Ancaman Bagi yang Tidak Berkurban Saat Memiliki Kelapangan

loading...
Ancaman Bagi yang Tidak Berkurban Saat Memiliki Kelapangan
Untuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail tersebut, maka ibadah kurban disyariatkan untuk kita umat Nabi Muhammad SAW. Foto/dok umma.id
Bulan Dzulhijjah adalah satu di antara empat bulan yang diagungkan Allah Ta'ala. Selain puasa sunnah dan menunaikan Haji, umat Islam juga diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban pada hari Raya Idul Adha yang insya Allah jatuh Jumat 31 Juli 2020.

Menyembelih hewan kurban merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah Ta'ala. Banyak dalil dan riwayat Nabi SAW yang menganjurkan ibadah kurban ini. Saking mulianya ibadah berkurban, syariat memberi ancaman kepada mereka yang enggan berkurban ketika memiliki kelapangan rezeki. (Baca Juga: Keutamaan Berkurban Saat Idul Adha, Pahalanya Tak Terhitung )

Menurut Ustaz Muhammad Ajib (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Fiqih Qurban Perspektif Madzhab Syafi'i", ibadah kurban tidak hanya dilakukan sekali saja dalam seumur hidup. Namun, tidak mudah bagi sebagian orang untuk merelakan sebagian harta yang merupakan hasil keringatnya untuk diberikan kepada orang lain.

Namun, ketika iman sudah terpatri dalam dada, maka mempersembahkannya kepada sang pencipta adalah ibadah agung yang mendapatkan pahala tak terhitung di sisi Allah. Itulah persembahan Nabi Ibrahim 'alaihissalam (AS) kepada Allah Ta'ala dalam bentuk anak kesayangannya yaitu Ismail AS.

Untuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail tersebut, maka ibadah kurban disyariatkan untuk kita umat Nabi Muhammad SAW . Ada keutamaan ampunan, keutamaan pahala berbagi, bahkan sekadar menyaksikan prosesinya saja bagi yang tidak mampu menyembelih sendiri, juga merupakan keutamaan. (Baca Juga: Keluarkan Fatwa, MUI Soroti Masalah Salat Idul Adha dan Penyembelihan Kurban )

Adapun hukum berkurban sebagaimana dijelaskan dalam Mazhab Syafi'i , ibadah kurban hukumnya Sunnah Mu'akkadah. Yaitu ibadah yang jika dilakukan mendapatkan pahala di sisi Allah, jika tidak dilakukan pun tidak akan berdosa. Namun, seyogyanya bagi yang memiliki keluasan rezeki diperintahkan untuk tidak meninggalkan ibadah yang satu ini.

Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menyebutkan bahwa sesungguhnya ibadah kurban lebih baik dari pada sedekah sunnah. Adapun bagi orang yang tidak berkurban saat memiliki kelapangan rezeki maka mendapat ancaman serius sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW .

Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih kurban, janganlah mendekati tempat salat kami". (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim mensahihkannya)

Dalil Perintah Berkurban
Berikut beberapa dalil yang berkaitan dengan masalah kurban . Di antaranya:
1. Surat al-Kautsar yang berbunyi sebagai berikut:
"Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan bekurbanlah. (QS. Al-Kautsar: ayat 2)

2. Hadis Shahih Muslim yang berbunyi: " Rasulullah SAW menyembelih 2 ekor kambing kibash yang bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau, sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di atas pangkal lehernya. (HR. Muslim)

3. Hadis Shahih riwayat Imam Ahmad dan Imam al-Hakim yang berbunyi: "Tiga perkara yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu' (sunnah), yaitu salat witir, menyembelih udhiyah dan salat dhuha. (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Demikian dalil perintah berkurban dan ancaman bagi yang tidak menunaikannya di saat lapang. Karena itu, mari sisihkan harta kita untuk ibadah kurban. Harta yang dikeluarkan untuk ibadah kurban insya Allahakan diganti dengan rezeki melimpah oleh Allah Ta'ala. (Baca Juga: Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan Berkurban )

Wallahu Ta'ala A'lam
(rhs)
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur Ayat 31)
cover bottom ayah
preload video