Kisah Cinta Utsman bin Affan dan Ruqayyah: Dua Kali Hijrah
Kamis, 26 September 2024 - 15:15 WIB
loading...
Ketika itu umur Ruqayyah belum mencapai 20 tahun, sementara umur Utsman ketika itu sudah hampir 40 tahun. Ilustrasi: Ist
A
A
A
TATKALA mendapat berita bahwa Ruqayyah yang cantik menikah dengan sepupunya, Utbah bin Abi Lahab, Utsman bin Affan bersedih, mengapa bukan dirinya yang mengawininya.
Dengan kecewa berat ia menemui keluarganya, dan di tempat itu ia bertemu dengan bibinya Sa'diyah binti Kuraiz, seorang dukun. Ia memberikan berita gembira bahwa dia akan menikah dengan Ruqayyah.
"Saya heran dia membawa berita gembira mengenai perempuan yang sudah bersuamikan laki-laki lain," kata Utsman. "Lalu kata saya, 'Apa kata Bibi?" Dia menjawab: "Utsman, Anda akan mendapat kehormatan, akan menjadi orang penting. Dia seorang nabi yang membawa bukti, diutus dengan sebenarnya sebagai orang yang saleh, ia akan mendapat wahyu, yang dapat membedakan yang hak dengan yang batil. Ikutlah dia, Anda tak akan tertipu oleh berhala."
Kata Utsman: "Anda mengatakan suatu masalah yang tak pernah terjadi di negeri kita."
Baca juga: Bernarkah Khalifah Utsman bin Affan Dikorbankan Bani Umayyah?
Perempuan itu berkata lagi: "Muhammad bin Abdullah, utusan Allah, dengan membawa wahyu dari Allah, mengajak orang beribadah hanya kepada Allah."
Seterusnya kata perempuan itu lagi: "Pelitanya adalah pelita, agama kemenangan, perkaranya berjaya, sasarannya jitu, seluruh negeri ini tunduk kepadanya, tak ada gunanya berteriak, jika terjadi pembantaian dan panah sudah direntang."
Hijrah ke Abisinia
Pernikahan Ruqqayah dengan Utbah bin Abu Lahab, musuh Rasulullah sekaligus paman Rasulullah terjadi sebelum Allah menurunkan ayat 10 surat al-Mumtahanah tentang haram menikah antara Muslimah dengan laki-laki musyrik .
Setelah turun ayat tersebut, dan keduanya bercerai, selanjutnya Utsman menikahi Ruqqayah. "Ketika itu umur Ruqayyah belum mencapai 20 tahun, sementara umur Utsman ketika itu sudah hampir 40 tahun, dan di zaman jahiliah ia sudah pernah menikah dan mendapat julukan Abu Umar," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Dengan kecewa berat ia menemui keluarganya, dan di tempat itu ia bertemu dengan bibinya Sa'diyah binti Kuraiz, seorang dukun. Ia memberikan berita gembira bahwa dia akan menikah dengan Ruqayyah.
"Saya heran dia membawa berita gembira mengenai perempuan yang sudah bersuamikan laki-laki lain," kata Utsman. "Lalu kata saya, 'Apa kata Bibi?" Dia menjawab: "Utsman, Anda akan mendapat kehormatan, akan menjadi orang penting. Dia seorang nabi yang membawa bukti, diutus dengan sebenarnya sebagai orang yang saleh, ia akan mendapat wahyu, yang dapat membedakan yang hak dengan yang batil. Ikutlah dia, Anda tak akan tertipu oleh berhala."
Kata Utsman: "Anda mengatakan suatu masalah yang tak pernah terjadi di negeri kita."
Baca juga: Bernarkah Khalifah Utsman bin Affan Dikorbankan Bani Umayyah?
Perempuan itu berkata lagi: "Muhammad bin Abdullah, utusan Allah, dengan membawa wahyu dari Allah, mengajak orang beribadah hanya kepada Allah."
Seterusnya kata perempuan itu lagi: "Pelitanya adalah pelita, agama kemenangan, perkaranya berjaya, sasarannya jitu, seluruh negeri ini tunduk kepadanya, tak ada gunanya berteriak, jika terjadi pembantaian dan panah sudah direntang."
Hijrah ke Abisinia
Pernikahan Ruqqayah dengan Utbah bin Abu Lahab, musuh Rasulullah sekaligus paman Rasulullah terjadi sebelum Allah menurunkan ayat 10 surat al-Mumtahanah tentang haram menikah antara Muslimah dengan laki-laki musyrik .
Setelah turun ayat tersebut, dan keduanya bercerai, selanjutnya Utsman menikahi Ruqqayah. "Ketika itu umur Ruqayyah belum mencapai 20 tahun, sementara umur Utsman ketika itu sudah hampir 40 tahun, dan di zaman jahiliah ia sudah pernah menikah dan mendapat julukan Abu Umar," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Lihat Juga :