Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid
Senin, 20 Juli 2020 - 05:00 WIB
loading...
Muhammad Al-Fatih dan Hagia Sophia. Foto/Ilustrasi/Ist/Anadolu agency
A
A
A
HARI kemenangan itu tercatat pada hari Selasa, tanggal 20 Jumadil Ula 857 H atau bertepatan dengan 29 Mei 1453 M. Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel .
"Maka tatkala fajar shadiq menyingsing pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Ula, kami melancarkan serangan laksana bintang yang dilemparkan kepada setan-setan yang dilakukan dengan kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan keadilan Umar Al-Faruq RA serta pukulan Al-Haidar dari Bani Utsman . Allah telah mengaruniakan kemenangan sebelum matahari terbit dari ufuk Timur," tulis Sultan Muhammad Fatih mengabarkan kemenangannya kepada dunia Islam . (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
Al-Fatih melanjutkan, "maka tatkala kami berhasil menang atas orang-orang kafir ini, kami membersihkan busur panah kami dari rumah-rumah ibadah. Dan kami keluarkan dari gereja-gereja itu palang salib dan lonceng-lonceng gereja. Lalu kami jadikan tempat-tempat penyembahan berhala itu menjadi masjid-masjid kaum muslimin. Mulialah tempat-tempat itu dengan khutbah-khutbah. Terjadilah kehendak Allah dan gagallah apa yang mereka lakukan...”
Baca juga: Ide-Ide Brilian Muhammad Al-Fatih Tundukkan Konstantinopel
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menggambarkan kemenangan pasukan muslim di bawah pimpinan Sang Penakluk ini gaungnya sampai ke seluruh penjuru dunia. Kegembiraan, kebanggaan, serta rasa syukur menyebar, memenuhi kawasan dunia belahan Timur, Asia dan Afrika. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Hal itu wajar karena penaklukkan ini merupakan impian nenek-moyang dan harapan generasi-generasi yang silih-berganti. Penaklukan ini telah lama dinantikan, dan kini telah terwujud.
Baca juga: Komandan yang Mualaf Ini Dukung Penuh Al-Fatih Taklukkan Konstantinopel
Sultan Muhammad Al-Fatih segera mengirim surat kepada para penguasa di negeri-negeri Islam di Mesir, Hijaz, Persia, India, serta wilayah-wilayah lain. Dia mengabarkan tentang kemenangan yang sangat gemilang ini. (Baca juga: Guru Spiritual di Balik Sukses Penaklukan Konstantinopel ).
Berita kemenangan itu pun segera diumumkan di atas mimbar-mimbar khutbah. Salat syukur segera dilakukan rumah-rumah kaum muslim. Toko-toko dihias. Sedangkan di dinding-dinding dipajang panji-panji dan kain berwarna-warni. (Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih )
lbnu llyas pengarang buku Bada’i Al-Zuhur menuturkan tatkala kabar tentang penaklukkan Konstantinopel ini sampai, dan utusan Sultan Al-Fatih sampai di tempat tujuan, ditabuhlah genderang berita gembira di benteng-benteng.
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
"Maka tatkala fajar shadiq menyingsing pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Ula, kami melancarkan serangan laksana bintang yang dilemparkan kepada setan-setan yang dilakukan dengan kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan keadilan Umar Al-Faruq RA serta pukulan Al-Haidar dari Bani Utsman . Allah telah mengaruniakan kemenangan sebelum matahari terbit dari ufuk Timur," tulis Sultan Muhammad Fatih mengabarkan kemenangannya kepada dunia Islam . (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
Al-Fatih melanjutkan, "maka tatkala kami berhasil menang atas orang-orang kafir ini, kami membersihkan busur panah kami dari rumah-rumah ibadah. Dan kami keluarkan dari gereja-gereja itu palang salib dan lonceng-lonceng gereja. Lalu kami jadikan tempat-tempat penyembahan berhala itu menjadi masjid-masjid kaum muslimin. Mulialah tempat-tempat itu dengan khutbah-khutbah. Terjadilah kehendak Allah dan gagallah apa yang mereka lakukan...”
Baca juga: Ide-Ide Brilian Muhammad Al-Fatih Tundukkan Konstantinopel
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menggambarkan kemenangan pasukan muslim di bawah pimpinan Sang Penakluk ini gaungnya sampai ke seluruh penjuru dunia. Kegembiraan, kebanggaan, serta rasa syukur menyebar, memenuhi kawasan dunia belahan Timur, Asia dan Afrika. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Hal itu wajar karena penaklukkan ini merupakan impian nenek-moyang dan harapan generasi-generasi yang silih-berganti. Penaklukan ini telah lama dinantikan, dan kini telah terwujud.
Baca juga: Komandan yang Mualaf Ini Dukung Penuh Al-Fatih Taklukkan Konstantinopel
Sultan Muhammad Al-Fatih segera mengirim surat kepada para penguasa di negeri-negeri Islam di Mesir, Hijaz, Persia, India, serta wilayah-wilayah lain. Dia mengabarkan tentang kemenangan yang sangat gemilang ini. (Baca juga: Guru Spiritual di Balik Sukses Penaklukan Konstantinopel ).
Berita kemenangan itu pun segera diumumkan di atas mimbar-mimbar khutbah. Salat syukur segera dilakukan rumah-rumah kaum muslim. Toko-toko dihias. Sedangkan di dinding-dinding dipajang panji-panji dan kain berwarna-warni. (Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih )
lbnu llyas pengarang buku Bada’i Al-Zuhur menuturkan tatkala kabar tentang penaklukkan Konstantinopel ini sampai, dan utusan Sultan Al-Fatih sampai di tempat tujuan, ditabuhlah genderang berita gembira di benteng-benteng.
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
Lihat Juga :