Cak Nur: Nabi Ibrahim, Musa dan Isa Adalah Tokoh Muslim
Selasa, 31 Januari 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Ia menjelaskan masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda.
Mengutip Rodinson, Cak Nur Menyebut jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme", sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis, maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu, tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar.
Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan, kata Cak Nur, namun kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak perlu meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat Islam mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu?
"Jawabnya adalah, hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah pesan dasar atau risalah asasiyyah Islam itu sendiri," tutur Cak Nur.
"Tapi," Cak Nur mengatakan, "sementara frase 'pesan dasar' Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman, namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem."
Baca juga: Bila Ihsan Diwujudkan Secara Nyata dalam Tasawuf Menurut Cak Nur
Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif, bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya, tapi gagal mengungkapkannya).
Menurut Cak Nur, namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. Karena suatu 'pesan dasar' mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi, karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula, maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol 'pesan dasar' itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya.
"Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna, jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu, namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita, sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu," ujar Cak Nur.
Cak Nur melanjutkan, tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik, tidak bisa disangkal, kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal, merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikhawatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir.
Baca juga: Hikmah Agama Menurut Nurcholish Madjid
Perjanjian dengan Allah
Menurut Cak Nur, dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian, persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia, yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd, 'aqd dan mitsaq.
Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia, bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata.
Mengutip Rodinson, Cak Nur Menyebut jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme", sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis, maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu, tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar.
Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan, kata Cak Nur, namun kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak perlu meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat Islam mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu?
"Jawabnya adalah, hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah pesan dasar atau risalah asasiyyah Islam itu sendiri," tutur Cak Nur.
"Tapi," Cak Nur mengatakan, "sementara frase 'pesan dasar' Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman, namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem."
Baca juga: Bila Ihsan Diwujudkan Secara Nyata dalam Tasawuf Menurut Cak Nur
Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif, bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya, tapi gagal mengungkapkannya).
Menurut Cak Nur, namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. Karena suatu 'pesan dasar' mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi, karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula, maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol 'pesan dasar' itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya.
"Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna, jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu, namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita, sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu," ujar Cak Nur.
Cak Nur melanjutkan, tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik, tidak bisa disangkal, kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal, merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikhawatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir.
Baca juga: Hikmah Agama Menurut Nurcholish Madjid
Perjanjian dengan Allah
Menurut Cak Nur, dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian, persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia, yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd, 'aqd dan mitsaq.
Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia, bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata.
Lihat Juga :