sementara ketiga putrinya, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fathimah, mengelilinginya. Sementara Ruqayyah berada ke Habasyah.

Sang suami tercinta, Rasulullah Muhammad turut berada di sisinya untuk meringankan beban sakarulmaut yang sedang ia alami dan menberikan kabar gembira atas nikmat yang telah menanti.

Ummu Kultsum menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ia tidak sanggup memandang sang ibu yang sedang mengalami sakaratulmaut itu.

Beberapa mata yang berlinang berpaling kepada Khadijah seakan hendak menghentikan rintihan yang menyakitkan. Ummu Kultsum meninggalkan ruangan dengan air mata yang terus mengalir.

Namun, ia bertemu dengan sang ayah, Rasulullah di ambang pintu, berdiri dengan air mata berlinang.

Setelah kepergian mendiang sang wanita suci, Ummul Mukminin Khadijah r.a., rumah itu pun menjadi sunyi seolah tiada berpenghuni meskipun tiga putrinya, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Zainab masih mengisi rumah itu.

Rumah itu seakan telah berubah menjadi rumah tanpa nyawa, pelita tanpa minyak, dan hati tanpa cinta. Himpitan duka semakin terasa saat Rasulullah memasuki rumah dengan lunglai, memeriksa ke seluruh sudut seakan sedang mencari pengurus rumah yang telah pergi.

Beberapa waktu setelah kepergian mendiang Ummu Mukminin nan suci itu, Rasulullah kembali tertimpa oleh musibah serupa, yaitu meninggalnya sang paman, Abu Thalib, yang selama ini menjadi pendukung dalam dakwahnya, pelindung bagi dirinya, serta tameng dan penolong untuk menghadapi kaumnya.

Ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum Quraisy menimpakan kejahatan terhadap Rasulullah. Kejahatan yang tak terbayangkan pada masa hidup Abu Thalib.

Bahkan, seorang yang paling bodoh di antara kaum Quraisy pun sampai berani menghadang Rasulullah dan menyiramkan debu di kepala beliau. Rasulullah memasuki rumah dengan debu yang masih memenuhi kepala. Sambil menangis, Ummu Kultsum segera mendekati dan membasuh debu di kepala Rasulullah.

Selanjutnya, beliau bersabda, “Jangan menangis wahai putriku, sesungguhnya Allah pasti melindungimu dan ayahmu.”

Ibnu Ishaq mengatakan, “Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama. Dengan kepergian Khadijah, Rasulullah mengalami musibah yang bertubi-tubi. Bagi Rasulullah, Khadijah adalah pendamping setia untuk mendakwahkan Islam dan tempat beliau mengadu.

Begitu juga dengan Abu Thalib yang merupakan pembela dan pelindung bagi beliau. Ia merupakan penjaga dan penolong beliau dalam menghadapi kaumnya. Semua ini terjadi tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Sabar telah menjadi sahabat Rasulullah yang paling setia ditemani oleh para putrinya dan orang-orang beriman kepada Allah saat beliau menghadapi berbagai kesulitan besar itu. Akhirnya, Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Yastrib terlebih dahulu. Setelah itu, disusul oleh beliau yang turut hijrah menuju Yastrib.

Rasulullah meninggalkan kediamannya di Mekah al-Mukarramah untuk hijrah. Beliau titipkan Ummu Kultsum dan Fathimah kepada istri kedua beliau, Saudah binti Zam`ah , yang beliau nikahi setelah kepergian mendiang Khadijah. (Baca juga: Saudah Binti Zam'ah, Istri Nabi yang Paling Panjang Tangannya )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!