Wawasan Al-Qur’an: Haruskah Seni Suara Islami Itu Mesti Berbahasa Arab?
Minggu, 26 Juli 2020 - 05:00 WIB
loading...
Islam, melalui sumber utamanya Al-Quran, bahkan melukiskan dengan sangat indah, kelemahan-kelemahan manusia; gejolak nafsu berahi pun ditampilkannya. Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
APAKAH seni suara (nyanyian) harus dalam bahasa Arab? Ataukah harus berbicara tentang ajaran Islam ? Dengan tegas jawabannva adalah: Tidak. Dalam konteks ini, Muhammad Quthb menulis.
"Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. 'Seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Boleh jadi seseorang menggambarkan Muhammad SAW dengan sangat indah sebagai tokoh genius yang memiliki berbagai keistimewaan.
Penggambaran semacam ini belum menjadikan karya seni yang ditampilkannya adalah seni yang Islami, karena ketika itu ia baru menampilkan beliau sebagai manusia, tanpa menggambarkan hubungan beliau dengan hakikat mutlak yaitu Allah SWT. Penggambaran itu tidak sejalan dengan pandangan Islam menyangkut manusia." (Baca selengkapnya Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah. hlm. 119).
Baca juga: Wawasan Al-Qur'an: Ini Ayat-Ayat yang Jadi Dalil Larangan Seni Suara
Prof M Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat menjelaskan Anda boleh memilih objek dan cara menampilkan seni. Anda boleh menggambarkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat di mana Anda berada. Anda boleh memadukannya dengan apa saja, boleh berimajinasi karena lapangan seni Islami adalah semua wujud. Tetapi sedikit catatan, yaitu jangan sampai seni yang Anda tampilkan bertentangan dengan fitrah atau pandangan Islam tentang wujud itu sendiri.
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (1)
“Jangan sampai, misalnya pemaparan tentang manusia hanya terbatas pada jasmaninya semata atau yang ditonjolkan hanya manusia dalam aspek debu tanahnya, tidak disertai dengan unsur roh Ilahi yang menjadikannya sebagai manusia,” tutur Quraish.
Jika catatan ini diindahkan, menurut Quraish, maka pada saat itu pula, seni telah mengayunkan langkah untuk berfungsi sebagai sarana dakwah Islamiyah.
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (2-Habis)
Islam, melalui sumber utamanya Al-Quran , bahkan melukiskan dengan sangat indah, kelemahan-kelemahan manusia; gejolak nafsu berahi pun ditampilkannya. Dan dirayunya pemuda yang ada di rumahnya? ditutupnya semua pintu amat rapat. Sambil berkata, inilah daku. Sesunguhnya dia telah bermaksud melakukan itu dan pemuda itu pun bermaksud ... Begitu sekelumit dari sisi kelemahan manusia yang diabadikan oleh Al-Quran dalam kisah Yusuf (QS 12: 23-24).
Baca juga: Jibril Sumpal Mulut Fira'un dengan Lumpur Ketika Akan Bersyahadat
Tetapi Al-Quran tidak larut dalam melukiskannya --karena ini dapat menghanyutkan, tetapi juga dia tidak berhenti sampai di sana. Karena itu baru aspek debu tanah manusia, kisahnya dilanjutkan dengan menggambarkan kesadaran para pelaku, sehingga pada akhirnya bertemu debu tanah dan ruh Ilahi itu pada sosok kedua hamba Allah itu.
Baca juga: Wawasan Al-Qur'an tentang Seni Lukis, Pahat, dan Patung
"Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. 'Seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni Islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan Islam tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan. Boleh jadi seseorang menggambarkan Muhammad SAW dengan sangat indah sebagai tokoh genius yang memiliki berbagai keistimewaan.
Penggambaran semacam ini belum menjadikan karya seni yang ditampilkannya adalah seni yang Islami, karena ketika itu ia baru menampilkan beliau sebagai manusia, tanpa menggambarkan hubungan beliau dengan hakikat mutlak yaitu Allah SWT. Penggambaran itu tidak sejalan dengan pandangan Islam menyangkut manusia." (Baca selengkapnya Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah. hlm. 119).
Baca juga: Wawasan Al-Qur'an: Ini Ayat-Ayat yang Jadi Dalil Larangan Seni Suara
Prof M Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat menjelaskan Anda boleh memilih objek dan cara menampilkan seni. Anda boleh menggambarkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat di mana Anda berada. Anda boleh memadukannya dengan apa saja, boleh berimajinasi karena lapangan seni Islami adalah semua wujud. Tetapi sedikit catatan, yaitu jangan sampai seni yang Anda tampilkan bertentangan dengan fitrah atau pandangan Islam tentang wujud itu sendiri.
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (1)
“Jangan sampai, misalnya pemaparan tentang manusia hanya terbatas pada jasmaninya semata atau yang ditonjolkan hanya manusia dalam aspek debu tanahnya, tidak disertai dengan unsur roh Ilahi yang menjadikannya sebagai manusia,” tutur Quraish.
Jika catatan ini diindahkan, menurut Quraish, maka pada saat itu pula, seni telah mengayunkan langkah untuk berfungsi sebagai sarana dakwah Islamiyah.
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (2-Habis)
Islam, melalui sumber utamanya Al-Quran , bahkan melukiskan dengan sangat indah, kelemahan-kelemahan manusia; gejolak nafsu berahi pun ditampilkannya. Dan dirayunya pemuda yang ada di rumahnya? ditutupnya semua pintu amat rapat. Sambil berkata, inilah daku. Sesunguhnya dia telah bermaksud melakukan itu dan pemuda itu pun bermaksud ... Begitu sekelumit dari sisi kelemahan manusia yang diabadikan oleh Al-Quran dalam kisah Yusuf (QS 12: 23-24).
Baca juga: Jibril Sumpal Mulut Fira'un dengan Lumpur Ketika Akan Bersyahadat
Tetapi Al-Quran tidak larut dalam melukiskannya --karena ini dapat menghanyutkan, tetapi juga dia tidak berhenti sampai di sana. Karena itu baru aspek debu tanah manusia, kisahnya dilanjutkan dengan menggambarkan kesadaran para pelaku, sehingga pada akhirnya bertemu debu tanah dan ruh Ilahi itu pada sosok kedua hamba Allah itu.
Baca juga: Wawasan Al-Qur'an tentang Seni Lukis, Pahat, dan Patung
Lihat Juga :