Ketika Freemasonry Masuk dan Atur Detak Jantung Kekuasaan Utsmani
Sabtu, 25 Juli 2020 - 16:21 WIB
loading...
A
A
A
Para pemuda yang tergabung dalam Gerakan Persatuan dan Pembangunan telah memberikan pengaruh pada Sultan Murad V, sehingga dia masuk dalam gerakan Freemasonry.
Dia banyak minum minuman keras dan mabuk dengan pemikiran Barat sekuler serta filsafat Barat.
Setelah dicopot, dia berhasil sembuh dari penyakit gilanya. Dia menghabiskan sisa-sisa hidupnya di istana Jaraghan hingga wafat saat usianya mendekati 64 tahun.
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Setelah itu Sultan Abdul Hamid menganggantikannya. Dalam pembaitan itu hadir para menteri, para pejabat tinggi dari kalangan sipil dan militer di Sara Thubiqabu.
Pengangkatan sebagai khalifah mendapat sambutan dan ucapan selamat dari berbagai aliran dan kelompok.
Pada saat dilantik, dilepaskan meriam di segenap penjuru negeri sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa itu. Kota Istambul dihias selama tiga hari. Perdana Menteri mengirimkan surat kilat ke berbagai penjuru dunia untuk mengabarkan peristiwa pengangkatan Sultan Abdul Hamid sebagai khalifah.
Baca juga: Al-Fatih Kirim Hadiah dan Surat kepada Penguasa Makkah, Begini Isinya
Mengenai Sultan Murad V, Sultan Abdul Hamid mengatakan, “Salah satu tabiatnya adalah bahwa dia seringkali tertipu dengan orang yang tersenyum di hadapannya, tanpa berpikir apakah senyum itu masuk akal atau tidak masuk akal sampai-sampai semua itu tidak pernah hadir dalam benaknya, apakah itu cocok atau tidak. Dia adalah khalifah masa depan untuk gerakan Freemasonry dan musibah akan muncul karenanya. Sebagian orang yang menyebut dirinya sebagai orang-orang yang mendukung gerakan pembaharuan, telah berhasil menyeretnya untuk kecanduan minum-minuman keras. Mereka memimpikan cara-cara dan pola hidup orang-orang Eropa.
Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel
Sultan Abdul Hamid
Sultan Abdul Hamid adalah Sultan Utsmani ke-34. Dia menduduki singgasana kesultanan pada saat usianya menjelang 34 tahun. Sultan dilahirkan pada tanggal 16 Sya'ban tahun 1258 H/1842 M. Ibunya meninggal dunia pada saat Sultan Abdul Hamid baru berusia 10 tahun.
Sultan Abdul Hamid mendapat pendidikan reguler di dalam istana. Di bawah bimbingan orang-orang yang sangat terkenal di zamannya, baik secara ilmu atau pun akhlak. Dia belajar bahasa Arab dan Persia, belajar sejarah, sangat senang terhadap sastra, mendalami ilmu tasawuf, dan mengarang beberapa syair dalam bahasa Turki.
Baca juga: Armada Laut Utsmani Kian Perkasa Setelah Taklukkan Konstantinopel
Setelah dilantik menjadi Khalifah, Sultan Abdul Hamid mengangkat Medhat Pasya sebagai Perdana Menteri. Kemudian pada tanggal 23 Desember 1876 M sang perdana menteri itu menetapkan undang-undang yang menjamin kebebasan sipil dan menetapkan pemerintahan dengan sistem parlemen.
Undang-undang ini mengatur, bahwa parlemen terdiri dari dua Majelis: Majelis Perwakilan/Utusan dan Majelis Tokoh Pembesar (Senator).
Di awal masa pemerintahannya, Sultan harus berhadapan dengan kediktatoran para menteri dan kekerasan politik pembaratan yang dipimpin oleh kelompok Utsmani Baru, yang terdiri dari kalangan terpelajar yang sangat terpengaruh oleh Barat.
Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan
Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil dibentuk oleh gerakan Freemasonry untuk menjadi budak mereka dalam rangka merealisasikan target yang ingin mereka capai. Tingkat kediktatoran para menteri ini terlihat, di mana Medhat Pasya yang saat itu menjadi pimpinan kelompok Utsmani Baru, menulis surat pada Sultan Abdul Hamid di awal pemerintahannya (1877 M) yang berbunyi demikian;
Dia banyak minum minuman keras dan mabuk dengan pemikiran Barat sekuler serta filsafat Barat.
Setelah dicopot, dia berhasil sembuh dari penyakit gilanya. Dia menghabiskan sisa-sisa hidupnya di istana Jaraghan hingga wafat saat usianya mendekati 64 tahun.
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Setelah itu Sultan Abdul Hamid menganggantikannya. Dalam pembaitan itu hadir para menteri, para pejabat tinggi dari kalangan sipil dan militer di Sara Thubiqabu.
Pengangkatan sebagai khalifah mendapat sambutan dan ucapan selamat dari berbagai aliran dan kelompok.
Pada saat dilantik, dilepaskan meriam di segenap penjuru negeri sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa itu. Kota Istambul dihias selama tiga hari. Perdana Menteri mengirimkan surat kilat ke berbagai penjuru dunia untuk mengabarkan peristiwa pengangkatan Sultan Abdul Hamid sebagai khalifah.
Baca juga: Al-Fatih Kirim Hadiah dan Surat kepada Penguasa Makkah, Begini Isinya
Mengenai Sultan Murad V, Sultan Abdul Hamid mengatakan, “Salah satu tabiatnya adalah bahwa dia seringkali tertipu dengan orang yang tersenyum di hadapannya, tanpa berpikir apakah senyum itu masuk akal atau tidak masuk akal sampai-sampai semua itu tidak pernah hadir dalam benaknya, apakah itu cocok atau tidak. Dia adalah khalifah masa depan untuk gerakan Freemasonry dan musibah akan muncul karenanya. Sebagian orang yang menyebut dirinya sebagai orang-orang yang mendukung gerakan pembaharuan, telah berhasil menyeretnya untuk kecanduan minum-minuman keras. Mereka memimpikan cara-cara dan pola hidup orang-orang Eropa.
Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel
Sultan Abdul Hamid
Sultan Abdul Hamid adalah Sultan Utsmani ke-34. Dia menduduki singgasana kesultanan pada saat usianya menjelang 34 tahun. Sultan dilahirkan pada tanggal 16 Sya'ban tahun 1258 H/1842 M. Ibunya meninggal dunia pada saat Sultan Abdul Hamid baru berusia 10 tahun.
Sultan Abdul Hamid mendapat pendidikan reguler di dalam istana. Di bawah bimbingan orang-orang yang sangat terkenal di zamannya, baik secara ilmu atau pun akhlak. Dia belajar bahasa Arab dan Persia, belajar sejarah, sangat senang terhadap sastra, mendalami ilmu tasawuf, dan mengarang beberapa syair dalam bahasa Turki.
Baca juga: Armada Laut Utsmani Kian Perkasa Setelah Taklukkan Konstantinopel
Setelah dilantik menjadi Khalifah, Sultan Abdul Hamid mengangkat Medhat Pasya sebagai Perdana Menteri. Kemudian pada tanggal 23 Desember 1876 M sang perdana menteri itu menetapkan undang-undang yang menjamin kebebasan sipil dan menetapkan pemerintahan dengan sistem parlemen.
Undang-undang ini mengatur, bahwa parlemen terdiri dari dua Majelis: Majelis Perwakilan/Utusan dan Majelis Tokoh Pembesar (Senator).
Di awal masa pemerintahannya, Sultan harus berhadapan dengan kediktatoran para menteri dan kekerasan politik pembaratan yang dipimpin oleh kelompok Utsmani Baru, yang terdiri dari kalangan terpelajar yang sangat terpengaruh oleh Barat.
Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan
Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil dibentuk oleh gerakan Freemasonry untuk menjadi budak mereka dalam rangka merealisasikan target yang ingin mereka capai. Tingkat kediktatoran para menteri ini terlihat, di mana Medhat Pasya yang saat itu menjadi pimpinan kelompok Utsmani Baru, menulis surat pada Sultan Abdul Hamid di awal pemerintahannya (1877 M) yang berbunyi demikian;
Lihat Juga :