Ketika Pendiri Agama Sikh Akui Berutang Budi pada Sufisme
Rabu, 24 Agustus 2022 - 19:08 WIB
Guru Nanak, pendidi Agama Sikh. Foto/Ilustrasi: discoversikhism
Nawab-Zada Sayyid Idries Shah al-Hasyimi atau Idries Shah mengatakan menurut sebuah fakta sejarah, agama Sikh didirikan oleh Guru Nanak, seorang sufi Hindu, yang secara terus terang mengakui berutang budi pada sufisme. Pengakuannya itu terungkap dalam buku Cultural History:
"Sebenarnya ia telah mendalami tradisi pengetahuan sufi, dan ternyata kita sangat sulit menemukan bahwa ia telah mengambil (ajaran-ajaran) dari kitab-kitab Hindu, karena ia jarang merujuk kitab-kitab Hindu itu. Maka orang beranggapan bahwa Nanak sebenarnya kurang mampu memahami khazanah Veda dan Puranik itu."
"Nama Sikh artinya "pencari", sebuah metafor yang menunjuk sang pengembara sufi," tutur Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Sufis".
Baca juga: Sufisme Pengaruhi Kehidupan Mistik di India
Menurut Idries Syah, Maharshi Devendranath Tagore (1815-1905) --ayah Rabindranath Tagore-- telah meluangkan waktu selama 2 tahun di Pegunungan Himalaya. Selama itu ia justru bukan mempelajari kitab-kitab Hindu warisan para leluhurnya, namun mempelajari sebuah syair dari seorang guru sufi, yaitu Hafizh, sehingga menurut seorang cendekiawan Hindu lainnya, yaitu Profesor Hanumantha Rao, setelah mendalami syair tersebut ia mencapai suatu pencerahan batin.
Sedangkan para guru sufi generasi berikutnya di India, banyak dari mereka yang mengikuti pendahulunya dari Turki, Afghan dan Persia, yang memiliki pengaruh kuat.
Salah satu konsekuensi dari kedatangan mereka di wilayah tersebut adalah orang-orang Hindu mengadopsi sebuah terminologi dari bahasa Arab untuk seorang sufi pengabdi--Fakir, untuk diterapkan atas diri mereka sendiri.
Begitu banyak buku mencatat tentang perilaku mereka yang aneh dan menakjubkan, dan sampai saat ini pun berjuta juta orang dari setiap aliran kepercayaan berkumpul melakukan "pemujaan" dan meminta bantuan mereka sebagai orang suci.
Muinuddin Chisyti, pendiri Tarekat Chisytiyah di India, diutus (gurunya) ke Ajmer pada pertengahan abad ke-12 untuk menyampaikan ajarannya kepada orang-orang Hindu. Namun Raja Prithvi Raj tidak menyukai kedatangannya.
Konon Raja kemudian menghimpun prajurit dan para tukang sihir untuk menghalanginya memasuki kota. Para prajurit itu tiba-tiba buta ketika orang suci itu (Muinuddin), dengan mencontoh suatu tindakan Nabi, melemparkan segenggam kerikil ke arah mereka.
"Sebenarnya ia telah mendalami tradisi pengetahuan sufi, dan ternyata kita sangat sulit menemukan bahwa ia telah mengambil (ajaran-ajaran) dari kitab-kitab Hindu, karena ia jarang merujuk kitab-kitab Hindu itu. Maka orang beranggapan bahwa Nanak sebenarnya kurang mampu memahami khazanah Veda dan Puranik itu."
"Nama Sikh artinya "pencari", sebuah metafor yang menunjuk sang pengembara sufi," tutur Idries Shah dalam bukunya berjudul "The Sufis".
Baca juga: Sufisme Pengaruhi Kehidupan Mistik di India
Menurut Idries Syah, Maharshi Devendranath Tagore (1815-1905) --ayah Rabindranath Tagore-- telah meluangkan waktu selama 2 tahun di Pegunungan Himalaya. Selama itu ia justru bukan mempelajari kitab-kitab Hindu warisan para leluhurnya, namun mempelajari sebuah syair dari seorang guru sufi, yaitu Hafizh, sehingga menurut seorang cendekiawan Hindu lainnya, yaitu Profesor Hanumantha Rao, setelah mendalami syair tersebut ia mencapai suatu pencerahan batin.
Sedangkan para guru sufi generasi berikutnya di India, banyak dari mereka yang mengikuti pendahulunya dari Turki, Afghan dan Persia, yang memiliki pengaruh kuat.
Salah satu konsekuensi dari kedatangan mereka di wilayah tersebut adalah orang-orang Hindu mengadopsi sebuah terminologi dari bahasa Arab untuk seorang sufi pengabdi--Fakir, untuk diterapkan atas diri mereka sendiri.
Begitu banyak buku mencatat tentang perilaku mereka yang aneh dan menakjubkan, dan sampai saat ini pun berjuta juta orang dari setiap aliran kepercayaan berkumpul melakukan "pemujaan" dan meminta bantuan mereka sebagai orang suci.
Muinuddin Chisyti, pendiri Tarekat Chisytiyah di India, diutus (gurunya) ke Ajmer pada pertengahan abad ke-12 untuk menyampaikan ajarannya kepada orang-orang Hindu. Namun Raja Prithvi Raj tidak menyukai kedatangannya.
Konon Raja kemudian menghimpun prajurit dan para tukang sihir untuk menghalanginya memasuki kota. Para prajurit itu tiba-tiba buta ketika orang suci itu (Muinuddin), dengan mencontoh suatu tindakan Nabi, melemparkan segenggam kerikil ke arah mereka.
Lihat Juga :