Jurang Pemisah antara Islam dan Kristen Menurut Montgomery Watt
Sabtu, 28 Januari 2023 - 09:37 WIB
loading...
William Montgomery Watt. Foto/Ilustrasi: AP/masjidma
A
A
A
Orientalis dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat dari Britania Raya, William Montgomery Watt (1909-2006), mengatakan para pengikut tiap agama itu menganggap agamanya sendiri lebih unggul dari semua agama yang lain. "Sebagian pengikut agama, khususnya sebagian pengikut agama Kristen dan Islam , berpikir bahwa agamanya sendirilah yang dianggap sebagai agama dalam arti yang sebenarnya, sementara semua agama yang lain itu tidak ada sama sekali," ujarnya.
Dalam buku yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996) Montgomery Watt melanjutkan, kepercayaan demikian diberikan sebagai landasan bagi penegasan pernyataannya, misalnya "hanya agama saya sendirilah satu-satunya yang dari Tuhan" atau "agama saya sendirilah satu-satunya agama yang mempunyai kebenaran ilahiah yang asli, sementara semua agama-agama lain tidak asli lagi."
Baca juga: Persepsi Kristen Terhadap Islam Menurut Montgomery Watt
Menurutnya, pandangan-pandangan eksklusivis ini tidak dapat dipertahankan ke dalam kultur dunia yang timbul, sebab ilmu pengetahuan sosial merupakan bagian dari pandangan intelektual barat, dan observasi sosial-ilmiah agama-agama menunjukkan bahwa agama-agama tersebut semuanya kurang atau lebih melakukan hal-hal yang sama, mirip dengan tujuan dan dengan ukuran kesuksesan.
John Hick melihat ini berkenaan dengan kemiripan yang amat secara paksa dengan mengutip doa (atau peribadatan) orang Yahudi, Muslim, Sikh dan Hindu yang secara tegas berbeda dengan doa-doa (atau peribadatan) orang Kristen.
Sungguhpun orang yang beriman menegaskan bahwa hanya agamanyalah yang lebih unggul dari agama-agama lain, maka hal ini masih sulit baginya untuk menemukan para pemeluk agama-agama lain sebagai sama dengan agama yang dipeluknya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Menurut Montgomery Watt, sangat dipertahankan bahwa karena kandungan intelektual kepercayaan agama itu diungkapkan pada terma-terma iconic, maka tidak ada kriteria kebenaran intelektual bagi kepercayaan-kepercayaan ini, dan bahwa ajaran-ajaran yang seolah-olah mengandung kontradiksi kenyataannya tidak boleh berkontradiksi melainkan harus saling melengkapi.
Apabila pernyataan ini diterima maka tidak ada justifikasi rasional bagi penegasan secara publik karena agama kita itu lebih baik daripada agama lain (sekalipun kita terus berfikir demikian), dan paling tidak, justifikasi parsial bagi diakuinya agama-agama lain sebagai sama benarnya dengan agama kita.
Kriteria "hasil" sebagai diterapkan untuk agama-agama akan segera dijelaskan, dan tentu saja harus mempunyai tempat sentral dalam pemikiran Kristen, karena agama ini berasal dari Puncak Gunung Sermon; Yesus mengatakan bahwa guru-guru agama harus dinilai sesuai dengan kualitas hasil ajarannya. Dalam cara yang sama bahwa pohon yang baik itu berbeda dengan pohon yang buruk dari kualitas buah yang dihasilkannya.
Baca juga: Persepsi Umum Kenabian Menurut Orientalis William Montgomery Watt
Apabila konsepsi ini diterapkan kepada agama, kata Montgomery Watt, maka kita dapat mengatakan bahwa agama itu memproduksi buah yang baik ketika memampukan mayoritas anggota-anggota pemeluknya untuk mengarahkan kehidupan yang bermanfaat dalam masyarakat yang harmonis, selain adanya kesakitan dan nasib buruk.
Ini secara jelas bukannya kriteria yang dapat diterapkan dengan pertimbangan matematika yang kaku, melainkan dapat menjadi wilayah persetujuan yang luas antara bangsa dari tradisi-tradisi yang berbeda satu sama lain mengenai buah yang baik itu. Namun begitu, satu hal perlu dicatat bahwa perasaan subyektif yang dipenuhi dengan agamanya sendiri tidaklah cukup.
Tidak mengherankan kalau kasus itu ada pada sebagian besar bentuk Kristen dan barangkali ada pada agama-agama lain juga, dimana kepuasan akan agamanya sendiri telah menjadi bentuk self complacency (kepuasan dengan diri sendiri dan tidak perlu yang lain) yang buta kepada ketidakadilan pada lingkungan yang mengeilingi kita, ketidakadilan dari kepuasan diri tiap individu yang barangkali juga bermanfaat.
Sekadar mengingatkan William Montgomery Watt adalah profesor Studi-studi Arab dan Islam pada Universitas Edinburgh antara tahun 1964-1979. Ia juga merupakan visiting professor pada Universitas Toronto, College de France, Paris, dan Universitas Georgetown; serta menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen.
Dalam hal kerohanian, Montgomery Watt adalah pendeta (reverend) pada Gereja Episkopal Skotlandia, dan pernah menjadi spesialis bahasa bagi Uskup Yerusalem antara tahun 1943-1946. Ia menjadi anggota gerakan ekumenisme "Iona Community" di Skotlandia pada 1960. Beberapa media massa Islam pernah menjulukinya sebagai "Orientalis Terakhir".
Baca juga: Agresi Kerajaan Ottoman di Mata Orientalis Montgomery Watt
Berikut tulisan selengkapnya William Montgomery Watt tersebut:
Setelah perang-perang agama pada abad keenam belas dan tujuh belas, bangsa Eropa Kristen baik Katolik maupun Protestan, cenderung menjadi kepercayaan yang benar-benar personal, mempribadi dan tidak memberi keputusan-keputusan bagi kebijakan publik; karena tidak ada perubahan iman kecuali penekanan-penekanan semata.
Di masa John (Yahya) si Baptis dan Yesus, ada banyak kelompok dalam agama Yahudi, yang mempraktikkan agamanya dengan cara yang berbeda-beda.
Kelompok Sadduki berkompromi dengan kelompok kolonialis Roma; kelompok fanatik (Zealot) malah hanya suatu solusi militer; kelompok Pharisi menempatkan penekanan-penekanan tak semestinya atas kemurnian ritual atas nama kebenaran moral.
Yang terakhir ini hanya satu untaian dalam Pharisisme, sejak kebangkitan agama Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi yang secara luas benar-benar ke kelompok Pharisi; namun banyak orang Pharisi yang mengubah agamanya dengan menempatkan penekanan-penekanan yang tidak semestinya atas kemurnian ritual dalam bentuk-bentuk yang mustahil dipatuhi bagi para pemeluk Yahudi biasa.
Selanjutnya dapat disangkal bahwa adanya hasil pada agama-agama itu menunjukkan bahwa Tuhan berbuat pada semua agama itu. Pernyataan ini dibuat pada bentuk teistik sesuai dengan tiga agama Abrahimi, namun pernyataan equivalen ini agaknya dapat dilakukan pada terma-terma non-teistik, kata orang Budha.
Didukung oleh para ahli teologi Kristen, Tuhan itu selalu sama, perbedaan pada agama-agama itu terjadi lewat respon manusia kepada Tuhan; namun ini rupanya terlalu memudahkan masalah.
Baca juga: Begini Reaksi Islam Terhadap Orientalisme Menurut Montgomery Watt
Tuhan tidak pernah dipahami sebagai Diri-Nya sendiri, melainkan sebagai yang melihat aktivitas dan misterinya dalam kehidupan kultur kita. Itu berarti bahwa ketika mereka memahami Tuhan, maka mereka nyatakan pada terma-terma kulturnya; yakni, dalam bahasanya dan kategori-kategori nalarnya sendiri; dan ini benar manakala pesan-pesan dari balik mereka itu diterima oleh nabi-nabi.
Lebih dari itu, apakah tiap kultur itu memahami Tuhan, atau telah diturunkan oleh Tuhan kepada mereka, juga tergantung atas pengalamannya dalam problema-problema kehidupan dan dapat dibedakan dari kultur ke kultur (seperti yang telah dijelaskan pada bab pertama).
Ide bahwa Tuhan mewahyukan sendiri pada satu cara kepada semua manusia yang diketemukan pada berbagai poin di Bibel, pertama pada perjanjian-Nya dengan Nuh.
Di akhir Perjanjian Lama nabi Malachi menyebut nama Tuhan menjadi besar di tengah orang kafir sejak menyingsing fajar sampai terbenam matahari dan marah kepada-Nya.
Juga di Perjanjian Baru, Yesus berucap bahwa banyak yang akan datang dari timur dan barat (yakni, non-Yahudi) dan akan duduk bersama Ibrahim, Isa dan Yakub di perjamuan pada kerajaan langit.
Dalam buku yang diterjemahkan Zaimudin berjudul "Titik Temu Islam dan Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi" (Gaya Media Pratama Jakarta, 1996) Montgomery Watt melanjutkan, kepercayaan demikian diberikan sebagai landasan bagi penegasan pernyataannya, misalnya "hanya agama saya sendirilah satu-satunya yang dari Tuhan" atau "agama saya sendirilah satu-satunya agama yang mempunyai kebenaran ilahiah yang asli, sementara semua agama-agama lain tidak asli lagi."
Baca juga: Persepsi Kristen Terhadap Islam Menurut Montgomery Watt
Menurutnya, pandangan-pandangan eksklusivis ini tidak dapat dipertahankan ke dalam kultur dunia yang timbul, sebab ilmu pengetahuan sosial merupakan bagian dari pandangan intelektual barat, dan observasi sosial-ilmiah agama-agama menunjukkan bahwa agama-agama tersebut semuanya kurang atau lebih melakukan hal-hal yang sama, mirip dengan tujuan dan dengan ukuran kesuksesan.
John Hick melihat ini berkenaan dengan kemiripan yang amat secara paksa dengan mengutip doa (atau peribadatan) orang Yahudi, Muslim, Sikh dan Hindu yang secara tegas berbeda dengan doa-doa (atau peribadatan) orang Kristen.
Sungguhpun orang yang beriman menegaskan bahwa hanya agamanyalah yang lebih unggul dari agama-agama lain, maka hal ini masih sulit baginya untuk menemukan para pemeluk agama-agama lain sebagai sama dengan agama yang dipeluknya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Menurut Montgomery Watt, sangat dipertahankan bahwa karena kandungan intelektual kepercayaan agama itu diungkapkan pada terma-terma iconic, maka tidak ada kriteria kebenaran intelektual bagi kepercayaan-kepercayaan ini, dan bahwa ajaran-ajaran yang seolah-olah mengandung kontradiksi kenyataannya tidak boleh berkontradiksi melainkan harus saling melengkapi.
Apabila pernyataan ini diterima maka tidak ada justifikasi rasional bagi penegasan secara publik karena agama kita itu lebih baik daripada agama lain (sekalipun kita terus berfikir demikian), dan paling tidak, justifikasi parsial bagi diakuinya agama-agama lain sebagai sama benarnya dengan agama kita.
Kriteria "hasil" sebagai diterapkan untuk agama-agama akan segera dijelaskan, dan tentu saja harus mempunyai tempat sentral dalam pemikiran Kristen, karena agama ini berasal dari Puncak Gunung Sermon; Yesus mengatakan bahwa guru-guru agama harus dinilai sesuai dengan kualitas hasil ajarannya. Dalam cara yang sama bahwa pohon yang baik itu berbeda dengan pohon yang buruk dari kualitas buah yang dihasilkannya.
Baca juga: Persepsi Umum Kenabian Menurut Orientalis William Montgomery Watt
Apabila konsepsi ini diterapkan kepada agama, kata Montgomery Watt, maka kita dapat mengatakan bahwa agama itu memproduksi buah yang baik ketika memampukan mayoritas anggota-anggota pemeluknya untuk mengarahkan kehidupan yang bermanfaat dalam masyarakat yang harmonis, selain adanya kesakitan dan nasib buruk.
Ini secara jelas bukannya kriteria yang dapat diterapkan dengan pertimbangan matematika yang kaku, melainkan dapat menjadi wilayah persetujuan yang luas antara bangsa dari tradisi-tradisi yang berbeda satu sama lain mengenai buah yang baik itu. Namun begitu, satu hal perlu dicatat bahwa perasaan subyektif yang dipenuhi dengan agamanya sendiri tidaklah cukup.
Tidak mengherankan kalau kasus itu ada pada sebagian besar bentuk Kristen dan barangkali ada pada agama-agama lain juga, dimana kepuasan akan agamanya sendiri telah menjadi bentuk self complacency (kepuasan dengan diri sendiri dan tidak perlu yang lain) yang buta kepada ketidakadilan pada lingkungan yang mengeilingi kita, ketidakadilan dari kepuasan diri tiap individu yang barangkali juga bermanfaat.
Sekadar mengingatkan William Montgomery Watt adalah profesor Studi-studi Arab dan Islam pada Universitas Edinburgh antara tahun 1964-1979. Ia juga merupakan visiting professor pada Universitas Toronto, College de France, Paris, dan Universitas Georgetown; serta menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Universitas Aberdeen.
Dalam hal kerohanian, Montgomery Watt adalah pendeta (reverend) pada Gereja Episkopal Skotlandia, dan pernah menjadi spesialis bahasa bagi Uskup Yerusalem antara tahun 1943-1946. Ia menjadi anggota gerakan ekumenisme "Iona Community" di Skotlandia pada 1960. Beberapa media massa Islam pernah menjulukinya sebagai "Orientalis Terakhir".
Baca juga: Agresi Kerajaan Ottoman di Mata Orientalis Montgomery Watt
Berikut tulisan selengkapnya William Montgomery Watt tersebut:
Setelah perang-perang agama pada abad keenam belas dan tujuh belas, bangsa Eropa Kristen baik Katolik maupun Protestan, cenderung menjadi kepercayaan yang benar-benar personal, mempribadi dan tidak memberi keputusan-keputusan bagi kebijakan publik; karena tidak ada perubahan iman kecuali penekanan-penekanan semata.
Di masa John (Yahya) si Baptis dan Yesus, ada banyak kelompok dalam agama Yahudi, yang mempraktikkan agamanya dengan cara yang berbeda-beda.
Kelompok Sadduki berkompromi dengan kelompok kolonialis Roma; kelompok fanatik (Zealot) malah hanya suatu solusi militer; kelompok Pharisi menempatkan penekanan-penekanan tak semestinya atas kemurnian ritual atas nama kebenaran moral.
Yang terakhir ini hanya satu untaian dalam Pharisisme, sejak kebangkitan agama Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi yang secara luas benar-benar ke kelompok Pharisi; namun banyak orang Pharisi yang mengubah agamanya dengan menempatkan penekanan-penekanan yang tidak semestinya atas kemurnian ritual dalam bentuk-bentuk yang mustahil dipatuhi bagi para pemeluk Yahudi biasa.
Selanjutnya dapat disangkal bahwa adanya hasil pada agama-agama itu menunjukkan bahwa Tuhan berbuat pada semua agama itu. Pernyataan ini dibuat pada bentuk teistik sesuai dengan tiga agama Abrahimi, namun pernyataan equivalen ini agaknya dapat dilakukan pada terma-terma non-teistik, kata orang Budha.
Didukung oleh para ahli teologi Kristen, Tuhan itu selalu sama, perbedaan pada agama-agama itu terjadi lewat respon manusia kepada Tuhan; namun ini rupanya terlalu memudahkan masalah.
Baca juga: Begini Reaksi Islam Terhadap Orientalisme Menurut Montgomery Watt
Tuhan tidak pernah dipahami sebagai Diri-Nya sendiri, melainkan sebagai yang melihat aktivitas dan misterinya dalam kehidupan kultur kita. Itu berarti bahwa ketika mereka memahami Tuhan, maka mereka nyatakan pada terma-terma kulturnya; yakni, dalam bahasanya dan kategori-kategori nalarnya sendiri; dan ini benar manakala pesan-pesan dari balik mereka itu diterima oleh nabi-nabi.
Lebih dari itu, apakah tiap kultur itu memahami Tuhan, atau telah diturunkan oleh Tuhan kepada mereka, juga tergantung atas pengalamannya dalam problema-problema kehidupan dan dapat dibedakan dari kultur ke kultur (seperti yang telah dijelaskan pada bab pertama).
Ide bahwa Tuhan mewahyukan sendiri pada satu cara kepada semua manusia yang diketemukan pada berbagai poin di Bibel, pertama pada perjanjian-Nya dengan Nuh.
Di akhir Perjanjian Lama nabi Malachi menyebut nama Tuhan menjadi besar di tengah orang kafir sejak menyingsing fajar sampai terbenam matahari dan marah kepada-Nya.
Juga di Perjanjian Baru, Yesus berucap bahwa banyak yang akan datang dari timur dan barat (yakni, non-Yahudi) dan akan duduk bersama Ibrahim, Isa dan Yakub di perjamuan pada kerajaan langit.
Lihat Juga :