Kisah Hagia Sophia dan Sultan Muhammad Al-Fatih

Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel

loading...
Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel
Pasukan Usmaniyah. Foto/Ilustrasi/Ist
DALAM rangka menyambut datangnya penaklukan umum, pada hari Ahad tanggal 18 Jumadil Ula 857 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1435 M, Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan wejangan kepada pasukannya untuk khusyuk, membersihkan diri, mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan salat dan amal-amal kebaikan lain. (Baca juga: Meriam Raksasa Andalan Sultan Muhammad Al-Fatih)

Dia juga memerintahkan agar para mujahidin banyak berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, dengan harapan semoga Allah memudahkan penaklukkan kota. Semangat ini tersebar luas di kalangan kaum muslimin.

Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah memaparkan pada hari itu juga, Sultan melakukan kunjungan langsung ke pagar-pagar pembatas kota dan dia ingin mengetahui kondisi terakhir pasukan.

Dia juga mencari tahu sejauhmana kondisi para pasukan musuh yang menjaga pagar-pagar kota di berbagai titik. Kemudian dia menentukan titik mana saja yang akan menjadi sasaran penyerangan pasukan Utsmani.



Dia memeriksa kondisi pasukan dan memberikan semangat untuk selalu rela berkorban dalam memerangi musuh. Selain itu dia mengutus utusan ke warga Galata, yang saat itu bersikap netral, agar mereka tidak ikut campur konflik antara Turki Utsmani melawan Byzantium. Sultan juga berjanji akan mengganti semua kerugian yang diderita akibat perang itu.

Pada sore hari, tentara Utsmani menyalakan api yang begitu tinggi membumbung di sekitar markas mereka. Kobaran api diliputi oleh suara-suara penuh semangat pasukan Utsmani dalam mengumandangkan tahlil dan takbir.

Peristiwa ini membuat orang-orang Romawi berpikir bahwa api telah berkobar besar di markas pasukan Utsmani. Mereka mengira, pasukan Utsmani telah melakukan pesta kemenangan sebelum penyerangan. Satu hal yang menimbulkan rasa takut yang demikian besar di dalam dada pasukan Romawi.



Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
halaman ke-1 dari 5
cover top ayah
اِنَّمَا التَّوۡبَةُ عَلَى اللّٰهِ لِلَّذِيۡنَ يَعۡمَلُوۡنَ السُّوۡٓءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوۡبُوۡنَ مِنۡ قَرِيۡبٍ فَاُولٰٓٮِٕكَ يَتُوۡبُ اللّٰهُ عَلَيۡهِمۡ‌ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيۡمًا حَكِيۡمًا
Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya pantas bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

(QS. An-Nisa:17)
cover bottom ayah
preload video