Ketika Tarekat Sufi Mengalami Radikalisasi
Rabu, 02 Agustus 2023 - 16:09 WIB
loading...
A
A
A
Brehmer menyebut, penyair nasional Persia, Hafez, sering memperingatkan dalam kritik tajamnya terhadap kemunafikan agama bahwa terlalu mudah untuk mengenakan jubah para Sufi dan mengadopsi cara bicara mereka dengan maksud untuk menyesatkan para pencari.
Keterasingan dari spiritual, budaya intelektual generasi sebelumnya
Penganiayaan politik terhadap kaum Sufi di tangan kaum fundamentalis dan modernis di banyak negara Muslim telah menyebabkan terputusnya rantai inisiasi para guru Sufi.
"Di banyak tempat, hal ini mengakibatkan distorsi ajaran atau hilangnya keaslian spiritual. Selain kelemahan dan jebakan manusia, para sufi dan syekh mereka kini menghadapi sejumlah tantangan lain," ujar Brehmer.
Kapitalisme global dengan janji keselamatannya dalam bentuk kebahagiaan dan kepuasan hampir sepenuhnya merasuki apa yang disebut "dunia Islam".
Keterasingan seluruh generasi dari budaya spiritual dan intelektual nenek moyang mereka merupakan tragedi yang merayapi masyarakat dari Afrika Barat hingga Asia Timur.
Brehmer mengingatkan, bagaimanapun, gerakan mistis dari Maroko ke Indonesia selalu menjadi tempat lahir sains dan seni rupa. "Saat ini, yang tersisa di banyak tempat hanyalah sedikit sisa-sisa zaman lampau," ujarnya.
Budaya kesenangan dan hiburan, yang sebagian besar diimpor dari Barat, telah mengakibatkan kurangnya kemauan untuk tunduk pada disiplin sekolah karakter Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi: Empat Syaikh Calon Hakim dan Noda Darah Sufi
Di sisi lain, banyak yang merasa terasing dari Islam yang kaku dengan dogma. Karena alih-alih pemahaman agama yang halus dan bernuansa yang melihat ke dalam, orang-orang saat ini mencari kepastian yang cepat. "Tren yang sebanding di Barat adalah penerimaan sains yang tidak perlu dipertanyakan lagi sebagai sesuatu yang mutlak yang telah dinaikkan ke tingkat agama," ujar Brehmer.
Kerinduan akan orientasi sederhana di dunia yang tidak setara dan tidak aman telah mendorong interpretasi ultra-ortodoks Islam seperti Wahhabisme dan Salafisme di banyak negara Muslim.
Keterasingan dari spiritual, budaya intelektual generasi sebelumnya
Penganiayaan politik terhadap kaum Sufi di tangan kaum fundamentalis dan modernis di banyak negara Muslim telah menyebabkan terputusnya rantai inisiasi para guru Sufi.
"Di banyak tempat, hal ini mengakibatkan distorsi ajaran atau hilangnya keaslian spiritual. Selain kelemahan dan jebakan manusia, para sufi dan syekh mereka kini menghadapi sejumlah tantangan lain," ujar Brehmer.
Kapitalisme global dengan janji keselamatannya dalam bentuk kebahagiaan dan kepuasan hampir sepenuhnya merasuki apa yang disebut "dunia Islam".
Keterasingan seluruh generasi dari budaya spiritual dan intelektual nenek moyang mereka merupakan tragedi yang merayapi masyarakat dari Afrika Barat hingga Asia Timur.
Brehmer mengingatkan, bagaimanapun, gerakan mistis dari Maroko ke Indonesia selalu menjadi tempat lahir sains dan seni rupa. "Saat ini, yang tersisa di banyak tempat hanyalah sedikit sisa-sisa zaman lampau," ujarnya.
Budaya kesenangan dan hiburan, yang sebagian besar diimpor dari Barat, telah mengakibatkan kurangnya kemauan untuk tunduk pada disiplin sekolah karakter Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi: Empat Syaikh Calon Hakim dan Noda Darah Sufi
Di sisi lain, banyak yang merasa terasing dari Islam yang kaku dengan dogma. Karena alih-alih pemahaman agama yang halus dan bernuansa yang melihat ke dalam, orang-orang saat ini mencari kepastian yang cepat. "Tren yang sebanding di Barat adalah penerimaan sains yang tidak perlu dipertanyakan lagi sebagai sesuatu yang mutlak yang telah dinaikkan ke tingkat agama," ujar Brehmer.
Kerinduan akan orientasi sederhana di dunia yang tidak setara dan tidak aman telah mendorong interpretasi ultra-ortodoks Islam seperti Wahhabisme dan Salafisme di banyak negara Muslim.
Lihat Juga :