Wasiat Al-Fatih kepada Putranya (1): Aku Sama Sekali Tidak Menyesal
Kamis, 23 Juli 2020 - 08:04 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Al-Fatih Kirim Hadiah dan Surat kepada Penguasa Makkah, Begini Isinya
Orang-orang Turki bukanlah kaum yang memiliki jumlah lebih besar dari orang-orang yang dipimpinnya. Mereka kemudian tiba di Wina. Mereka mampu mengatasi sulitnya bebukitan, hamparan samudera luas, serta gunung-gunung. Sebagaimana pernah dilakukan kaum muslimin Arab saat menebarkan rahmat di Asia dan Afrika.
Sesungguhnya Muhammad Al-Fatih berjalan di atas manhaj rahmat dan keadilan. Dia mewasiatkan pada anak cucu setelahnya, untuk berjalan di atas manhaj yang sama karena itu merupakan realisasi Islam.
“Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyat tanpa perbedaan." (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
Sultan Muhammad Al-Fatih memiliki perhatian besar kepada rakyatnya, baik kepada kaum muslimin atau nonmuslim. Salah satu kisah yang sangat menarik dan indah dalam masalah ini adalah, bahwa penduduk Pulau Khabus memiliki utang sebanyak 1000 Duqa kepada salah seorang pedagang dari negeri Galata, yang bernama Fransisco De Rapeyur. Tatkala orang yang memberi utang ini tidak mampu menarik utangnya kembali, Sultan meminta supaya dia menagih utang tersebut ke penduduk pulau itu. Karena penduduk pulau itu adalah rakyat yang harus mendapat perlindungan dan mendapatkan hak-haknya. Maka Sultan mengirimkan beberapa kapal yang dipimpin langsung oleh Hamzah Pasya.
Sayangnya penduduk pulau Khabus malah membunuh beberapa tentara dan tidak mau tunduk, bahkan menolak membayar utang. Maka berkatalah Muhammad Al-Fatih kepada Fransisco tadi, “Sayalah yang akan menanggung semua utang mereka terhadapmu, dan saya akan menuntut tebusan berlipat terhadap mereka atas darah tentara yang meninggal."
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Kemudian Sultan memberangkatkan satu armada ke pulau itu. Dia sendiri yang memimpin pasukan ke pulau-pulau yang berdekatan dengan pulau Khabus. Pasukan tadi mampu menaklukkan pulau tersebut, tanpa melalui peperangan dan pertempuran. Dengan segera, dua pulau lmbarus dan Samutras menyerah dan membuka pintunya untuk pasukan Utsmani. Maka terpaksa penduduk pulau Khabus membayar utang kepada pedagang asal Hungaria tadi dan membayar upeti tahunan kepada pemerintahan Utsmani sebanyak 6000 Duqa per tahun. Mereka juga harus membayar uang tebusan terhadap kapal Utsmani yang tenggelam.
Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal
Di sini Sultan menunjukkan sikap pembelaannya, sekalipun kepada seorang pedagang Hungaria yang nonmuslim. Hal itu layak diterima, karena dia masuk dalam lingkungan perlindungan wilayah kekuasaan Sultan. Dari sisi lain, Sultan sebenarnya tak akan menghukum warga pulau itu kalau mereka tidak menyerang armada laut pasukan Utsmani. Kalau menyerang, berarti menantang perang. Bersambung (Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama )
Keterangan Foto:Masuknya Sultan Mehmed II ke Konstantinopel, lukisan oleh Fausto Zonaro (1854-1929)/Wikimedia Commons
Orang-orang Turki bukanlah kaum yang memiliki jumlah lebih besar dari orang-orang yang dipimpinnya. Mereka kemudian tiba di Wina. Mereka mampu mengatasi sulitnya bebukitan, hamparan samudera luas, serta gunung-gunung. Sebagaimana pernah dilakukan kaum muslimin Arab saat menebarkan rahmat di Asia dan Afrika.
Sesungguhnya Muhammad Al-Fatih berjalan di atas manhaj rahmat dan keadilan. Dia mewasiatkan pada anak cucu setelahnya, untuk berjalan di atas manhaj yang sama karena itu merupakan realisasi Islam.
“Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyat tanpa perbedaan." (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
Sultan Muhammad Al-Fatih memiliki perhatian besar kepada rakyatnya, baik kepada kaum muslimin atau nonmuslim. Salah satu kisah yang sangat menarik dan indah dalam masalah ini adalah, bahwa penduduk Pulau Khabus memiliki utang sebanyak 1000 Duqa kepada salah seorang pedagang dari negeri Galata, yang bernama Fransisco De Rapeyur. Tatkala orang yang memberi utang ini tidak mampu menarik utangnya kembali, Sultan meminta supaya dia menagih utang tersebut ke penduduk pulau itu. Karena penduduk pulau itu adalah rakyat yang harus mendapat perlindungan dan mendapatkan hak-haknya. Maka Sultan mengirimkan beberapa kapal yang dipimpin langsung oleh Hamzah Pasya.
Sayangnya penduduk pulau Khabus malah membunuh beberapa tentara dan tidak mau tunduk, bahkan menolak membayar utang. Maka berkatalah Muhammad Al-Fatih kepada Fransisco tadi, “Sayalah yang akan menanggung semua utang mereka terhadapmu, dan saya akan menuntut tebusan berlipat terhadap mereka atas darah tentara yang meninggal."
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Kemudian Sultan memberangkatkan satu armada ke pulau itu. Dia sendiri yang memimpin pasukan ke pulau-pulau yang berdekatan dengan pulau Khabus. Pasukan tadi mampu menaklukkan pulau tersebut, tanpa melalui peperangan dan pertempuran. Dengan segera, dua pulau lmbarus dan Samutras menyerah dan membuka pintunya untuk pasukan Utsmani. Maka terpaksa penduduk pulau Khabus membayar utang kepada pedagang asal Hungaria tadi dan membayar upeti tahunan kepada pemerintahan Utsmani sebanyak 6000 Duqa per tahun. Mereka juga harus membayar uang tebusan terhadap kapal Utsmani yang tenggelam.
Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal
Di sini Sultan menunjukkan sikap pembelaannya, sekalipun kepada seorang pedagang Hungaria yang nonmuslim. Hal itu layak diterima, karena dia masuk dalam lingkungan perlindungan wilayah kekuasaan Sultan. Dari sisi lain, Sultan sebenarnya tak akan menghukum warga pulau itu kalau mereka tidak menyerang armada laut pasukan Utsmani. Kalau menyerang, berarti menantang perang. Bersambung (Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama )
Keterangan Foto:Masuknya Sultan Mehmed II ke Konstantinopel, lukisan oleh Fausto Zonaro (1854-1929)/Wikimedia Commons
(mhy)
Lihat Juga :