Wasiat Al-Fatih kepada Putranya (1): Aku Sama Sekali Tidak Menyesal
Kamis, 23 Juli 2020 - 08:04 WIB
loading...
A
A
A
Apa yang dilakukan Sultan Al-Fatih dalam perang, menurut Ash-Shalabi, menggambarkan manhaj dan akidah Abu Bakar Ash-Shiddiq saat memperlakukan orang-orang Romawi. Khalifah Abu Bakar pernah berpesan kepada pasukan mujahidin: “Janganlah kalian berkhianat, jangan berlebih-lebihan, jangan ingkar janji, janganlah mencincang mayat. Janganlah kalian membunuh anak-anak kecil orang-orang tua renta, wanita-wanita.
Janganlah menebang pohon-pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan pula menebang pepohonan yang berbuah, jangan menyembelih kambing atau unta, kecuali untuk dimakan.
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Kalian akan mendapatkan orang-orang yang melewatkan hari-harinya di tempat-tempat ibadah, biarkan mereka dan janganlah kalian usik. Berangkatlah dengan mengucapkan Bismillah.
Sultan Muhammad Al-Fatih telah memasuki jantung Kota Konstantinopel dan memberikan pelajaran kepada orang-orang Nasrani tentang makna keadilan dan kasih sayang. “Dia menjadi simbol utama dari simbol-simbol Kekhilafahan Ustmani,” tutur Ash-Shalabi.
Sesungguhnya pemerintahan Utsmani berjalan di atas manhaj Islam. Maka dia menjalankan keadilan dan kasih sayang kepada rakyatnya yang berada di bawah kekuasaannya. Abdurrahman 'Azzam mengungkapkan tentang sikap kasih sayang dan keadilan pemerintahan Utsmani terhadap rakyatnya: (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
“Sebagian orang mengira dari cerita dan lelucon yang berkembang di sebagian masa-masa pemerintahan Utsmani, bahwa dia adalah sebuah kerajaan yang besar namun tidak memiliki sikap kasih dan penyayang. Sangkaan ini adalah sangkaan yang salah dan sama sekali tidak berdasarkan kajian ilmiah dan panelitian yang baik. Saya sendiri pernah mendengar tentang sikap penyayang orang-orang Turki Utsmani di Bisrabia, wilayah Romania yang berada di Dinistes.
Dikatakan pada saya, ‘Sesungguhnya sikap para petani di kota-kota yang jauh dari kerajaan Utsmani, masih menggambarkan dengan jelas sikap penyayang dan keadilan orang-orang Turki. Dan darinya juga bisa dilihat bahwa keadilan telah dicabut bersama-sama dengan dengan hilangnya pemerintahan Utsmani.’ Dalam banyak perjalanan di Polska (Polandia) dan Rumania, saya masih sering mendengar beberapa cerita dan tamsil-tamsil yang masih dengan kuat mengisyaratkan tentang sifat-sifat kasih-sayang orang-orang Turki Muslim di tengah-tengah orang Nasrani.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Pada tahun 1917 saya berada di Wina. Saat itu orang-orang Polandia mengatakan, bahwa mereka sangat gembira dengan kedatangan tentara Utsmani ke Galisia sebagai bantuan terhadap orang-orang Austria.
Sesungguhnya keadilan dan rahmat Islam, adalah dua prinsip yang membuat orang-orang Utsmani eksis di Eropa. Dengan keadilan dan rasa kasih sayang itu pula, orang-orang Eropa bisa keluar dari sikapnya yang barbarik dan keras hati. Berkat orang-orang Utsmani , bangsa Eropa memahami makna persamaan antarmanusia dan keadilan. (Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
Cukup bagimu untuk tahu bahwa perbudakan saat itu mendapat legalitas kuat di negara Eropa Tengah dan Selatan, hingga akhirnya dihapuskan oleh orang-orang Utsmani.
Di sana ada perjanjian antara Moldova, Polandia dan Hungaria untuk menyerahkan semua petani yang melarikan diri dari ladang pertanian tuannya di Buyari ke Salah satu negeri itu. Sedangkan ladang-ladang itu dijual termasuk di dalamnya manusia dan hewan yang ada di dalamnya. Kemudian datanglah orang-oran Utsmani ke Eropa yang membawa rahmat di dalam dadanya, sebagaimana yang diinginkan oleh pembawa panji dakwah Islam, Muhammad Rasulullah saw.
Janganlah menebang pohon-pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan pula menebang pepohonan yang berbuah, jangan menyembelih kambing atau unta, kecuali untuk dimakan.
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Kalian akan mendapatkan orang-orang yang melewatkan hari-harinya di tempat-tempat ibadah, biarkan mereka dan janganlah kalian usik. Berangkatlah dengan mengucapkan Bismillah.
Sultan Muhammad Al-Fatih telah memasuki jantung Kota Konstantinopel dan memberikan pelajaran kepada orang-orang Nasrani tentang makna keadilan dan kasih sayang. “Dia menjadi simbol utama dari simbol-simbol Kekhilafahan Ustmani,” tutur Ash-Shalabi.
Sesungguhnya pemerintahan Utsmani berjalan di atas manhaj Islam. Maka dia menjalankan keadilan dan kasih sayang kepada rakyatnya yang berada di bawah kekuasaannya. Abdurrahman 'Azzam mengungkapkan tentang sikap kasih sayang dan keadilan pemerintahan Utsmani terhadap rakyatnya: (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
“Sebagian orang mengira dari cerita dan lelucon yang berkembang di sebagian masa-masa pemerintahan Utsmani, bahwa dia adalah sebuah kerajaan yang besar namun tidak memiliki sikap kasih dan penyayang. Sangkaan ini adalah sangkaan yang salah dan sama sekali tidak berdasarkan kajian ilmiah dan panelitian yang baik. Saya sendiri pernah mendengar tentang sikap penyayang orang-orang Turki Utsmani di Bisrabia, wilayah Romania yang berada di Dinistes.
Dikatakan pada saya, ‘Sesungguhnya sikap para petani di kota-kota yang jauh dari kerajaan Utsmani, masih menggambarkan dengan jelas sikap penyayang dan keadilan orang-orang Turki. Dan darinya juga bisa dilihat bahwa keadilan telah dicabut bersama-sama dengan dengan hilangnya pemerintahan Utsmani.’ Dalam banyak perjalanan di Polska (Polandia) dan Rumania, saya masih sering mendengar beberapa cerita dan tamsil-tamsil yang masih dengan kuat mengisyaratkan tentang sifat-sifat kasih-sayang orang-orang Turki Muslim di tengah-tengah orang Nasrani.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Pada tahun 1917 saya berada di Wina. Saat itu orang-orang Polandia mengatakan, bahwa mereka sangat gembira dengan kedatangan tentara Utsmani ke Galisia sebagai bantuan terhadap orang-orang Austria.
Sesungguhnya keadilan dan rahmat Islam, adalah dua prinsip yang membuat orang-orang Utsmani eksis di Eropa. Dengan keadilan dan rasa kasih sayang itu pula, orang-orang Eropa bisa keluar dari sikapnya yang barbarik dan keras hati. Berkat orang-orang Utsmani , bangsa Eropa memahami makna persamaan antarmanusia dan keadilan. (Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
Cukup bagimu untuk tahu bahwa perbudakan saat itu mendapat legalitas kuat di negara Eropa Tengah dan Selatan, hingga akhirnya dihapuskan oleh orang-orang Utsmani.
Di sana ada perjanjian antara Moldova, Polandia dan Hungaria untuk menyerahkan semua petani yang melarikan diri dari ladang pertanian tuannya di Buyari ke Salah satu negeri itu. Sedangkan ladang-ladang itu dijual termasuk di dalamnya manusia dan hewan yang ada di dalamnya. Kemudian datanglah orang-oran Utsmani ke Eropa yang membawa rahmat di dalam dadanya, sebagaimana yang diinginkan oleh pembawa panji dakwah Islam, Muhammad Rasulullah saw.
Lihat Juga :